
Setelah pulang dari rumah sakit Runi disarankan untuk beristirahat beberapa hari oleh dokter agar kondisinya benar-benar pulih. Sementara itu Surya yang sangat menyayanginya seperti putri sendiri pun kemudian merekomendasikannya untuk bekerja dari rumah saja secara online sampai nanti waktunya melahirkan dan bayinya sudah cukup besar untuk bisa ditinggal bekerja ke kantor. Meskipun awalnya Runi menolak karena ia tidak begitu suka jika harus berdiam diri saja di rumah, namun ia terpaksa mengikuti semua aturan itu demi bayi yang sudah ia dambakan selama ini. Untung saja ia memiliki kakak-kakak ipar perempuan yang sangat menyayanginya, sehingga dirinya tidak merasa begitu kesepian karena mereka sering mengunjunginya dan menjadi teman ngobrol yang seru.
"Ngomong-ngomong bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Menta kepada Runi setelah sebelumnya mereka sibuk membahas tentang keinginan Menta untuk hamil lagi dan punya anak perempuan karena iri dengan kehamilan Runi.
"Aku sudah tidak apa-apa kok" jawab ibu hamil itu sambil rebahan di sofa bed ruang keluarga di rumahnya.
"Apa kau tidak ingin makan sesuatu gitu?" tanya Gaby penasaran.
"Emmmm sebenarnya sih ada kak, tapi sepertinya akan sangat mustahil" meskipun sempat sangat ngiler, namun Runi hanya menahannya dalam hati.
"Kau mau apa? ayo cepat katakan!" Rach bersemangat.
"Kemarin waktu aku menonton kanal TV online, ada liputan kuliner tentang botok tawon, sepertinya sangat enak, tapi kan mustahil, di kota besar seperti ini mana ada makanan seperti itu!?" katanya dengan nada kecewa.
"Woahhh ngidammu luar biasa!" Sera bertepuk tangan riang.
"Sini mana ponselmu? berikan padaku sekarang juga!" Rach meminta Runi menyerahkan ponselnya.
"Untuk apa?" Runi bingung.
"Untuk menelpon suamimu lah, memang untuk apa lagi?!" Sera yang menjawab.
"Tapi untuk apa menelpon dia?" masih bingung.
__ADS_1
"Ya tentu saja minta dia mencarikannya untukmu!" Menta gemas karena Runi terlalu polos.
"Mau cari dimana?" Runi membayangkan wajah suaminya yang kebingungan karena tidak tau harus mencari kemana.
"Terserah dia saja, yang penting ngidammu tercapai!" kata Gaby dengan cueknya.
"Halo sayang, ada apa?" dengan mode loud speaker suara Rich terdengar sangat jelas dari sebrang telpon.
"Ayo cepat bicara!" Sera memberi kode kepada saudara iparnya agar menjawab suaminya.
"Bicara apa?" Runi bingung harus bicara apa dengan suaminya.
"Minta botok tawon!" Menta berbicara dengan bahasa bibir tanpa bersuara.
"Kau sedang ngidam sesuatu ya?" Rich yang sedang rapat dengan Raf langsung menatap kakak sepupunya itu dengan wajah pias.
"Iya, aku mau botok tawon sayang" jawab sang istri.
"Botok tawon!?" Rich yang bingung seolah meminta bantuan kepada Raf dengan tatapan matanya, sementara yang dimintai bantuan hanya mengangkat bahu saja karena sama bingungnya.
"Kau tidak bisa ya?" Runi takut-takut.
"Bi, bisa, aku bisa kok, kau tenang saja ya, nanti aku belikan untukmu" sesuai nasehat kakak laki-lakinya, Rich sudah berjanji kepada dirinya sendiri akan selalu menjawab bisa meskipun kenyataannya entah bisa atau tidak.
__ADS_1
"Ini katakan padanya!" Rach berbisik sambil menyodorkan ponselnya yang bertuliskan 'botoknya harus dibuat sendiri'.
"Tapi aku maunya kau yang buat sendiri, tidak mau yang beli jadi" Runi mengikuti perintah kakak iparnya.
"Eh buat sendiri?!" lagi-lagi Rich terkejut.
"Kau tidak mau ya?" ibu hamil itu bertanya lagi.
"Mau kok, aku mau, tapi kalau besok boleh tidak? kan aku mesti mempersiapkan bahan-bahannya dulu!" Rich meminta waktu untuk mencerna keinginan sang istri.
"Iya tidak apa-apa, sebisamu saja sayang" jawab Runi.
"Baiklah, nanti aku siapkan dulu bahan-bahannya ya" pria itu rasanya ingin pingsan saja.
"Oke, terima kasih ya sayang" wanita cantik itu senang karena sang suami mau menuruti ngidamnya.
"Iya sayang, sama-sama" jawabnya.
"Sampai nanti ya, bye" Runi kemudian menutup telponnya.
"Bye sayangku" Rich pun demikian.
"Hebat, aku bangga padamu!" Gaby tersenyum puas dengan ngidamnya sang adik.
__ADS_1
Sepanjang waktu berkumpul mereka di rumah Runi dan Rich, cucu-cucu perempuan keluarga Anderson pun kemudian mencoba memprediksi apa yang akan Rich lakukan untuk dapat mengabulkan ngidam istrinya itu.