
"Kak aku malu!" Runi yang diajak oleh Rich untuk menemaninya pergi ke pesta yang diadakan oleh Eve merasa minder.
"Kenapa mesti malu?" Rich mengelus pipi Runi dengan lembut.
"Itu kan pestanya para super model, sementara aku orangnya sangat old fashion" ia menyadari kelemahannya dalam berpenampilan.
"Kau ini kenapa jadi rendah diri seperti itu sih?" pria itu kemudian mengelus kepalanya.
"Aku tidak usah ikut ya, feelingku tidak enak" entah mengapa Runi merasa akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap dirinya nanti di pesta.
"Yahhhh, kok tidak jadi sih? kan ada aku yang akan menjagamu!" Rich memasang wajah sedih.
"Maaf ya kak, tapi aku,," gadis lugu itu mulai bimbang.
"Tidak ada tapi-tapi, kau harus ikut, aku akan menjagamu di sana, oke!?" tetap berusaha meyakinkan.
"Baiklah" pada akhirnya luluh, meskipun masih dengan berat hati.
"Nah gitu dong, ayo" pria itu pun kemudian menggandengnya masuk ke dalam mobil.
..........
"Hey bro, kau datang juga?" Bram menyapa Rich yang baru tiba di sebuah club malam yang cukup megah.
"Ini siapa?" Hendry menatap Runi.
"Dia Runi, oya Runi kenalkan ini Bram dan Hendry" kata Rich memperkenalkan satu sama lain.
__ADS_1
"Halo kak, aku Runi" gadis itu memperkenalkan diri dengan sangat ramah.
"Hai Runi, aku Bram" mengulurkan tangan ke arah Runi.
"Halo, aku Hendry" katanya sambil tersenyum.
"Aku ke privat room dulu ya" Rich kemudian mengajak Runi untuk menuju ke sebuah ruangan VVIP.
"Loh kok kita disini?" Runi merasa heran.
"Di luar itu sangat berisik, banyak orang yang minum-minum juga, aku takut kau tidak nyaman, jadi aku sengaja pesankan tempat ini untuk kau istirahat dan bersantai" kata Rich.
"Ohhhhh" Runi yang lugu hanya ber oh ria. Ia menganggap tindakan Rich adalah sebuah bentuk perlindungan untuknya.
"Oya, kau mau pesan apa?" tanya Rich.
"Oke, sebentar aku pesankan ya" Rich kemudian berjalan keluar ruangan.
Dengan alasan ingin memesan makanan, Rich pun kemudian berjalan menuju tempat pesta yang sesungguhnya. Ia kemudian menyapa Eve sang empunya acara dan beberapa gadis cantik yang bergerombol dengan pakaian terbuka dilantai dansa.
"Loh kemana gadis yang tadi bersamamu?" Bram celingukan mencari Runi.
"Aku sudah memesankan ruang VVIP khusus untuknya" jawab Rich dengan enteng.
"Jangan bilang kau mengajaknya ke sini benar-benar hanya untuk dijadikan tameng agar bisa keluar rumah dengan leluasa?" Hendry menatap Rich penuh selidik.
"Menurutmu?" Rich hanya mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Kasihan sekali gadis itu, diperalat oleh playboy cap kapak sepertimu hanya demi bisa berpesta bersama gadis-gadis cantik yang lain!" meskipun Hendry seorang playboy, tapi dia cukup punya empati terhadap Runi.
"Memang kau pikir sejak kapan seleraku berubah dan aku tertarik dengan gadis culun dan bodoh seperti itu? lihat saja dia begitu polos, bahkan dengan mudahnya dia mau menerima ajakanku hahahahaha" kata-kata Rich begitu tajam dan menyakitkan.
"Tega sekali kau!" Hendry hanya geleng-geleng kepala melihat sikap temannya.
"Nona kau!?" Bram terkejut melihat Runi berdiri mematung dibelakang Rich dengan air mata yang sudah jatuh dipipinya.
"Runi!?" Rich pun tidak kalah terkejutnya saat melihat gadis itu berdiri tepat dibelakangnya.
Tidak lama setelah Rich keluar dari VVIP room dengan alasan ingin memesan minuman, Runi pun kemudian keluar untuk mencari toilet karena ingin buang air kecil, saat melihat Rich berdiri mengobrol dengan kedua temannya ia kemudian berniat menyapanya terlebih dahulu, namun tanpa disangka ia justru mendapat kejutan yang membuatnya merasa seperti orang bodoh yang dipermalukan didepan umum.
"Runi tunggu!!" Rich mengejar Runi yang langsung berlari ke luar club saat menyadari Rich melihatnya.
"Runi, sayang, buka pintunya, dengarkan aku dulu, aku akan jelaskan semuanya!" Rich menggedor-gedor pintu taksi yang ditumpangi gadis itu sesaat setelah dirinya keluar dari club malam tempat Eve menggelar pestanya.
"Sayang, buka pintunya pliss!!" Rich masih menggedor-gedor sambil mencoba membuka pintunya.
"Jalan pak!" Runi yang sudah duduk di kursi penumpang langsung meminta sang supir taksi untuk segera menjalankan mobilnya.
"Tapi nona, itu kekasih anda sepertinya ingin bicara" sang supir taksi yang bingung karena Rich memaksa ingin masuk ke dalam mobilnya, berkata kepada Runi.
"Jalan saja pak!!" namun Runi sudah tidak mau mendengar apapun yang dikatakan Rich.
"Baik" akhirnya sang supir pun melajukan mobilnya, meninggalkan Rich.
"Argghhhh!" Rich yang tidak mau menyerah pun mencoba mengejar dengan mobil sport yang terparkir tidak jauh dari situ.
__ADS_1