
"Bagaimana, apa kau tertarik dengan proposalnya?" Greg bertanya kepada Runi setelah gadis itu menyelesaikan mengecek proposal yang ditawarkan oleh sang dosen.
"Ini terlalu besar untuk saya kerjakan pak" Runi sangat minder untuk mencoba.
"Kenapa? kau adalah gadis yang cerdas, aku tau kau pasti mampu menyelesaikan proyek ini!" Greg berusaha membujuk.
"Kalau nanti saya gagal bagaimana?" masih Ragu.
"Kan ada aku yang akan mendampingimu" bujuknya lagi.
"Emmmmm" berpikir keras.
"Mau ya?" dosen itu tau bahwa mahasiswanya sangat berpotensi untuk
"Baiklah, saya akan coba" akhirnya mengangguk setuju.
"Yessss!! terima kasih ya Runi" ekspresi bahagia tidak bisa ditutupi dari wajah dosen muda itu.
"Sama-sama pak" angguk gadis itu lagi sambil membalas senyuman Greg.
__ADS_1
..........
"Sepertinya yang ini harus dihitung ulang pak" setelah menandatangani kesepakatan kerja sama, mereka berdua pun kemudian mulai mengatur strategi untuk menjalankan proyek itu.
"Kau benar, aku juga sudah menduganya dari awal, namun masih ragu karena aku mengerjakannya seorang diri, untung saja kau mau membantuku, jadi aku bisa mendengarkan pendapatmu juga" Greg benar-benar senang bisa bekerjasama dengan mahasiswanya itu.
"Oya, untuk pengerjaannya aku sudah memanggil beberapa tim khusus yang akan mendesign dan mengembangkan idenya, jadi kita hanya perlu mensupervisi mereka dan menjadi jembatan kepada distributor saja" Greg menjelaskan.
"Baik pak" karena masih awam, maka Runi pun hanya menurut saja.
"Aku tidak sabar untuk segera melakukan pengerjaan, jika proyek awal ini berhasil, tidak menutup kemungkinan kalau kita bisa masuk ke pasar dan bermain di dalam sana secara permanen" semangat membara terlihat dari wajah Greg.
"Amin" dosennya pun mengamini.
..........
"Kau dari mana?" Menta yang melihat Runi baru pulang jam sebelas malam bertanya dengan curiga.
"Ini" karena tau bahwa dirinya pasti diintrogasi oleh sang sahabat yang sudah seperti kakaknya sendiri, maka Runi pun membawa salinan proposalnya pulang untuk ditunjukkan pada Menta.
__ADS_1
"Proposal kerjasama Gregorius dan Seruni?" Menta mengernyitkan dahinya.
"Iya, aku ditawari untuk menjalankan sebuah proyek oleh dosenku" angguk Runi sambil tersenyum bahagia. Meskipun Greg berkata bahwa proyek mereka itu adalah proyek kecil, namun pada faktanya omset yang akan diraup bisa mencapai miliyaran jika berjalan sesuai rencana.
"Kau serius? ini omsetnya miliaran loh!" Menta melongo saat melihat estimasi keuntungan yanh akan diraup.
"Ya itu kan kalau untung, kalau gagal akan beda lagi ceritanya!" Runi tidak mau terlalu bermimpi untuk bisa langsung meraup laba dari bisnis perdananya dengan sang dosen.
"Ya kau jangan pesimis dong, harus optimis supaya bisa berhasil!" Menta mendukung sahabatnya sepenuh hati.
"Semoga saja kami beruntung, ya hitung-hitung aku belajar bisnis sebelum nantinya mengabdi di Putra Angkasa" ia memang bertekad sebisa mungkin belajar segala seluk beluk bisnis.
"Tentu saja kau harus belajar, memangnya kau pikir siapa lagi yang bisa menjalankan bisnis Putra Angkasa?" meskipun pada akhirnya nanti Menta terpaksa harus terjun ke bisnis milik sang papa, namun untuk saat ini ia memang masih belum begitu berniat, sehingga ia sangat mengandalkan Runi untuk menggantikan posisinya.
"Ya tentu saja kau, kau kan putrinya, sementara aku ini hanya gadis beruntung yang kecipratan rejeki saja!" Runi tidak habis pikir kenapa Menta tidak berminat melanjutkan bisnis papanya.
"Iya, aku pasti akan terjun, tapi tidak sekarang, nanti jika mimpiku menjadi seorang dokter sudah tercapai, makanya kau harus membantuku ya hehehehe" kekehnya.
"Dasar kau ini! ya sudah aku mau mandi dulu ya, lalu habis itu langsung tidur" Runi kemudian beranjak ke kamarnya.
__ADS_1
"Oke" Menta pun kemudian mematikan TV dan beranjak ke kamarnya juga.