TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 59 Pejantan


__ADS_3

Tiga hari Mita berbaring terus di ranjang yang besar dan super nyaman.Seorang dokter sedang mengoles obat anti septik di beberapa luka yang ada di punggung tangan nya.


Bibirnya tersenyum,mata nya melihat Mina yang sedang bermain di sebelahnya.Mina sempat kehilangan Mbak sus beberapa hari,dan digantikan oleh Inggira yang sering menemaninya.Gadis itu berubah menjadi sangat dewasa karena harus extra sabar menghadapi Mina.


Hari ini Inggira ada meeting bersama teman seprofesinya,gedung yang dia rencanakan di pinggir jalan akan segera dibangun menjadi mall besar dan khusus untuk khalayak ekonomi menengah kebawah.


Menjual berbagai macam sembako dengan harga yang sangat murah,dan khusus hanya masyarakat setempat yang boleh berbelanja disana.Terdengar sangat aneh namun tidak bagi keluarga Fandi.


Mengingat Besannya yang sudah tiada,beliau hidup dengan Mita dan Mina hanya dengan seadanya,tapi beruntung dengan Mita yang mempunyai keahlian dan berfikiran luas sehingga mampu menopang beban keluarga nya.


Mina asik dengan mainan kesukaan nya,boneka dengan dress warna warni seperti rambutnya.Mainan itu dia dapat dari Inggira.Menemani Mita di dalam kamar,Hafi sementara sedang keluar karena istrinya menginginkan sesuatu dari semalam.


"Sudah Nona!" Seiring dengan tangan Mita yang terlepas dari genggaman dokter,pintu terbuka tampak Hafi dari sana.


Bukan hanya Mita yang menoleh,Mina pun sama halnya.Gadis balita itu sangat riang,menampakkan gigi putihnya yang sudah rapih dan banyak.


"Duh Mina,nunggu Unda yaaa..pintar sekali!" Satu kecupan dari Hafi di pipi gembul Mina.


Beralih ke istrinya,Hafi pun sama mencium kening Mita.


Menoleh ke dokter yang sedang merapihkan peralatan nya.


"Sudah Dok?"


Dokter pun mengangguk "Sudah,infusnya sudah bisa di lepas.Luka-luka nya sudah mulai mengering,beberapa bekas nya sudah hilang.Sebaiknya jangan meminum yang berkadar soda karena tidak baik untuk kandungan!"


Mendengar itu,Hafi menoleh ke Mita


"Soda!!?" Hafi menatap kembali kepada Dokter yang belum keluar dari sana.


"Oh maaf,tadi Nona yang bertanya pada saya.Saya kira cukup,dan saya mohon undur diri!" Dokter pun mengangguk dan pergi dari sana!.


"Soda? Kau ingin membunuh anak kita?"


Mata Hafi menatap tajam pada Mita.


"Bukan begitu, tenggorokan ku terasa tidak enak beberapa hari ini.Kadang rasa nya juga pusing,mungkin dengan segelas soda akan kembali pulih meski hanya sedikit!"


"Tidak! Tidak ada soda dan minuman berkarbonasi.Kita belum mengecek kandungan mu.Kita tidak tahu bagaimana keadaan nya! Jangan membuat anak ku dalam bahaya Mita!"


Mita berdecak "Aku ibunya,jangan lupa itu!"


Hafi hanya berdehem.


"Mana pesanan ku?"


"Nanti mbak Sri kemari mengantar nya!"


Mita pun tertawa senang,makanan yang di inginkan segera datang di hadapannya.Senyum di bibirnya mendadak berhenti ketika melihat Mina sudah tergeletak memegangi boneka atom itu.


"Astaga,cepat sekali dia tertidur!"

__ADS_1


Hafi yang mendengar pun menoleh ke Mina.Dan benar gadis balita nya sudah tidur.


"Biar aku saja yang memindahkan!"


"Jangan!! Biar disini saja,lagipula aku tidak merasa terganggu oleh nya dan mungkin Mina merindukan ku juga!"


"Kita pindah kan Mina saja ya.Aku ingin meminta sesuatu darimu!"


Kening Mita berkerut "Nanti tunggu mbak Sri untuk menidurkan Mina di kamar nya."


