
"Gila!" Rich menggerutu sesaat setelah dirinya masuk ke dalam ruang rapat para petinggi perusahaan Anderson.
"Kau kenapa lagi?" Dimas kakak iparnya mengernyitkan dahi melihat mimik wajah sang mantan casanova itu.
"Biar kutebak, pasti ini ada hubungannya dengan ngidamnya Runi kan?" Raf yang belum lama ini juga mengalami penderitaan tersebut pun langsung bisa menebaknya.
"Huffffff" suami dari Runi itu mendesah sambil menghempaskan diri di kursi kebesarannya.
"Drama apa lagi sekarang?" Gamal menatap dengan penuh rasa penasaran.
"Runi minta dibuatkan peyek udang rebon, tapi udangnya harus ditangkap langsung olehku!" menjawab sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"No way, ngidam macam apa lagi ini!?" Gide ternganga-nganga karena tidak habis pikir.
"Plissss bantu aku, ini benar-benar sungguh gila bagiku!" Rich menatap semua kakak laki-lakinya dengan penuh permohonan.
"Kenapa sih wanita hamil itu selalu saja merepotkan?" Raf tersulut emosi.
"Tidak semua kok sebenarnya, dulu waktu Gaby hamil Diva tidak seperti itu lohhhh!" Dimas mengenang masa dimana sang istri tidak rewel dalam menjalankan proses ngidamnya.
__ADS_1
"Memang tidak seperti itu sebenarnya, banyak kok ibu hamil di luar sana yang ngidamnya normal-normal saja!" Gide menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan sang kakak ipar.
"Betul, ini semua terjadi karena mereka selalu berkomplot mengerjai kita, makanya ngidam ini terasa seperti neraka!" Gamal sependapat.
"Ya sudah tenang saja, kami akan membantumu kok!" Dimas menepuk bahu Rich tanda memberikan penguatan.
"Huffffffff" lagi-lagi Rich mendesah.
...***...
"Nah ini jaringnya kita tebar di sekitar sini" tunjuk seorang nelayan yang saat ini dimintai tolong untuk membantu mereka mencari udang rebon.
"Ini sudah dengan sekuat tenaga tau, jaringnya lumayan berat, kau coba saja kalau tidak percaya!" Rich menggerutu karena diprotes oleh sang kakak sepupu.
"Arrgghhh, itu apa yang merayap dibawah kakiku!?" Gide melompat-lompat diatas permukaan air laut yang dangkal.
"Ahhhh kau ini lemah sekali jadi laki-laki, masa hanya sama hewan kecil saja kau takut!" Gamal mencibir adiknya.
"Heyyy kenapa sih kalian ini kalau kerja selalu saja ribut? Ayo fokuslah biar pekerjaan ini cepat selesai dan kita bisa kembali pulang ke rumah!" Dimas yang melihat keempat adik iparnya bertengkar menengahi.
__ADS_1
"Iya, iya, maaf kak" Rich akhirnya melakukan tugasnya sesuai dengan arahan sang nelayan yang membantu mereka.
"Ayo masukkan ke dalam kotak ini" Raf membawa jaring berisi udang rebon yang masih hidup ke arah bibir pantai.
"Wahhhh lumayan banyak ya ternyata" Gide yang sebelumnya belum pernah memanen udang rebon terkagum-kagum.
"Sepertinya sudah cukup ya, ini bisa kita olah dan dikonsumsi oleh semua orang di rumah" Dimas tersenyum puas melihat hasil pekerjaan mereka.
"Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega" senyum terkembang di bibir Rich melihat udang-udang itu.
"Tapi ini masih perlu dimasak loh" Gamal mengingatkan proses selanjutnya.
"Oh my God!! Untung saja anakku kembar, jadi aku tidak perlu menghamili Runi lagi dan cukup sekali saja dia ngidam seperti ini!!" Rich menepuk keningnya.
"Apa kau yakin tidak mau menghamilinya lagi?!" Raf memicingkan mata.
"Ya melakukannya sih akan setiap malam, tapu aku akan tembak luar saja hehehe" terkekeh geli sendiri membayangkannya.
"Dasar otak kotor!" Raf mendorong kepala Rich.
__ADS_1
"Heyyyy dasar kakak tidak sopan!" keributan-keributan kecil pun tidak bisa dihindari sepanjang mereka semua mengeksekusi peyek udang rebon pesanan sang ibu hamil tersebut. Sementara itu ditepi pantai para istri dengan semangat membara menyaksikan suami masing-masing bekerja keras mewujudkan impian Runi.