Terjebak Cinta Mr. Casanova

Terjebak Cinta Mr. Casanova
Agak Sedikit Melunak


__ADS_3

Setelah menyelesaikan proyek di desa, kini Runi, Rich, Raf dan Menta mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke ibukota bersama Burhan, Haris, Karina dan Rini juga.


"Aku pasti akan merindukan suasana desa yang sejuk dan asri" kata Runi di hari terakhir mereka.


"Iya, aku juga" Menta malah berkaca-kaca karena sudah menganggap desa itu seperti tempat kelahirannya sendiri.


"Kalian jangan khawatir, kan kita punya bisnis di sini, jadi kapan pun kita rindu, kita bisa datang" Raf menenangkan istrinya yang hampir menangis.


"Benar, kalau kau mau, kita bisa kok datang lagi ke sini untuk berbulan madu setelah menikah nanti" Rich tetap tidak menyerah meskipun Runi belum memberikan respon positifnya.


"Apa sih kak!" jawabnya sambil geleng-geleng kepala.


"Barangnya sudah beres semua tuan, apakah kita sudah bisa berangkat sekarang?" Burhan berkata kepad Rich dan Raf.


"Sepertinya akan lebih baik kita jalan secepatnya supaya tidak terlalu malam sampai di ibukota" Haris mengingatkan mereka semua.


"Oke, jadi bagaimana ini formasi mobilnya?" tanya Raf.


"Aku akan bawa mobilku sendiri kak" jawab Runi.


"Ehhhh tidak bisa, mana boleh kau sendirian!" Menta melarang sahabatnya.


"Ya sudah Karina dan Rini ikut mobilku saja!" kata Runi kemudian dengan enteng.


"Ehem, maaf nona, bukannya saya pelit, tapi saya masih mau berduaan dengan Karina" Burhan tidak mau berpisah dari istri yang baru ia nikahi beberapa waktu lalu.


"Betul nona, kan kami masih pengantin baru, masa harus berpisah sih?" Haris juga tidak mau berpisah dari Rini istrinya.


"Ya sudah gini saja, Raf dan Menta di mobil mereka, Burhan dan Karina di mobil kantor, Haris dan Rini di mobil Runi, lalu Runi dan aku di mobilku, bagaimana?" usul Rich yang juga sengaja mengambil kesempatan untuk bisa berdua dengan Runi. Kebetulan saat itu memang terdapat empat buah mobil yang biasa mereka pakai yaitu mobil pribadi Runi, mobil pribadi Rich, mobil pribadi Raf dan mobil kantor Putra Angkasa yang biasa dipakai untuk oprasional kerja oleh Haris dan Burhan.


"Oke, sip" Raf setuju, jadi setiap supir ada temannya ya, minimal kalau terjadi sesuatu kan ada yang mendampingi.


"Iya aku setuju" Menta mengangguk.


"Kita jalannya konvoi kan?" Haris bertanya.


"Tentu saja, biar kedua tuan yang di depan, kita bagian belakang saja" kata Burhan kemudian.


"Oke, ayo kita jalan!" Rich bersemangat.


Setelah memastikan semua beres, mereka pun kemudian melajukan mobilnya meninggalkan desa menuju ke ibukota.


..........


Ciiiiiiiiittttt Brakkkkk...

__ADS_1


Tiba-tiba saja mobil Rich diseruduk oleh sebuah mobil yang berjalan dengan ugal-ugalan saat mereka berada di jalan bebas hambatan.


"Awwwwwwww" Kepala Runi terbentur bagian dashboard mobil.


"Kak, kak Rich, kak Bangun kakkkkk" Runi yang melihat Rich tidak sadarkan diri menjadi panik.


"Kakkkk bangun hiks hiks hiks" gadis itu menangis sambil mengguncang-guncangkan tubuh pria di sebelahnya.


"Runi, cepat buka pintunya!" Raf menggedor pintu mobil.


"Kak Raf, tolong kak Rich!" melihat ada yang datang Runi pun merasa lebih sedikit lega.


"Runi ayo keluar" Menta membantu gadis itu keluar dari mobil.


"Rich apa kau baik-baik saja!?" Raf panik ketika melihat adik sepupunya tidak sadarkan diri.


"Aku sedang pura-pura!" bisik Rich kepada Raf sambil membuka mata dan mengerling sejenak sebelum kemudian memejamkannya kembali.


"Astaga Rich, tidak, tidak mungkin, jangan pergi secepat ini Rich, jangan tinggalkan kami!" Raf yang paham arah permainan Rich pun kemudian ikut berdrama.


"Kak Rich!?" Runi langsung berlari menghampiri pria itu dengan spontan.


"Kak Raf ada apa dengan kak Rich?" menatap penuh tanda tanya.


