
"Selamat pagi" Raf menyapa semua tim kerja di ruang rapat.
"Selamat pagi tuan" jawab mereka serentak.
"Loh Rich kemana?" papa Raguel mencari sosok sang adik sepupu yang belum terlihat di ruang rapat itu.
"Tuan Rich sepertinya belum datang tuan, tadi saya menghampiri ruangannya namun kosong" jawab seorang sekertaris direksi.
"Oke, kalau begitu kita mulai saja rapatnya sesuai rencana, biar nanti Rich mengecek proposalnya belakangan" karena sudah tidak ada waktu menunggu, Raf pun kemudian memulai rapatnya tanpa Rich.
"Baik tuan" kemudian mereka semua memulai rapat proyek barunya tanpa kehadiran pria itu.
..........
"Rich kau dimana?" Raf memanggil sang adik sepupu melalui telpon setelah rapat selesai.
"Hai brooo, aku sedang di apartemen hehehehe" suara Rich terdengar aneh.
"Kau semalam tidak pulang ke rumah mom dan dad?" Raf memiliki firasat buruk.
"Tidak, aku semalam tidur di apartemenku hehehehe" kembali menjawab dengan terkekeh.
"Apa kau baik-baik saja?" Raf benar-benar mencemaskan kondisi Rich.
"Tentu saja, memang kau pikir aku kenapa?" masih berusaha sok tegar.
"Apa kau malam ini akan menginap di apartemen lagi?" mencoba mengulik sang adik.
"Sepertinya iya, aku akan tinggal di apartemen beberapa hari kedepan uhuk uhuk hehehehe" seperti sedang minum dan tersedak.
"Rich, apa kau sedang mabuk?" akhirnya Raf tidak mau berpura-pura tidak tau lagi.
"Tidak, aku tidak mabuk kok, hanya sedikit saja minumnya hehehe" tapi ucapannya sudah seperti ngefly.
"Ck, ya sudah, diam saja kau di apartemen, jangan kemana-mana sampai benar-benar sadar!" nasehat sang kakak kemudian.
__ADS_1
"Memang kau pikir aku mau pergi kemana? hehehehe" hanya terkekeh terus.
"Dasar, kau ini benar-benar menyusahkan orang saja!" meskipun memaki, namun pada kenyataannya Raf begitu peduli pada Rich yang sedang patah hati.
"Hehehehe" lagi-lagi hanya terkekeh saja.
"Ya sudah aku tutup dulu ya telponnya" kata Raf .
"Oke my bro hehehe" kemudian Rich pun mengakhiri sambungan telpon dari kakak sepupunya itu.
..........
"Rich, buka pintunya!" Sepulang kantor Raf sengaja mampir ke apartemen sang adik untuk melihat kondisinya yang diduga tidak baik.
"Richhhh buka pintu!" Raf memanggil sang adik dari luar pintu apartemen berkali-kali karena Rich tidak kunjung membukanya.
"Aduhhh siapa sih berisik sekali!" Rich yang merasa terganggu mengomel sambil membuka pintunya.
"Astaga, kau ini benar-benar!" Raf menatap adiknya yang semerawut.
"Ayo lebih baik kau ikut aku pulang ke rumahku!" Raf tidak tega bila melihat Rich terpuruk seperti ini seorang diri di apartemen. Pengalamannya selama lima tahun hidup dalam keterpurukan akibat ditinggal Menta membuatnya sangat paham akan kondisi psikis sang adik saat ini.
"Tidak, aku mau disini saja!" pria itu menolak.
"Tidak bisa, kau ini sedang tidak baik, tidak boleh ditinggal sendirian di sini!" Raf bersikeras.
"Apa kau peduli padaku brother!?" Rich berkaca-kaca.
"Kau itu adikku, seburuk apapun kau, tetap aku peduli!" Raf kemudian membantu Rich berpakaian.
"Kau memang kakak terbaik yang aku punya hehehehe" tertawa namun meneteskan air mata.
"Ayo turun!" kemudian Raf memapah Rich keluar apartemen menuju rumahnya.
..........
__ADS_1
"Kak Rich!?" Menta terkejut saat melihat adik iparnya sangat berantakan.
