
Paramita Berliana
Paramita Berliana
Nama yang selalu terngiang di ingatan Hafi.Lelaki itu sering melihat sekelebat bayangan wajah Mita.
Masih tidak percaya membuat kesepakatan konyol dengan Mita,lenyap sudah uang puluhan juta Hafi untuk hal yang sama sekali tidak dia rencanakan.Bagaimana pun juga Hafi menginginkan uang nya kembali tapi terasa mustahil jika Mita tidak bisa mengembalikan nya.
Ceklek!! Hafi langsung menoleh, Pintu kamar nya tidak terkunci,Riza menyembulkan kepala nya.
"Boleh aku masuk?"
"Ya tentu! masuklah Za!"
Meski saudara mereka tahu privasi masing-masing.Walau hanya kamar,tetap saja meminta ijin untuk masuk.
Riza masuk dan menutup pintu kembali.Melangkah mendekati Hafi di ranjang yang berukuran king size.
"Paramita Berliana itu sekretaris Ameer, bagaimana bisa kau mempunyai hubungan dengan nya?"
Hafi terkejut mendengar saudara kembar nya berbicara.Tidak habis fikir Riza berbicara seperti itu.
"Kau tahu dia kenapa tidak bilang dari awal?!"
Bicara nya mendadak nyolot kepada Riza.
"Mita maksud mu,aku tahu.Memang kenapa?"
"Kalau tahu kenapa kau pura-pura tidak mengenal?Dia gadis yang aku tolong tempo hari!"
Riza terkejut "Yang benar?penampilan nya sedikit nakal saat itu mana mungkin aku mengenalinya?!"
"Kau terlalu naif Za,hanya menilai penampilan nya saja.Kau tahu selain menjadi sekretaris dia punya profesi lain.Sebagai kekasih bayaran!"
Riza tertawa hambar,telinga nya tidak salah mendengar.Kekasih bayaran,
"Mana mungkin?Kalau yang di bawa si Marvin itu aku percaya jika gadis gampangan.Tapi kalau Mita,mana mungkin? Setiap pertemuan dengan Candra Corpuration dia sangat sopan"
"Itu karena beda profesinya.Kau ini benar-benar di buta kan akan penampilan"
Hafi melempar Bantul guling ke Riza yang tepat di sebelah nya.
"Tapi aku benar-benar malu ketika berita di sosial media itu beredar,dan ramai di bicarakan.Mereka tidak bisa membedakan kita.Aku sering dibuat bahan obrolan di manapun Fi"
"Ahh,itu sih derita lu aja!!!"
Riza memutar bola matanya jengah. Memiliki saudara kembar yang identik memang semenyenang kan itu, saat di bangku sekolah,Riza dan Hafi sering bertukar perlombaan Basket dan futtsall.
Para penonton sering terkecoh dengan penampilan mereka.Hanya segelintir orang saja yang tahu mereka bertukar peran.
Ada tanda lahir tapi tak terlihat karena berada di bagian tubuh yang sering di tutup.Bagian kaki lebih tepatnya.
.
__ADS_1
.
"Undaaa!"
"Assalamualaikum" senyum yang merekah di bibir gadis kecil di hadapan Mita,dari umurnya baru beberapa bulan Mina selalu di urus Ibu dan Mita.
Bagi Mita dia sudah seperti anak kandung nya sendiri.
"Sudah pulang nak?"
Ibu Dalilah,ibu Mita keluar dari pintu yang mengarah ke dapur.Wanita tua itu menerima sekantong plastik yang Mita berikan.
"Susu dan perlengkapan Mina Bu"
Ibu Dalilah mengerutkan keningnya
"Nak,apa kamu masih memiliki simpanan?Minggu ini jadwal kontrol Ibu,dan Pampers Mina habis"
"Tenang saja Bu,Ibu tinggal menyebutkan saja jumlahnya,nanti aku ambilkan!"
Dengan menggendong Mina di depan,Mita menjawab enteng pertanyaan Ibu nya.Bocah balita yang tertawa terbahak karena melihat wajah Mita yang terlihat oleh sehelai kain yang ditiup.
Selama Ibu Dalilah tidak pernah mendengar kabar yang tidak baik,beliau tidak akan menegur Mita.Entah dari mana uang yang anak nya dapat,beliau hanya tahu jika Mita bekerja menjadi sekretaris bos dengan gaji yang sangat banyak.
