Terjebak Cinta Mr. Casanova

Terjebak Cinta Mr. Casanova
Sosok Ayu


__ADS_3

"Hai sayang" Rich sudah berdiri di depan pintu rumah Runi saat gadis itu baru turun dari kamarnya di lantai dua.


"Kakak sudah datang?" ia tidak menyangka kalau Rich akan datang lebih awal.


"Iya, dimana mama dan papamu?" Rich mencari keberadaan Dini dan Hendro.


"Mereka sudah berangkat tadi jam stengah enam sama om Surya, tante Tata, om Adhi dan tante Sekar. Memang ada apa kakak bertanya?" kata Runi.


"Ahhh tidak apa-apa, aku hanya ingin minta ijin mengajakmu sarapan dulu sebelum jalan, maukan?" pria itu berkata dengan senyum menawan.


"Ohhhh" Runi hanya ber oh ria.


"Lalu dimana Bas dan Adit?" sambil celingukan mencari dua ABG itu.


"Masih di rumah masing-masing lah kak, kan ini masih pagi sekali, kakak saja yang kerajinan datang dua jam lebih awal hehehehe" seharusnya mereka berangkat pukul delapan, namun Rich sudah tiba pukul enam.


"Kan aku memang sengaja, karena ingin mengajakmu sarapan dulu!" ia menekankan lagi niatnya sengaja datang lebih pagi.


"Ohhhh" lagi-lagi gadis itu hanya ber oh ria saja.


"Mereka mau ikut sarapan tidak?" Rich menanyakan Bas dan Adit lagi.


"Sebentar aku telpon dulu ya" meskipun rumah mereka saling berdempetan, namun dengan ukuran rumah-rumah tersebut yang begitu besar, maka Runi lebih memilih untuk menelpon saja dari pada harus berjalan melewati pintu penghubung di setiap rumah mewah itu.


"Sepertinya mereka belum pada bangun kak, soalnya telponnya tidak diangkat" Runi menebak-nebak.


"Ya sudah kita berdua saja dulu yuk, nanti mereka kita bungkusin aja" Rich memberi usul.


"Baiklah, sebentar ya kalau begitu" Runi kemudian mengambil tasnya yang berada di dalam kamar.


..........


"Kau mau sarapan apa sayang?" Rich bertanya sambil mengendarai mobilnya.


"Apa saja terserah kakak" Runi tidak terlalu pemilih untuk urusan makanan.


"Tapi aku maunya kau yang pilihkan!" Rich merajuk seperti anak kecil. Meskipun belum memperjelas statusnya, namun Rich sudah memperlakukan Runi layaknya seorang pacar.


"Kalau bubur ayam saja bagaimana?" karena tidak tau harus makan apa, akhirnya gadis itu memberi usul menu sarapan favoritnya.


"Oke, dimana tempatnya?" tanya Rich lagi sambil menengok sesaat ke arah Runi.


"Kalau di danau kejauhan tidak? disitu ada langganan aku dan Menta jika kami sedang olahraga pagi bersama" jawab Runi.


"Baiklah, sesuai dengan harapan tuan putri" pria dengan julukan casanova itu kemudian melajukan kendaraannya ke arah danau yang berada tepat di tengah komplek perumahan mewah mereka.


"Ayo" Rich yang sudah turun dari mobil meraih tangan Runi dan mengaitkan jari-jari mereka.

__ADS_1


"Eh iya" gadis itu terkejut saat tiba-tiba Rich bertingkah layaknya seorang pacar sungguhan.


"Dimana kiosnya?" pria itu mengedarkan pandangannya.


"Itu disana" tunjuk Runi kearah gerobak yang berada tepat di bibir danau.


"Oke yuk" katanya kemudian sambil mempererat genggamannya.


"Bang Udin dua mangkok ya" Runi langsung memesan.


"Eh eneng cantik, siap neng" sang pedagang menyapa Runi yang memang sudah penjadi pelanggannya.


"Ini neng pesenannya" tidak berapa lama dua mangkok bubur ayam sudah tersaji di meja mereka.


"Makasih bang Udin" kata Runi dengan sopan setelah menerima pesanannya.


"Sama-sama neng, eh kok tumben gak sama neng cantik yang satunya lagi?" sang pedagang bertanya sambil menatap heran ke arah Rich.


"Oh Menta sekarang udah kuliah di luar negri bang" jelas gadis lugu itu.


"Wahhhh hebat euyy" kata pedagang itu dengan salut.


"Ya sudah neng, abang kesana dulu ya, ada yang dateng lagi tuh" kemudian berpamitan.


"Makasih bang" Runi kemudian segera menyantap bubur ayam tersebut.


"Hai Kak Runi" seorang anak kecil menyapa Runi.


"Hai Siti, apa kabar?" Runi menyapa seorang gadis remaja berusia empat belas tahun yang sedang berkeliling menjajakan kue donat gula.


