
"Runi" Rich mengirimkan pesan teks.
"Ya kak" balas gadis itu.
"Kau mau pulang jam berapa hari ini?" tanyanya to the point saat mereka sedang bekerja.
"Ini aku sudah mau pulang kak" Runi membalas lagi.
"Mau tidak kalau pulang bareng sama aku?" sejak Runi menyatakan bahwa gadis itu tidak marah kepada dirinya dan mau membantu untuk melakukan pendekatan dengan Chela, kini Rich menjadi lebih percaya diri untuk bisa kembali membangun hubungan yang sempat hancur dengan gadis pujaannya itu. Meskipun mungkin tantangannya akan lebih berat karena kini ia memiliki Chela dan entah bagaimana perasaan kedua orang tua Runi saat mengetahui aibnya itu, namun setidaknya dengan sikap Runi yang bisa memaklumi keadaannya, membuat Rich bertekad untuk bisa menjadi pria yang lebih baik lagi kedepannya.
"Tapi aku kan bawa mobil sendiri kak, bagaimana dong?" putri angkat Surya itu bingung.
"Tenang saja, nanti biar aku minta tolong seseorang untuk mengantarnya ke rumahmu, kau tinggal berikan saja kuncinya kepadaku" kata Rich.
"Emmm begitu ya? ya sudah deh boleh kalau begitu!" pada akhirnya Runi menyetujui ajakan pulang bersama Rich.
"Oke, kalau begitu aku ke ruanganmu sekarang juga ya" pria itu langsung beranjak dari kursi kerjanya tanpa menunggu balasan Runi.
Tok Tok Tok...
Rich mengetuk ruang kerja tim Putra Angkasa yang berada satu lantai dengan ruangannya, saat Runi, Burhan dan Haris harus bekerja dengan tim perusahaan Anderson di kantor pusatnya.
"Runi ayo!" Rich melongokkan kepalanya saat ketiga orang kepercayaan Surya itu masih berada di kursinya masing-masing.
"Eh kalian mau kemana?" Haris yang melihat perubahan sikap Rich yang terlihat lebih ceria kemudian bertanya.
"Mau pulang lah, memang mau apa lagi?" Runi menjawab sambil merapikan tas laptopnya.
"Masa? mau pulang apa mau pulang?" Burhan menggoda keduanya.
"Mau tau saja kalian ini!" Rich menjawab sambil mengulum senyumnya saat melihat wajah Runi merah padam bak kepiting rebus.
__ADS_1
"Cie cie cie cieeeee" Burhan malah semakin menggoda.
"Ayo sayang kita jalan, jangan dengarkan mereka lagi!" Rich kemudian meraih tangan Runi.
"Cieeee sayangggggg" Haris berteriak histeris karena mendengar Rich memanggil Runi dengan sebutan sayang. Rasanya sudah lama sekali sejak hubungan mereka sempat merenggang, Rich tidak mengucapkan kata itu kepada gadis yang selalu dia kejar-kejar sejak di desa dulu.
"Hussss brisik!" Rich pura-pura menghardik, padahal hatinya benar-benar berbunga-bunga.
"Ahahahahahahahah" tawa kedua orang kepercayaan Surya itu pun pecah mengiringi kepergian keduanya. Karena mereka sudah cukup akrab sejak mengerjakan proyek di desa, maka baik Burhan maupun Haris tidak ada yang merasa sungkan lagi untuk menggoda keduanya yang notabene secara jabatan berada diatas mereka.
"Kak lepaskan tangannya, aku malu!" Runi tidak bisa menutupi rasa malunya saat mereka berjalan beriringan di lorong ruang kerja para direksi dengan tangan Rich yang menggenggam tangannya.
"Memangnya kenapa mesti malu?" pura-pura polos.
"Ini kan di kantor!" masih berusaha melepaskan tangan Rich.
"Lalu?" pria itu tetap tidak bergeming.
"Ya tidak enak saja nanti dilihat sama orang banyak" kata Runi.
"Issshhhh kau itu benar-benar ingin mengerjai aku ya?" akhirnya menyerah karen tangan Rich begitu kuat menggenggamnya.
"Aku bukan mau mengerjaimu, aku hanya ingin menjaga milikku agar tidak diambil orang lain!" ia mempertegas maksudnya.
"Ck, dasar!" wajah Runi makin terlihat merah merona karena malu.
"Selamat sore tuan Rich dan nona Runi" salah satu sekertaris direksi yang masih duduk di kursi kerjanya menyapa mereka.
"Selamat sore" jawab keduanya bersamaan.
"Sudah mau pulang ya?" sekertaris yang lain bertanya.
__ADS_1
"Iya" angguk Runi malu-malu karena Rich malah terlihat lebih posesif.
"Hati-hati di jalan ya nona dan tuan" kata yang lainnya lagi.
"Terima kasih" angguk Rich sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam lift khusus.
Karena meja kerja para sekertaris berada tepat di depan lorong yang menghubungkan antara ruang-ruang kerja para petinggi perusahaan dan lift, maka bisa dengan mudah bagi mereka untuk melihat aktivitas atasannya yang terlihat mencolok itu. Mereka semua pun tersenyum penuh arti saat melihat Runi dan Rich bergandengan tangan. Seolah mereka ingin berkata "wah ada gosip baru nih!". Bisik-bisik diantara para sekertaris itu pun tak bisa dihindari lagi. Meskipun banyak yang mendukung, tapi ada juga yang merasa kasihan sama Runi karena mendapat "barang bekas" yang sudah "berbunga" pula.
..........
"Kak kenapa belum dilepas sih?" Runi mulai protes saat pintu lift sudah tertutup.
"Nanti saja saat mau masuk ke dalam mobil" jawab Rich dengan enteng.
"Tapi nanti di lobby kan akan lebih banyak orang lagi!" gadis itu tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh para karyawan jika melihat mereka bergandengan tangan seperti ini. Sudah cukup tadi dirinya merasa malu karena para sekertaris direksi menatapnya dengan penuh arti.
"Malah bagus kan, jadi mulai sekarang mereka akan tau siapa yang harus dihadapi jika mereka mengganggumu!" lagi-lagi menjawab sesukanya.
"Ih kau ini benar-benar menyebalkan kak!" kali ini Runi meninju lengan Rich dengan tangannya yang bebas.
"Awww sakit sayang!" Rich pura-pura meringis kesakitan, padahal tinju gadis itu sama sekali tidak sakit.
"Bodo amat!" jawabnya dengan cuek.
Tringggg...
Pintu lift terbuka dan mereka berjalan menuju tengah lobby. Seperti yang dibayangan oleh Runi, semua mata kini tertuju pada mereka.
"Tuh kan kak, mereka melihat kita!" Runi mencoba menarik tangannya lagi.
"Abaikan saja" Rich malah dengan bangganya berjalan bersama.
__ADS_1
"Benar-benar kakak menyebalkan!" kini ia sungguh-sungguh menggerutu karena sebal, namun Rich tetap tidak menghiraukannya sama sekali.
Setelah Rich berbicara sebentar kepada satpam kantor yang sedang berjaga untuk minta bantuannya mengantarkan mobil Runi ke rumah gadis itu, lalu mereka pun menuju tempat parkir mobil para petinggi perusahaan itu.