Di rumah hanya ada televisi dan ponsel jadul.Minim nya media yang Ibu punya membuat Mita aman,karena Ibu nya tidak mengetahui berita di luar sana.
Televisi setiap hari menayangkan acara kesukaan Mina dari negri Jiran,Ibu Dalilah sampai hafal alur cerita satu persatu demi menyenangkan Mina agar tidak rewel.
Mita menggeleng,mengikat rambutnya tinggi untuk bersiap bersih-bersih dan mandi sore.
"Oiya Bu,lusa Mina akan aku bawa main ya Bu.Boleh kan?"
"Kemana Nak?"
"Dikota ada sebuah mall besar yang baru di buka.Di sana menyediakan mainan untuk kalangan semua umur"
"Apa tidak mengganggu mu nanti nya?"
"Tentu saja tidak.Mina bocah balita,gadisku yang pintar!" Mita menggelitik Mina di bagian perut,hingga bocah itu tertawa dan terjungkal ke kasur.
"Kalau begitu ibu ikut ya?"
Mita langsung menoleh "Ahh jangan Bu!..Maksud ku ibu di rumah saja,nikmatilah waktu ibu dengan di temani mba Yati.Ibu bisa santai dan melakukan hal apapun.Aku pergi bersama teman kantor ku Bu.Mereka semua masih muda-muda.Umurnya di bawah ku semua.Aku takut nanti Ibu bosan dengan acara kami"
Penjelasan panjang Mita cukup untuk memberikan alasan kepada Ibunya.Padahal dia mempunyai rencana lain.
"Ya sudah.Bawalah Mina dan jangan lupa susu dan perlengkapan nya.Besok pasti dia akan membuat mu ke repotan!"
Mita hanya menanggapi dengan senyuman dan berlalu masuk ke kamar mandi karena hari telah petang.
.
.
__ADS_1
"Za.. Kau memiliki nomor ponsel Mita?"
Riza hanya menggelengkan kepalanya.Mereka sedang bermain PlayStation di ruang tengah.Biasanya setelah makan malam mereka berdiskusi suatu hal di ruang tengah.
Namun kali ini berbeda,Ara dan Fandi memilih di kamar,Inggira pergi bersama temannya.Daffin sedang mengerjakan tugas sekolah.
"Lalu bagaimana jika ada keperluan kantor?"
"Telfon kantor!"
Jawaban Riza terlalu malas untuk di dengar,satu dua kata dan singkat.
"Apa Sinta memilik nomor ponsel nya?"
"Tidak tahu!"
Lama-lama Hafi di buat kesal oleh saudara kembar nya sendiri.
"Riza,aku sedang bicara dengan mu.Kenapa kau malas-malasan untuk menjawab nya!"
"Ayyshhh,kau mengacaukan permainan ku! Jika bermain yang fokus yang benar.Kau tidak konsekuen Hafi!"
"Permainan mu tidak mutu.Aku bertanya kau menjawab asal!"
"Bertanya tentang Mita maksud mu? Mana kami tahu nomor ponsel atau alamat nya sekalipun.Harus nya kau yang bertanya pada nya,bukan bertanya pada ku!"
"Ah sudahlah,aku malas bermain dengan mu!"
Hafi melempar stik PlayStation nya ke karpet yang tebal.
Bersamaan dengan langkah Hafi yang menaikki tangga.Mamah nya turun dari sana melihat ke dua anak nya dengan wajah yang kesal.
"Heii Hafi,kau kenapa?"
"Ngantuk mah!" Hafi berjalan gontai menuju kamar nya.
Giliran sudah dibawah Ara menghampiri Riza.
"Kenapa Hafi?"
"Hafi??..oh dia sedang jatuh cinta mah,makanya bawaan nya uring-uringan dan senewen"
Menjawab asal-asalan adalah tabiat Riza.Malas untuk menjelaskan sesuatu.Semua nya dia anggap tidak menarik jika bukan hal yang menantang.Tapi jika hal yang serius,Riza ada di barisan paling depan.
Tak heran untuk Ara,sering melihat kedua anak laki-laki yang sudah matang usia nya berkelahi atau berselisih pendapat.
.
.
.
to be continue
__ADS_1