"Diaaa,," jawaban Raf menggantung dengan ekspresi yang sulit ditebak.


"Kak Raf, kak Rich kenapa tidak bangun juga!?" Runi bertanya lagi kepada sepupu pria itu.


"Maaf Runi, diaaaaaa,," Raf patut mendapatkan apresiasi sebagai aktor pemeran membantu terbaik.


"Tidak, tidak mungkin, kak Rich bangun!!!" kaki Runi terasa tak bertulang.


"Kakkk jangan pergi aku mohon hiks hiks hiks" Runi histeris sambil memeluk tubuh yang mematung itu.


"Kak ayo bangun, jangan tinggalkan aku hiks hiks hiks" kata Runi dengan refleks dan pelukan yang semakin erat.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang" Rich menjawab sambil membalas pelukannya.


"Kakkkkkkk!?" Runi terkejut saat pria itu menjawab perkataannya.


"Iya sayang" senyumnya terkembang saat gadis itu menunjukkan sikap pedulinya.


"Kau menipuku!?" pukulan bertubi-tubi ia layangkan di dada bidang Rich.


"Awww sakit, awww sayang sakit hahahahaha" tawa lepas terdengar dari bibir mantan casanova itu.

__ADS_1


"Dasar penjahat hiks hiks" Runi berjalan menjauh dari Rich yang masih dalam posisi duduk di kursi kemudi.


"Sayang tunggu!" Rich mengejar dan memeluknya.


"Lepaskan, dasar pembohong!" memberontak dari pelukannya.


"Maaf ya sayang, aku tidak bermaksud begitu hehehehe" Rich mengecup kening Runi masih dengan tangan melingkar di pinggang.


"Apanya yang tidak bermaksud begitu? jelas-jelas kau dan kak Raf bersekongkol!" memukul dada bidang Rich kembali.


"Maaf ya Runi heheheheh" Raf terkekeh geli melihat reaksi Runi yang spontan ketakutan. Sementara Menta, Karina dan Rini hanya senyum-senyum saja melihat gadis itu panik setengah mati.


"Iya, maaf ya aku hanya bercanda hehehe" sambil menghapus sisa air mata yang ada di pipi Runi.


"Bercandanya tidak lucu tau, bikin aku panik setengah mati saja!" Runi sudah tidak bisa menunjukkan sikap berpura-pura cuek lagi.


"Apa kau panik saat melihatku seperti tadi? jadi sesungguhnya kau peduli padaku kan!?" Rich meraih dagu Runi dan mengecup bibirnya singkat.


"Tau ah sebel" membuang muka tapi tidak menolak semua perlakuan romantis Rich terhadapnya.


"Maaf ya sayang" sambil mendekap Runi dalam pelukannya yang hangat.


"Menyebalkan" masih mengomel namun tetap pasrah dipeluk oleh pria itu.


Cukup lama Rich memeluk gadis itu, bahkan Rich tidak peduli sama sekali dengan kondisi mobil bagian belakangnya yang rusak parah. Runi yang dipeluk pun juga tidak ada penolakan sama sekali. Rasa syok saat tadi mengira Rich menjadi korban, membuatnya seketika itu juga merasa takut kehilangan Rich.


"Bagaimana hasilnya?" Raf bertanya kepada Burhan dan Haris yang dengan sigap mengurus sang pelaku untuk memintanya bertanggung jawab terhadap segala kerusakan yang terjadi.


"Sudah beres tuan, kami sudah mengantongi kartu identitasnya dan juga surat-surat kendaraannya" jawab Burhan.


"Bagus" Raf mengangguk.


"Besok dia akan ke kantor pusat Anderson untuk mempertanggung jawabkan semuanya" Haris menambahkan.


"Oke, sip" meskipun Haris dan Burhan adalah karyawan perusahaan Putra Angkasa, namun mereka tetap loyal terhadap Rich dan Raf yang notabene bagian dari perusahaan Anderson.


"Itu dia mobil dereknya sudah datang" kata Burhan setelah sebelumnya memanggil melalui sambungan telpon.


"Tuan Rich, anda pakai mobil nona Runi saja, biar saya dan Rini naik mobil kantor bersama Burhan dan Karina" Haris kemudian menyerahkan kunci mobil Runi yang tadi dikendarai olehnya.


"Oke, terima kasih ya" Rich menerima kunci mobil Runi dari tangan Haris.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanannya" Raf menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke dalam mobil mereka.


"Oke, ayo sayang" Rich pun melakukan hal yang sama terhadap Runi.

__ADS_1


Mereka semua kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ibukota dengan tetap melakukan konvoi walaupun formasinya agak sedikit berubah. Meskipun Runi masih tidak banyak bicara sepanjang perjalanan, namun sikapnya terhadap Rich kini mulai berubah agak sedikit melunak dari sebelumnya.


__ADS_2