
"Rich, apa aku boleh masuk!?" Raf melongokkan kepalanya sebelum masuk ke ruang kerja adik sepupunya itu.
"Masuklah!" kata Rich dengan lesu.
"Are you okay!?" suami dari Menta itu menatap Rich dengan seksama.
"Entahlah" jawabnya sambil mengangkat bahunya dengan lesu. Sejak kedatangan Richela beberapa hari lalu, Rich memang lebih sering berdiam diri dan merenung di ruangannya sepanjang hari. Ia bahkan tidak mau makan siang di luar bersama yang lainnya. Ketika melihat Runi, ia cenderung menghindar dan tidak mau berinteraksi karena merasa sangat malu.
"Hasil tesnya akan keluar siang ini, dokter yang diutus untuk menanganinya akan datang dan bertemu dengan kita semua" Raf memberikan informasi.
"Aku sungguh tidak siap dengan semua ini Raf!" Rich menarik dan menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Everything will be okay!" papa Raguel menepuk bahu Rich untuk menguatkannya. Dari semua keluarga besar Anderson, Raf adalah satu-satunya orang yang cukup dekat dengan Rich. Mereka selalu melalui hari-harinya sejak kecil bersama-sama. Ketika Raf jatuh Rich lah yang setia menjaganya, maka saat ini ketika Rich jatuh, Raf pula yang menopangnya.
"Huffff" ia menelungkupkan kepalanya diatas tangannya yang terlipat di meja. Rasa frustasi yang melandanya sungguh membuat hari-harinya sangat suram.
"Apa kau sudah menemui anak itu di rumah Rach?" tanya Raf.
"Belum" Rich menggeleng dengan keras.
"Aku dengar dia beberapa kali demam dan mimisan" Raf mendapat infonya dari sang istri yang masuk dalam grup cucu perempuan Anderson.
"Aku tidak peduli padanya!" Rich masih menolak keberadaan anak itu.
"Lalu apa kau sudah mendapatkan informasi tentang Marleena?" Raf kemudian bertanya tentang ibu dari gadis cilik itu.
"Belum, aku benar-benar kehilangan jejaknya" sambil menunggu hasil tes DNA, Rich pun juga berusaha mencari informasi tentang ibu dari Richela dengan cara menyewa detektif.
"Bersabarlah!" lagi-lagi Raf memberi penguatan.
"Yang aku bingung, kalau memang dia anakku, kenapa dia baru memberitahukan keberadaannya sekarang? kenapa tidak dari awal saat dia mengandung!?" Rich merasa geram dengan Marleena yang merahasiakan ini kepadanya.
__ADS_1
"Kalau kau tau dari awal, memang kau mau berbuat apa? apa kau mau bertanggung jawab dengan menikahinya? atau malah menggugurkannya?" Raf mencoba menggali pikiran adiknya.
"Entahlah!" Rich tidak berfikir jauh tentang itu.
"Aku rasa dia punya alasan khusus kenapa lebih memilih merahasiakannya dan baru memberitahumu sekarang" Raf berusaha objektif.
"Tapi tetap saja itu merugikanku!" Rich emosi.
"Itu bukan sebuah kerugian Rich, tapi lebih tepatnya adalah sebuah konsekuensi dari apa yang sudah kau lakukan sebelumnya!" Raf mengajak Rich berpikir logis.
"Kau lihatlah aku, dulu Menta juga merahasiakan kehamilannya dariku, bahkan sampai anak kami meninggal selama bertahun-tahun aku baru mengetahuinya. Saat itu ia punya alasan tersendiri untuk merahasiakannya dariku. Rasa sakit yang aku torehkan di hidupnya membuat Menta memilih untuk tidak lagi mau berkomunikasi denganku. Dan itu adalah konsekuensi yang harus aku terima karena sudah berbuat jahat padanya!" memberi contoh kisah hidupnya sendiri.