"Kabar baik kak, kakak lagi sarapan ya kak?" tanya gadis itu.


"Iya, Siti sudah sarapan belum? yuk kita sarapan bareng" Runi mengajak gadis itu duduk di sebelahnya.


"Eh jangan kak, nanti ganggu, aku udah makan donat kok tadi" Siti adalah salah satu gadis berprestasi di sekolahnya yang mendapatkan beasiswa dari perusahaan Putra Angkasa.


"Ihhhh gak boleh gitu, pamali loh nolak rejeki!" sambil menarik tangan gadis itu.


"Bang Udin satu mangkok lagi ya" kemudian Runi berteriak memesan bubur lagi.


"Siap neng" sahut sang pedagang.


"Nah ini" tidak lama kemudian pesanan pun tiba.


"Makasih bang Udin" Runi dan Siti berkata serentak.


"Sama-sama" jawab Bang Udin sambil senyum.

__ADS_1


"Yuk dimakan" Runi mempersilahkan Siti untuk makan.


"Makasih ya kak Runi, kakak baik banget deh, aku jadi gak enak kalo setiap ketemu kakak pasti ditraktir terus" kata gadis itu sungkan.


"Apa sih, cuma bubur aja kok" ia memang terkenal dermawan oleh orang-orang disekitar danau.


"Oya kok kak Menta gak ikut sih tumben? trus kakak ini siapa? pacar kak Runi ya?" Siti yang melihat Rich baru sadar dengan keberadaan pria itu.


"Ohhh ini kak Rich, temennya aku, kalo Menta sekarang sudah kuliah di luar negri, mungkin lima tahun lagi baru pulang" jawab Runi.


"Wahhhhh asik banget pasti seru bisa kuliah" Siti merasa senang mendengarnya.


"Siti juga bisa kok kalo pinter, nanti kan bisa ngajuin beasiswa" mencoba membesarkan hati gadis itu.


"Amin, mudah-mudahan ya kak" doa Siti.


Setelah selesai sarapan mereka pun mengobrol sejenak, tidak lupa Runi memborong donat gula dagangan Siti agar gadis itu tidak perlu bersusah payah lagi berjualan sampai siang.


..........


"Kamu ternyata lumayan terkenal juga ya di danau" Rich memuji Runi.


"Enggak juga sih kak, cuma beberapa aja yang memang sering aku datengin kiosnya" Runi menjawab apa adanya.


"Apa setiap kamu datang dan ketemu Siti selalu memborong dagangannya begini?" Rich heran dengan tingkah Runi yang membeli semua dagangan gadis itu tanpa sisa.


"He em" angguknya santai.


"Buat apa? ini kan banyak banget!" pria itu tidak habis pikir.


"Ya kan bisa dibagi-bagi nanti sama yang kerja di rumah" biasanya Runi dan Menta memang selalu melakukannya tanpa berfikir panjang.


"Tapi ini kan banyak banget sayang" Rich masih belum habis pikir dengan sikap Runi.


"Kakak tau tidak berapa keuntungan bersih Siti jualan donat satu box plastik tadi?" tanya Runi dengan tatapan serius.


"Berapa?" Rich clueless.


"Hanya sekitar dua puluh hingga tiga puluh ribu saja, itu kalau laku semua, kalau tidak ya bisa dibawah itu. Itu pun dia harus keliling seharian dulu loh kak di danau hanya untuk menghabiskan dagangannya. Hidupnya sangat berat kak!" jelas Runi dengan wajah serius.


"Makanya aku selalu memborong semuanya kalau ketemu dia, ya itung-itung ngelancarin rejeki orang kak. Lagian nanti yang makan donatnya di rumah juga pasti seneng deh kecipratan rejeki makanan, trus donatnya juga enak loh kak, empuk dan gurih. Ya intinya kalau kita berbuat baik, pasti kebaikan yang lain akan menghampiri kita kelak heheheheh" lanjutnya seperti seorang dosen yang sedang menjelaskan materi pelajaran ke mahasiswanya.


"Selain cantik wajah, sayangku ini ternyata juga cantik hati ya" Rich memuji Runi sambil mengelus kepalanya lembut, membuat sang gadis merah merona karena malu.


"Apa sih kak, mujinya berlebihan banget" gadis itu salah tingkah.


"Enggak kok, serius, aku kagum banget" kali ini Rich berkata jujur tanpa gombalan. Ia yang selama ini mengenal Runi hanya sekilas saja dari permukaannya, baru mengetahui bahwa gadis itu memiliki sisi lain yang sangat mengagumkan. Ia tiba-tiba saja melihat sosok Ayu sang mommy yang dermawan di dalam diri Runi.

__ADS_1


"Terima kasih" Runi pun merasa senang dengan pujian itu.


__ADS_2