
Setelah menyelesaikan bulan madu mereka di lautan lepas bersama keluarga besar Anderson dan Putra Angkasa serta panti asuhan, akhirnya Rich mengajak Runi pulang ke rumah baru mereka yang masih ia rahasiakan dan akan menjadi hadiah pernikahan bagi sang istri tercinta.
"Loh sayang, kok kita belok ke sini? ini kan bukan jalan menuju ke arah blok rumahnya mommy Ayu atau pun mama Dini!" Runi protes.
"Memang bukan" jawabnya santai sambil terus mengendarai mobilnya.
"Lalu kita mau kemana? kok kita malah jalan kearah rumahnya Menta dan kak Raf?" pengantin wanita itu memang tidak tau jika akan diberikan hadiah rumah baru oleh suaminya. Ia malah mengira akan diajak tinggal oleh suaminya disalah satu rumah milik orang tua mereka setelah pulang dari bulan madunya.
"Rahasia!" pria itu hanya mengembangkan senyum misterinya.
"Isshhh main rahasia-rahasiaan segala sih!" gerutu Runi sambil memajukan bibirnya.
"Jaga bibirmu sayang nanti aku habisi baru tau rasa kau!" sang suami menunjuk bibir mungil yang sudah menjadi candu baginya itu.
"Ck, dasar pria mesum!" decaknya sambil geleng-gelang.
"Kan mesumnya sama istri sendiri, boleh dong!" sambil mengerlingkan matanya dengan sangat nakal.
"Isshhh kau ini!" benar-benar kewalahan menanggapi rayuan maut suaminya.
"Ehhhh kok belok sini? rumah Menta kan yang itu!" lagi-lagi Runi terkejut ketika Rich membelokkan mobilnya ke sebuah rumah yang tepat berhadapan dengan rumah sahabat baik sekaligus saudara angkatnya itu.
"Ayo kita turun" Rich membukakan pintu mobilnya untuk sang istri tanpa berkata apapun sebagai penjelasannya.
__ADS_1
"Sayang kita mau apa di sini?" ada rasa khawatir didalam diri Runi saat mereka masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi kepada pemiliknya.
"Sayang ini!?" Runi ternganga saat melihat jejeran bingkai foto di ruang tamu yang memajang foto pernikahannya dengan Rich.
"Selamat datang di rumah sayangku" Rich merentangkan tangan sebagai tanda penyambutan kepada sang istri.
"Sayang!?" Runi seperti kehabisan kata-kata.
"Mulai sekarang ini adalah rumah kita, kita akan membangun bahtera rumah tangga kita di sini sampai ajal memisahkan kelak!" pria itu kemudian meraih pinggang sang istri dan mengecup pipinya.
"Sayang kau membuatku sangat terharu!" Runi bahkan sampai menitikkan air mata melihata betapa sang suami begitu memperlakukannya bak seorang ratu.
"Kok menangis sih?" mantan casanova itu menghapus air mata sang istri.
"Aku tidak menangis, hanya saja tidak menyangka, karena aku pikir setelah menikah kita akan tinggal di rumah mommy atau mama" jawabnya.
"Suka sekali" angguk nyonya Richard Anderson itu.
"Tapi maaf ya aku belum bisa beli yang ukurannya besar" karena membeli pakai uang pribadi hasil tabungannya selama bekerja enam tahun belakangan, maka Rich hanya bisa membeli rumah yang ukurannya lebih kecil dibandingkan rumah orang tuanya.
"Aku tidak peduli, bagiku asal ada suamiku, maka disitulah rumahku berada!" wanita itu memang bukan tipikal wanita matrealistis yang selalu mengukur segalanya dengan materi.
"Lagi pula ini kan ukurannya sama dengan rumah milik Menta, Rach, Sera dan Kak Gaby yang dibelikan oleh suami mereka, jadi bagiku ini sudah lebih dari cukup!" meskipun ketiga cucu perempuan Anderson itu sudah mendapatkan hadiah rumah dari orang tuanya saat dulu menikah, namun suami mereka tetap saja membelikan istrinya rumah dengan hasil jerih payahnya sendiri sebagai tanda cinta mereka. Begitu pun dengan Raf yang mendapat rumah besar milik Mike, serta Rich yang mendapat rumah mewah milik Ron, namun mereka juga tetap membeli rumah menggunakan uang sendiri untuk sang istri tercinta.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita masuk ke ruangan yang lainnya!" Rich kemudian menarik tangan sang istri.
"Wahhh kamarnya bagus sekali" Runi merasa senang dengan interior design yang sangat elegan dan berkelas.
"Ayo kalau begitu kita cicipi kamar ini!" Rich langsung menggendong sang istri ke atas tempat tidurnya.
"Awww sayang!" Runi terpekik karena tiba-tiba melayang ke udara.
"Kita akan habiskan hari-hari kita kedepannya diatas kasur ini" senyum penuh arti tersirat di wajah pria itu.
"Issshhhh ini kan masih siang" Runi memukul suaminya yang sudah bersiap-siap.
"Aku tidak peduli" pria itu benar-benar mabuk kepayang.
"Tunggu,," Runi menahan tubuh suaminya yang hendak merangsek.
"Ada apa lagi?" Rich tidak sabaran.
"Kenapa Chela tidak ke sini juga bareng sama kita tadi?" tanyanya tiba-tiba yang teringat dengan anak sambungnya.
"Dia akan menyusul kalau kita sudah beres bulan madu" jawabnya sambil melucuti pakaiannya sendiri.
"Loh bulan madu kita kan sudah selesai!?" protesnya.
__ADS_1
"Siapa bilang? kan kemarin kita diganggung sama mereka, yang seharusnya hanya berdua saja, malah jadi ramai-ramai, makanya sekarang aku mau balas dendam!" pria itu sudah tidak bisa berkompromi.
"Sayanggggggg" Runi hanya bisa manggil suaminya itu saat Rich bergerilya di tubuhnya. Pertempuran sengit pun tidak bisa dihindari siang hari itu. Baik Rich maupun Runi sama-sama kembali menikmati indahnya puncak cinta mereka yang membara di kamar barunya.