
Setelah proyek di desa selesai dan semua orang kembali ke ibukota, Baik Runi maupun Rich kemudian disibukkan dengan pekerjaan di kantor mereka masing-masing. Padatnya jadwal pekerjaan dan jarak kantor mereka yang lumayan, membuat keduanya jarang sekali bertemu dan berinteraksi. Biasanya mereka hanya bertemu saat ada momen acara keluarga seperti saat Raf dan Menta pindah ke rumah baru mereka, serta saat dokter cantik itu melahirkan putra kedunya.
"Uhhhhhh cucu grandma sayang, sini gendong" Ananda menggendong bayi laki-laki yang tidak lain adalah anak dari Raf dan Menta.
"Dia sangat tampan ya bun" Mike seperti melihat kembali sosok Raf saat baru pertama lahir dulu.
"Iya, dia mirip seperti papanya" Ananda sangat bahagia karena pada akhirnya sang putra yang selama ini selalu tidak beruntung akan kisah cintanya, kini bisa merasakan kehidupan rumah tangga yang utuh bersama istri dan anaknya yang baru lahir.
"Seperti grandpanya juga kan?" sambil menggoda Ananda yang masih sibuk fokus kepada sang cucu.
"Cih ayah ge er" Ananda berdecih melihat kenarsisan suaminya.
"Aku mau gendong juga dong kak" kata Tata dan kemudian Ananda pun menyerahkannya kepada sang besan.
"Cucu kita kenapa bule sekali sih ma?" Surya merasa gemas dengan wajah bayi itu.
"Kan papanya keturunan bule, wajar dong" sambil menjawab namun matanya tetap tidak bisa berpaling dari wajah sang cucu.
"Iya juga ya hehehehe" Surya terkekeh karena tidak menyangka akan punya cucu bule.
"Ngomong-ngomong siapa namannya?" George bertanya.
"Raguel Putra Angkasa Anderson" Raf menjawab dengan cepat.
"Wahhhh perpaduan namanya bagus" kata Maya memuji nama sang bayi.
"Halo baby Raguel" Ayu menyapa bayi yang masih merah itu dengan senyum sejuta watt.
"Nanti kalau sudah besar harus berbakti kepada para grandpa oke!?" Ron berseloroh kepada cucu barunya itu.
__ADS_1
"Sini tante gendong yuk" Sekar mengulurkan tangannya.
"Kok tante sih? grandma dong, kan ini cucu kita!" Dini protes ketika sang adik menyebut dirinya tante.
"Tua sekali ya kalau harus dipanggil grandpa" Adhi juga sama seperti sang istri yang menolak tua.
"Terima nasib bro, kau memang sudah pantas jadi grandpa-grandpa" Hendro terkekeh.
"Punya cucu itu seru loh, aku saja menyesal baru dekat dengan cucu setelah pensiun" Doni yang baru pindah tinggal dekat dengan Dimas dan Gaby menyesal karena kehilangan momen bersama cucu-cucunya.
"Benar, andai waktu bisa diputar, pasti aku mau merawat cucuku sejak bayi" Ajeng mendukung komentar sang suami.
"Status boleh grandpa dan grandma, tapi kita harus tetap jiwa muda" grandma Ruth tetap energik diusia senjanya.
"Betul, selagi masih bisa menikmati hidup, maka berjiwa mudalah" grandma Merlyn yang paling tua diantara semuanya memberikan contoh semangat hidup.
"Tentu saja boleh dong mama Runi" kemudian Menta menyerahkan bayinya kepada sang sahabat.
"Apa kau mau punya satu yang seperti ini? bagaimana kalau aku bantu membuatnya untukmu?" Rich tersenyum penuh arti kepada Runi.
"Ck, dasar kau ini, pacar orang dikode-kode!" Rach berdecak melihat sikap saudara kembarnya.
"Namanya juga usaha, siapa tau beruntung" Sera mendukung sang sepupu.
"Iya, kan tinggal Rich dan Runi saja yang belum menikah" Gaby pun berharap keduanya berjodoh.
"Kalau yang namanya jodoh itu tidak akan kemana-mana kok, tenang saja" Gamal menepuk bahu Rich.
"Benar, yang penting kau sungguh-sungguh" Gide pun juga mendukung sang casanova yang sudah tobat itu.
__ADS_1
"Jangan lupa untuk berdoa juga supaya Tuhan mengabulkan harapanmu itu" Dimas memberi wejangan kepada Rich.
"Apa sih kak, kenapa kalian semua jadi pada membahas yang tidak-tidak" Runi merasa sungkan karena menjadi pusat pembicaraan.
"Mereka bukan membahas yang tidak-tidak kok, mereka itu hanya ingin mendoakan supaya kita bisa berjodoh!" pria itu mencoba mencari celah.
"Grandma doakan supaya kalian berjodoh ya" grandma Ruth bersemangat.
"Benar, jadi kita semua semakin erat kekeluargaannya" grandma Merlyn mendukung ucapan sang adik.
"Ih kalian semua jahat sekali sih sama pacarnya Runi, kasihan kan dia kalau didoakan begitu!" Ayu mencoba objektif.
"Mom, apa kau tidak kasihan padaku? aku ini kan anakmu sendiri!" Rich protes saat sang mommy malah membela orang lain.
"Kenapa mommy mesti kasihan padamu? kau itu kan seorang casanova, kasihanlah kalau Runi harus dapat pria sepertimu, dia itu gadis baik-baik yang berhak mendapat pria baik-baik juga!" Ayu mencibir putranya sendiri.
"Tapi aku kan sudah berubah mom! lagian dulu daddy juga seorang casanova, lalu kenapa mom mau sama dad?" Rich membawa-bawa Ron.
"Hey kenapa kau menyeret-nyeret aku!?" Ron membelalakkan matanya ke arah sang putra.
"Dad mu itu memiliki alasan khusus, tidak sepertimu yang memang anak nakal!" Ayu membela suaminya dengan jujur.
"Tuh dengar kata mommy mu!" Ron merasa bahagia karena dibela oleh sang istri.
"Jahat sekali sih kalian berdua, malah membela orang lain ketimbang anak sendiri!" Rich menggerutu karena tidak didukung oleh Ayu dan Ron.
"Makanya jadi anak itu yang baik, jangan membangkang terus sama orang tua!" saudara kembarnya pun ikut-ikutan membuat Rich benar-benar tersudut.
Sementara itu Runi yang mendengar semua perkataan mereka berusaha tetap cuek dan sibuk bermain dengan bayi mungil yang sedang digendongnya. Meskipun pada kenyataannya hati Runi kini semakin condong kepada Rich, namun pergolakan batinnya begitu besar ketika harus dihadapkan pada dua pilihan yang sulit yaitu terus bertahan dengan Greg tanpa cinta atau menyakiti pria itu dengan memutuskannya dan lebih memilih Rich.
__ADS_1