
"Kenapa kau tertawa sendiri?" tanya Rich saat sang istri sedang melakukan chat dengan sahabat-sahabat masa SMAnya dulu.
"Ini aku dan Menta sedang menggoda Nora" jawab Runi sambil menunjukkan chatnya kepada sang suami.
"Dasar kau ini, jahil sekali sih" Rich mengelus kepala Runi dengan lembut.
"Sayang, besok aku, Menta dan Tia mau menemani Nora fitting baju pengantin di butik kak Sera, boleh kan?" Runi bertanya kepada suaminya.
"Jam berapa?" pria itu merebahkan diri di sebelah istrinya.
"Agak siangan gitu" jawabnya.
"Tapi jangan lama-lama ya, weekend kan seharusnya jatah waktumu untukku!" tidak terima jika ditinggal terlalu lama oleh sang istri.
"Iya sayang, habis fitting aku langsung pulang kok" angguk Runi.
"Oke baiklah" dengan terpaksa mengijinkan.
..........
Keesokan harinya,
"Kenapa ini terbuka sekali sih, aku jadi malu" Tia saudara sepupu Menta atau anak dari paman Tyo, sekaligus kekasih baru Noah kakaknya Nora, menjadi salah tingkah saat menatap dirinya di depan cermin.
"Ihhhh kakak ipar, apanya yang terbuka sih, ini tuh namanya model sabrina, memang begini potongannya" Nora menjelaskan kepada Tia.
"Tapi apa tidak terlalu vulgar?" kata gadis itu, padahal bajunya cukup sopan dan tidak terbuka sama sekali.
"Ini tidak vulgar kok, kalau kau hadir ke pesta di gedung-gedung mewah, ini tergolong sangat tertutup" Sera yang menjadi designernya meyakinkan gadis itu.
"Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan semua ini, nanti kalau kau menikah dengan kak Noah, kau pasti akan sering mengenakan gaun-gaun begini untuk pesta" Menta paham jika Tia belum terbiasa dengan gaya hidup glamor dikalangan konglomerat.
"Atau kau mau tukeran sama punyaku?" Runi yang memakain gaun dengan model one shoulder menggodanya.
"Itu malah lebih terbuka lagi" kata Tia kemudian.
"Nah ya sudah, kalau begitu mendingan yang itu kan?" kata Runi kemudian sambil menatap gaunnya sendiri didepan cermin.
"Atau mending kakak ipar pakai yang ini saja bagaimana? jadi kita besok hari H kembaran?" Nora menyodorkan gaun pengantin yang ada di dekatnya.
__ADS_1
"Sayang kau setuju tidak kalau kita menikah bareng sama kak Noah dan kak Tia?" Nora menatap calon suaminya yang sejak tadi mendengarkan interaksi para wanita di dalam butik milik Sera tersebut dalam diam.
"Why not?!" jawab pria itu dengan santai.
"Nah ya sudah, kalau begitu sekalian saja kau dan Nora menikah bersama!" Sera berseloroh.
"Ahhhhh aku setuju, begitu lebih baik, ya sudah kau pakai yang ini saja, cepat di coba!" Menta langsung mengambil gaun pengantin dari tangan Nora dan menyodorkannya kepada sang sepupu.
"Apaan sih? kalian kenapa aneh-aneh saja idenya!" Tia menolak.
"Halo kak, kau sedang dimana?" tiba-tiba Nora melakukan panggilan video kepada Noah.
"Aku sedang di rumah sakit, ada apa?" jawab Noah, pria yang dulu saat masa kuliah pernah mengejar cinta Menta, namun kini malah jatuh cinta kepada Tia sepupunya.
"Kak, kalau nanti kita menikah bareng, kau setuju tidak?" sang adik langsung saja nyeletuk.
"Nora!" Tia yang terkejut langsung menutup mulut calon adik iparnya dengan telapak tangan.
"Apa sih kakak ipar, aku sedang bicara sama kakakku tau!" Nora menjauh dari Tia dengan seringai jahil.
"Kak jadi bagaimana? kau setuju tidak kalau kita menikah pada hari yang sama?" tanya Nora lagi kepada Noah.
