
"Hai Bas, Adit" Rich melambaikan tangannya dari balik kemudi saat kedua remaja pria itu baru saja keluar dari dalam rumah keluarga Putra Angkasa.
"Hai kak Rich" Bas dan Adit membalas serentak lambaian tangan pria tampan itu.
"Ayo masuk" karena dirinya dan Runi baru saja dari luar untuk sarapan, maka mereka memang sengaja tidak lagi turun dari mobil agar tidak kesiangan.
"Oke" Bas dan Adit kemudian masuk ke bagian kursi penumpang, sementara Rich mengemudi dan Runi duduk disebelahnya.
"Eh tunggu kak, aku kasih ini dulu sama mbak Alia" Runi mengangkat tas plastik berisi donat gula yang dibelinya dari Siti tadi saat di danau.
"Mbak, tolong ini titip buat orang-orang rumah seperti biasa ya" Runi menyerahkan donat-donat itu kepada sang asisten rumah tangga yang sudah mengabdi puluhan tahun di rumah keluarga Surya.
"Siap non, nanti mbak sampaikan sama semua orang, terima kasih ya non Runi" hal inilah yang membuat Alia dan karyawan lainnya betah berlama-lama kerja menjadi asisten di keluarga Surya, Hendro dan Adhi yang sudah seperti keluarga sendiri. Mereka semua selalu diperlakukan baik oleh para majikannya. Meskipun Runi bukan putri kandung Surya, namun karena kedekatan orangtuanya dengan keluarga Surya, maka Alia pun sudah menganggap Runi seperti majikan sendiri, terlebih rumah mereka berdempetan dan memiliki pintu khusus yang bisa diakses selama dua puluh empat jam.
"Sama-sama mbak, kalau begitu kami berangkat dulu ya mbak, mungkin agak siang atau sore baru sampai rumah lagi" Runi berpamitan dengan sopan.
"Iya non, hati-hati di jalan ya" angguk sang asisten.
"Iya mbak terima kasih" Runi tersenyum ramah. Kemudian mobil pun melaju menuju tempat yang sudah direncanakan sebelumnya.
__ADS_1
..........
"Kita mau ke arah mana ini?" Runi bertanya kepada Bas dan Adit saat mereka sudah turun dari mobil dan melihat peta lokasi di papan petunjuk.
"Kalau kata pak guru ke hutan kotanya kak" Bas menjelaskan.
"Kita diminta mengamati kehidupan binatang yang ada di hutan dan juga populasinya" sambung Adit.
"Berarti ke sana ya?" tanya Runi sambil menunjuk arah sesuai dengan papan petunjuk.
"Sepertinya iya deh" Bas mengangguk.
"Oh iya benar, yuk" angguk Bas seraya berjalan menghampiri teman-temannya.
"Kak, ayo kita ikuti mereka" Adit mengajak Runi dan Rich.
"Iya baiklah" Runi mengangguk dan berjalan mengekor dibelakang Bas dan Adit.
"Ayo sayang" Rich kemudian meraih tangan Runi dan menggenggam jari-jari gadis itu seperti perlakuan seorang laki-laki kepada pacarnya.
__ADS_1
"Eh iya" Runi yang tiba-tiba digandeng jadi malu sendiri. Mereka berdua kemudian berjalan mengikuti rombongan anak SMP itu menuju lokasi yang diminta oleh gurunya.
"Kau sepertinya lumayan akrab ya dengan mereka berdua?" Rich memulai obrolan ringan sambil mengamati kedua bocah itu melakukan observasi bersama beberapa temannya yang lain.
"Ya lumayan lah, mungkin karena kami dibesarkan bersama-sama setiap hari, jadi sudah seperti kakak dan adik sungguhan" jawab Runi.
"Aku jadi iri dengan mereka, andaikan saja aku bisa bersama denganmu setiap hari, pasti sangat menyenangkan" ucap sang casanova.
"Idih apa sih, gombal aja kerjanya" gadis itu malu-malu.
"Sungguh, aku tidak gombal kok!" sambil mengerlingkan mata.
"Sudah ah jangan ngerayu terus" wajah Runi sudah merah bak kepiting rebus.
"Kau kalau malu-malu gitu semakin imut dan menggemaskan deh" Rich malah semakin menggoda.
"Ihhhhh kakkkkk" benar-benar salah tingkah.
"Hahahahaha" Rich tergelak melihat gadis yang ia goda sudah tidak berdaya karena rayuan mautnya. Selama menunggu kedua ABG itu melakukan observasi, Rich terus saja mengeluarkan jurus-jurus mautnya yang membuat Runi tak berkutik sama sekali saking malunya. Tanpa Rich sadari dirinya pun ternyata sudah merasa sangat nyaman berada didekat gadis lugu itu. Entah mengapa ia merasa ada yang berbeda dari diri Runi dibandingkan dengan gadis-gadis lain yang pernah ia kencani sebelumnya.
__ADS_1