"Ahhhh kepalaku serasa mau pecah!" Rich tidak menolak perkataan Raf, karena ia tau bahwa itu semua benar adanya. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan kasar seolah ingin melepaskan pikirannya yang penat dari kepalanya itu.
"Tenangkanlah dirimu!" Raf kembali menepuk bahu Rich.
Tok Tok Tok...
"Terima kasih, kami akan ke sana segera" Raf yang menjawab.
"Baik tuan, permisi" angguk sekertaris itu sebelum menutup pintunya lagi.
"Ayo Rich, kita temui" Raf mengajak Rich yang wajahnya sangat suram.
..........
"Bagaimana hasilnya dokter?" Mike bertanya kepada Kepala Lab RS Anderson setelah sample darah milik Rich dan Chela dibawa ke laboratorium untuk uji DNA selama beberapa hari belakangan ini.
"Setengah penanda genetik dari nona Richela cocok dengan milik tuan Richard, artinya sembilan puluh sembilan persen mereka memang memiliki hubungan biologis ayah dan anak" jelas sang dokter sambil menyerahkan hasil uji labnya.
"No way! Ini pasti ada kesalahan, aku mau dilakukan tes ulang!" Rich menggelengkan kepalanya dengan keras.
__ADS_1
"Tenang dulu Rich" George mencoba menenangkan.
"Oya tuan, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, setelah melakukan uji DNA, ternyata ada beberapa yang mengalami kelainan genetik dan sepertinya cukup parah" jelas sang dokter lagi.
"Maksudnya bagaimana dokter?" Dimas bertanya untuk memperjelas kondisi Chela. Biar bagaimana pun kini gadis itu sudah resmi menjadi bagian dari keturunan Anderson, meskipun secara status ia dilahirkan diluar pernikahan yang sah.
"Nona Richela mengidap penyakit kelainan genetik yang mengarah kepada kanker darah" jawab dokter itu kepada Dimas.
"Chela sakit kanker?" Gide kemudian mengingat kembali ketika beberapa hari belakangan ini, selama gadis cilik itu tinggal di rumahnya, ia sering demam dan mimisan tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
"Benar tuan" angguknya.
"Apa sakitnya parah?" Gamal juga mencoba mempertegas informasinya lagi.
"Kalau dilihat, sepertinya memang cukup serius, tapi saya tidak bisa mengatakan apa-apa lebih banyak lagi, karena ada dokter spesialis khusus yang lebih berhak menjelaskan tentang ini" dokter itu tidak mau mendahului rekan sejawatnya.
"Lalu kami harus bagaimana?" Raf merasa kasihan pada Rich yang seperti diberi cobaan bertubi-tubi.
"Saran saya perlu dilakukan pemeriksaan ulang secara keseluruhan agar hasilnya akurat" kemudian sang dokter memberikan surat rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Ahhhhh kepalaku sakit sekali!" Ron yang sudah mendengar hasilnya kemudian keluar ruang rapat begitu saja tanpa menghiraukan yang lainnya. Kini yang ada dipikirannya hanya reaksi sang istri Ayu yang pasti akan merasa sangat terpukul saat mendengar bahwa Chela adalah cucu mereka dan sedang mengidap penyakit kanker darah.
"Dad!?" Rich yang merasa bersalah kepada Ron kemudian mencoba mengejarnya untuk meminta maaf.
"Biarkan Dadmu tenang dulu Rich!" Mike menahan tangan Rich.
"Tapi yah,," kalimatnya terhenti ketika ia paham akan tatapan mata Mike.
"Baiklah dokter, terima kasih atas segala bantuannya" George memberi isyarat kepada dokter itu bahwa tugasnya telah selesai.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu" angguknya kemudian pamit undur diri.
__ADS_1
Setelah sang dokter pergi, Mike dan George pun ikut beranjak daru ruang rapat, meninggalkan Raf, Gide, Gamal dan Dimas yang masih setia menemani Rich untuk memberikan penguatan moral padanya.