"Kau tenang saja kak, kami pastikan Tia akan setuju" Runi tiba-tiba muncul didepan layar.
"Lihatlah, ini gaun pengantinnya, nanti kak Sera yang akan membantu Tia untuk persiapannya lebih lanjut" kata Menta sambil menunjukkan gaun yang tadi ia rebut dari Nora.
"Wahhh cantik sekali, pasti kalau Tia yang pakai akan sangat cantik!" Noah memuji gaunnya.
"Nah berarti kau sudah setuju ya kita menikah bareng?!" Nora sangat bersemangat.
"Tentu saja!" angguk Noah dengan yakin.
"Eh tapi calon suamimu memangnya setuju?" tanya Noah lagi.
"Aku setuju kak!" teriak calon suami Nora.
"Ohhh oke, kalau begitu!" Noah jadi bersemangat.
"Oke kalau begitu, nanti malam kita diskusikan lebih lanjut ya kak, bye!" tanpa menunggu persetujuan Tia, Nora langsung saja memutuskan.
__ADS_1
"Sudah deal ya kakak iparku sayang!" Nora tersenyum penuh kemenangan.
"Noraaaaa!" Tia yang tidak punya daya hanya bisa pasrah.
"Tenang saja, nanti aku akan bantu bilang sama mama dan papa, mereka pasti senang kok!" Menta menepuk bahu gadis lugu itu.
"Iya, keluarga besar kita pasti dukung semua kok!" Runi pun mencoba meyakinkan Tia.
"Sudah sana cepat dicoba gaunnya, biar aku bisa bantu rapikan kalau masih ada yang kurang bagus" Sera kemudian membantu Tia mencoba gaun putih berbetuk petikut yang tadi dipilih oleh Nora untuk kakak iparnya itu.
Pada akhirnya Tia yang tidak punya kuasa apapun hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan mereka semua. Hanya satu hal yang dia yakin yaitu niat mereka semua adalah yang terbaik bagi dirinya dan juga Noah.
..........
"Sayang, aku pulang" Runi memanggil suaminya saat ia sudah berada di dalam kamar.
"Kau sudah pulang?" Rich tersenyum riang melihat wanita kesayangannya sudah tiba dengan selamat.
"He em, kau tau tidak, aku punya berita seru!" wanita cantik itu langsung menceritakan kejadian saat di butik tadi.
"Apa?" tanya pria itu sambil merangkul pinggang istrinya dengan posesif.
"Tadi kan sebenarnya aku, Menta dan Tia hanya mau mencoba gaun bridesmaid untuk pernikahan Nora, ehhhh trus Nora malah tiba-tiba mengajak Tia dan kak Noah untuk menikah diwaktu yang bersamaan!" bercerita dengan semangat.
"Oya?" Rich bertanya tapi dengan tetap sibuk menyentuh area favoritnya.
"He em, aku sangat senang, karena akhirnya mereka semua bisa memperoleh kebahagiaan yang selama ini mereka impikan. Terutama kak Noah dan Tia, kau tau kan bagaimana kak Noah dulu sempat patah hati karena Menta? lalu bagaimana kisah hidup Tia yang menyedihkan akibat ulah paman Tyo?" Runi berkata dengan sungguh-sungguh.
"Aku juga senang, senang sekali malah!" Rich berkata tapi dengan maksud yang berbeda dari sang istri.
"Sayang ihhhhh, kau ini tidak mendengarkan aku dengan sungguh-sungguh ya?" kesal karena Rich terus sibuk dengan mainan favoritnya.
"Aku mendengarkan kok, aku juga senang mereka akhirnya menikah, jadi sebentar lagi bisa seperti kita ini hehehehe" terkekeh dengan senyum penuh arti.
"Isssshhhh dasar otak mesum!" sudah paham dengan gelagat suaminya.
"Ayo sayang, aku sudah sangat rindu padamu, sejak tadi aku menunggumu pulang loh!" kini tangannya sudah tidak bisa dikondisikan dengan baik lagi.
"Ck!" akhirnya pertempuran pun terjadi sepanjang siang hari hingga malam.
__ADS_1