
"Mom!?" semua cucu dan cucu menantu laki-laki Anderson terkejut saat melihat Ayu keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka yang sudah hendak pulang ke rumah masing-masing, termasuk Rich yang juga hendak ikut Raf menjemput Chela dan menginap di rumahnya.
"Gide, bawa anak itu kemari sekarang juga!" Ayu menatap menantunya dengan datar tanpa menganggap keberadaan Rich sama sekali.
"Maksud mom Chela?" Gide yang ditembak langsung oleh sang ibu mertua seperti tidak percaya.
"Iya, bawa juga semua barang-barangnya dan ajak sekalian pengasuhnya!" meskipun Ayu masih syok atas kehadiran cucunya yang sangat tiba-tiba, namun nalurinya sebagai seorang mommy dan grandma tetap tidak akan tega membiarkan Chela hidup di luar rumah tanpa kasih sayang dan status keluarga yang jelas. Terlebih lagi ini semua bukanlah kesalahan anak itu, melainkan kesalahan kedua orang tuanya yang berbuat dosa tanpa sebuah ikatan pernikahan.
"Baik mom" tanpa banyak bicara Gide pun langsung berdiri hendak melakukan perintah sang ibu mertua.
"Terima kasih" kemudian berbalik kembali ke arah dalam kamarnya meninggalkan mereka semua.
"Sama-sama mom" jawab Gide yang langsung berjalan menuju ke arah mobilnya di halaman depan rumah tanpa berbicara lagi sepatah kata pun kepada semua saudara iparnya.
"Wowwww,, mommy Ayu menerima Chela? luar biasa sekali!" Gamal terkejut bukan main melihat sikap Ayu yang diluar prediksinya.
"Aku rasa dari awal mommy Ayu memang tidak marah dan menolak Chela, dia hanya terkejut saja, atau mungkin lebih tepatnya marah serta kecewa kepada Rich yang telah berbuat dosa dan mengecewakannya!" Dimas menganalisa situasinya.
"Benar kak, biar bagaimana pun naluri mommy sebagai seorang ibu pasti akan lebih kuat ketimbang emosi marahnya!" Raf yang sudah menjadi seorang ayah sangat paham bagaimana kini Raguel begitu berharga didalam hidupnya.
"Hemmm benar juga sih, Chela kan memang tidak salah apa-apa, dia juga pasti tidak mau dilahirkan dalam kondisi yang tidak baik seperti itu!" Gamal setuju dengan kedua iparnya.
"Sekarang tinggal bagaimana sikap kau saja Rich, kalau kau bisa meluluhkan hati mommy dan daddy, pasti semua akan baik-baik saja, ya meskipun tidak akan seperti semula, karena kini ada Chela yang menjadi tanggung jawabmu!" Dimas memang sosok kakak yang sangat mengayomi adik-adiknya.
"Iya benar, mungkin ini akan memakan waktu yang agak lama, tapi memang hidup itu butuh berproses, jadi nikmati saja ya, jangan terlalu jadi beban!" Raf memberi semangat.
"Huffffff" sementara Rich hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa yang sedang didudukinya.
..........
"Papaaaaaa" Chela memeluk Rich saat ia tiba di rumah Ayu dan Ron, sementara yang dipeluk hanya diam seribu bahasa tanpa reaksi apa pun.
"Aku kangen sekali sama papa" gadis cilik itu berbicara tanpa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Chela sudah datang ya?" Rach yang mendengar deru suara mobil sang suami saat memasuki halaman rumah Ron, langsung bergegas menyambut gadis cilik itu.
"Iya tante Rach" angguknya sambil tersenyum kepada sang tante.
"Ayo masuk, ada yang ingin bertemu dengan Chela" Rach kemudian menggandeng tangan Chela menuju ruang keluarga.
"Iya" Chela sangat penurut dan sopan.
"Sayang" Ayu langsung memeluk Chela sambil berlutut sehingga posisi mereka sejajar. Tanpa terasa air matanya mengalir dengan sangat deras. Dalam waktu yang begitu singkat ia memiliki cucu baru yang usianya sudah cukup besar.
"Tante siapa?" Chela yang langsung dipeluk oleh Ayu tanpa perkenalan terlebih dahulu merasa bingung.
"Ini grandma Ayu, grandmanya Chela, mommynya papa Rich dan tante Rach" Rach memperkenalkan Ayu.
"Ohhhhh" Chela hanya ber oh ria karena masih beradaptasi dengan tempat dan orang baru.
"Kau sudah datang?" Ron pun menyambut Chela dengan ramah.
"Halo om" Chela memanggil grandpanya dengan sebutan om.