"Halo kakak ipar, apa kabar? hehehe" pria itu hanya tertekeh saat masuk ke dalam rumah kakaknya dengan dipapah oleh sang tuan rumah.
"Dia kenapa pa?" Menta bertanya kepada sang suami.
"Dia sejak semalam mabuk di apartemen ma" jawab Raf sambil berjalan ke arah kamar tamu.
"Astaga kak Rich kau kenapa?" meskipun tau bahwa penyebab dari kondisi ini adalah karena cintanya yang tak disambut oleh Runi, namun Menta tetap saja bertanya.
"Kakak ipar, apa kau tau hatiku sedang sakit? gadis yang aku cintai akan menikah dengan pria lain! hiks hiks hiks" Rich mengadu sambil menangis kepada Menta seperti anak kecil yang mainannya direbut oleh teman.
"Kak, jangan sedih ya, kau itu sangat tampan, aku yakin pasti di luar sana banyak gadis yang mau menjadi istrimu kelak!" Menta membesarkan hati Rich.
"Tidak, tidak ada yang seperti Runi, dia itu gadis spesial. Dari semua gadis yang aku temui, hanya dia yang berbeda. Kau tau, ketika diluar sana para gadis mengejarku karena ingin menguras uangku, dia justru sebaliknya, dia mengajarkan aku bagaimana menggunakan uangku untuk membantu sesama dan berbuat kebaikan. Dia juga yang menyadarkan aku bahwa menjalin hubungan itu tidak melulu tentang hubungan fisik saja, tapi lebih kepada ikatan batin yang kuat. Setiap kali aku bersamanya, tidak ada sedikit pun keinginanku untuk merusaknya, yang ada justru aku selalu ingin melindungi dia dan menjaganya. Sejak aku mengenalnya, aku bahkan bisa menahan diri untuk tidak melakukan dosa lagi, dia membuat aku mati rasa melihat gadis lain, bahkan jika mereka berdiri di depanku dalam keadaan polos sekali pun aku tidak peduli, kerena hatiku sudah tertuju padanya. Dan yang paling ajaib adalah setiap aku melihatnya, aku seperti melihat mommyku sendiri, dia sangat mirip dengannya. Bukankah Runiku sangat luar biasa? dia sudah membuat aku bisa menjadi pria yang lebih baik dari sebelum aku mengenalnya! hiks hiks hiks" air mata berderai tak tertahankan saat ia mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Menta.
"Rich Menta benar, masih banyak wanita lain di luar sana, kau bisa memilih sesukamu!" Raf menasehati sang adik.
"Cih, kau munafik sekali Raf, memangnya kau sendiri tidak ingat dulu waktu ditinggal kakak ipar? kau juga tidak lebih baik dari aku sekarang kan!?" Rich membongkar aib sang kakak didepan istrinya.
"Kakak ipar, kau sangat beruntung, suamimu ini adalah pria yang sangat setia, dia bahkan dulu lebih gila dari aku saat kehilangan dirimu hehehehe" ucapan Rich mulai ngelantur kemana-mana.
"Sudah ayo masuk dulu ke dalam kamar!" Raf memapah adiknya kembali saat ucapannya sudah tidak lagi tentang Runi.
"Kakak ipar, berjanjilah padaku, kau harus setia kepada suamimu, sayangi dia sepenuh hatimu ya, jangan sakiti dia lagi oke!?" Rich yang mabuk berat semakin berbicara yang aneh-aneh.
"Sudah-sudah jangan banyak bicara, istirahat dulu saja!" Raf berusaha menarik sang adik agak lebih cepat masuk ke dalam kamar.
"Ahhhhh nyamannya kasur ini" Rich merebahkan diri setelah Raf mendudukkannya di atas tempat tidur.
"Istirahatlah dulu, aku akan minta istriku menyiapkan makan malam untukmu!" Raf bersiap keluar kamar.
"Terima kasih kakakku sayang hehehehe" Rich berbicara seperti seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya.
"Cih, sok manis!" mencibir sambil tersenyum geli melihat ulah adiknya yang konyol.
__ADS_1
Setelah sepanjang waktu Rich mabuk dan berbicara tidak jelas, akhirnya ia pun tertidur dengan nyenyak di kediaman Raf dan Menta hingga pagi berikutnya.