Hafi pun mengangguk.Tak berselang lama mbak Sri muncul,namun hanya dibolehkan di depan pintu saja,karena semua penjagaan sekarang lebih ketat,kecuali dokter,itu pun harus cek body dahulu sebelum masuk.


Hanya Mita yang nyawanya terancam,yang lain tidak atau belum mereka pun tidak tahu.


Memberikan Mina dan menerima nampan yang dibawa mbak Sri.Hafi menutup pintu kembali dan meletakkan nampan di meja yang ada di sana.


"Aku sudah bisa jalan!" Mita menepuk lengan Hafi karena suaminya ingin mengangkat tubuhnya.


"Jangan seperti ini! Aku hanya luka dan bukan lumpuh Hafi!!"


Bukan marah dengan ke sensitif fan Mita, Hafi semakin gemash dengan istri nya.Hafi masih saja mencoba menopang berat badan Mita.


"Hafi!!"


Hafi pun tergelak,dan semakin mencubit ujung hidung Mita.


"Ahhsss sakit!! Minggir aku bisa jalan sendiri,aku hanya luka bukan lumpuh,kau tidak mendengar nya?"


Bukan menjadi baik,sorotan mata Mita semakin tajam pada suaminya.Tidak bisa di gombalin dan susah di bujuk.


Mita duduk di sofa dengan di depannya sepiring nasi dan seekor ayam pejantan yang dibakar dan dibumbui bak ayam madu yang sedang tenar.


Belum juga menyicipi,namun bibirnya sudah mengecap berkali-kali.Membayangkan rasanya yang sangat nikmat.


"Sabar ya nak!" Mita mengelus lembut perut nya.Dan Hafi melihat itu,bibirnya tersenyum merekah,sangat bahagia.


"Sabar ya nak!" Ternyata Hafi juga mengelus perut,persis seperti yang dilakukan Mita.


Istrinya pun melirik "Apasih,gak kreatif!"


Hafi semakin tertawa dibuat nya.Mita manja,banyak kemauan,tapi sensitif juga.Entah apa yang di lakukan Hafi selalu salah.Namun jika tidak melihat suaminya,dia akan uring uringan tidak jelas,dan setelah itu semua di salahkan.


.


.


.


Piring sudah bersih,makanan tak tersisa.Hanya tulang yang masih tersisa di sana.


"Kamu lapar atau doyan sayang?"

__ADS_1


"Aku pengin,bukan lapar atau doyan!"


Hafi dengan telaten membersihkan tangan Mita dari bekas ayam dan nasi yang menempel.


"Setelah ini ganti baju ya,Bajuku bau ayam gak enak!"


"Tapi kamu tadi memakan satu ekor.Bagaimana bisa bilang tidak enak?"


"Kalau dagingnya aku suka,kalau bau nya tidak!"


Hafi menggeleng


Ya terserah kau sajalah, suka-suka kau sajalah.Yang penting anak ku pun senang!


Berbicara dalam hati,mengikuti logat Batak.


Setelah mengganti baju dengan lingerie berwarna hitam,karena baju tidurnya hampir di tempat laundry semua,hanya yang tadi di pakai dan lingerie warna warni yang lain.


"Sengaja memakai seperti itu?" Mata Hafi membulat.


"Ini masih sore sayang!"


"Tapi aku ngantuk" Dengan cuek nya Mita mengibaskan kasur dan merebahkan tubuhnya.


Hafi mendekat dan mencoba merebahkan kepalanya di sebelah bahu Mita.


"Kamu kenapa wangi sekali?"


"Dari dulu aku wangi!" Mita menjawab nya ketus.


"Hei Paramita Berliana!! Aku menginginkan sesuatu darimu,masa tidak tahu"


Mita pun menoleh, "Aku tahu,tapi takut!"


"Pelan-pelan ya?" Wajah Hafi sudah berubah,seakan memohon dengan kerendahan hati.


Hafi mengangkat kepalanya dan mulai menciumi wajah istrinya.Menangkup wajah istrinya dan bibirnya mulai tertuju pada bibir Mita.Mengecup ngecup perlahan hingga memperdalam,dan membelit.Decapan sangat terdengar di ruangan itu.


"Aku takut jika terlalu cepat,kau akan puas lebih dahulu dan aku belum sampai!"


Mita mencengkram rambut Hafi,yang sudah mulai tidak sabar dengan permainan suaminya.


Akhhh pelan!!


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2