"Oh iya, maaf ya grandpa, Chela tidak tau" gadis cilik itu meminta maaf dengan sopan.
"Iya nak, tidak apa-apa" Ron mengelus kepalanya sambil tersenyum. Karena ini adalah kali kedua mereka bertemu, maka Chela tidak begitu asing dengan Ron.
"Ayo, sekarang Chela tante antarkan ke kamar ya, mulai sekarang Chela akan tinggal di sini sama Grandma Ayu, Grandpa Ron, dan papa Rich" Rach pun mengantarnya ke dalam kamar yang dulunya adalah kamar tidurnya saat masih gadis.
"Wahhhh kamarnya cantik sekali" Chela kagum dengan design interiornya yang sangat elegan dan mewah, tapi tetap terlihat girly.
"Ini dulunya kamar tante Rach waktu masih kecil seperti Chela, trus waktu tante sudah besar dan menikah sama om Gide, kami punya rumah sendiri, nah jadi kosong deh kamarnya. Makanya mulai sekarang ini akan menjadi kamarnya Chela ya. Mbak Tatik juga akan menemani Chela disini, supaya kalau Chela butuh sesuatu bisa dibantu sama mbak Tatik, Oke!?" jelas Rach lagi.
"Oke tante" angguk Chela.
"Oya, kalau kamar papa dimana tante?" Chela yang sangat merindukan sang papa kemudian bertanya untuk mempermudahnya jika ia ingin bertemu dengan pria yang ia harapkan kehadirannya sejak kecil dulu.
__ADS_1
"Kamar papa persis di depan kamar Chela, ini loh" Rach membuka pintu kamarnya dan menunjuk pintu kamar saudara kembarnya.
"Wahhhh asikkk, jadi Chela tidak perlu jauh-jauh lagi ya kalau mau cari papa!" ia melonjak kegirangan, membuat Rach merasa tersentuh menyaksikan betapa Chela merindukan sosok ayahnya selama ini.
"Ya sudah, Chela sekarang istirahat dulu ya, nanti kalau sudah segar bisa jalan-jalan keliling rumah buat lihat-lihat isi rumah ini. Lalu kalau mau makan Chela juga bisa minta sama mbak Tatik ya buat disiapkan" Pesan Rach.
"Oke tante" angguknya.
"Mbak Tatik yuk ikut sebentar" Rach kemudian memberi pengarahan singkat kepada pengasuh Chela tentang apa saja yang harus dilakukannya di rumah ini, serta dimana ia bisa mencari segala kebutuhan yang diperlukan oleh Chela, dan juga orang yang bisa ia mintai tolong jika membutuhkan bantuan.
..........
"Dengarkan aku Richard Anderson, mulai saat ini jaga anakmu baik-baik, dia adalah tanggung jawabmu, kalau kau sampai mengabaikan segala kebutuhannya, maka sudah bisa dipastikan kau akan ditendang jauh-jauh dari rumah ini dan dicoret dari daftar hak waris cucu Anderson!" Rach berkacak pinggang di depan saudara kembarnya yang sejak tadi hanya duduk diam di ruang tamu bersama semua saudara laki-lakinya.
"Rach aku minta maaf,," hanya kata maaf yang bisa keluar dari mulut Rich.
"Aku tidak butuh permintaan maafmu, katakan itu kepada mom dan dad yang sudah kau buat kecewa!" mama dari Cilla dan Dros berbicara dengan ketus.
"Ayo papa kita pulang!" ia pun kemudian mengajak Gide sang suami untuk pulang.
"Iya ma" angguk Gide dengan patuh. Pria itu tidak mau membantah karena tau bahwa istrinya sedang tersulut emosi.
"Kak, kalian juga pulang saja, biar bajingan tengik ini saja yang mengurus anaknya itu mulai sekarang!" Rachel meminta Dimas, Gamal dan Raf untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang ya" Dimas menepuk bahu Rich.
"Iya kak" angguk Rich lemah.
"Sampai bertemu besok senin di kantor ya" kata Gamal sambil beranjak dari sofa yang didudukinya.
"Oke kak" angguknya lagi.
"Tetap semangat ya bro" Raf tersenyum untuk memberikan dukungan.
__ADS_1
"He em" Rich membalas senyuman itu dengan senyum samar.
Pada akhirnya satu-persatu anggota keluarga besar Anderson kembali ke rumah mereka masing-masing, menyisakan Rich yang masih duduk termenung sepanjang siang hingga sore di akhir pekan itu. Mereka semua memang sengaja memilih hari minggu untuk berkumpul di kediaman Ronald Anderson itu agar tidak mengganggu rutinitas masing-masing.