Terjebak Cinta Mr. Casanova

Terjebak Cinta Mr. Casanova
Masa Lalu Yang Belum Tuntas


__ADS_3

"Wahhhh harum sekali sih, kau sedang masak apa?" Menta yang baru tiba di rumah dinas setelah bermalam di paviliun desa tempat Raf dan Rich akan tinggal selama proyek Anderson berlangsung bertanya kepada Runi.


"Sayur asem, ikan asin dan sambel terasi serta lalap timun dan terong" jawab Runi.


"Woahhhhh aku jadi laparrrrr" Menta memang sangat suka makan menu masakan rumahan.


"Ya sudah ayo bantu aku dulu, nanti kalau sudah matang kita makan bersama" jawab Runi.


"Eh tapi yang lain pada kemana? kok tidak terlihat?" tanya Menta.


"Tadi subuh ada seorang warga yang hendak melahirkan, jadi Karina dan Rini berangkat ke rumah warga tersebut untuk membantu persalinannya" jelas Runi.


"Ohhhh" karena di desa ini hanya ada puskesmas dengan tiga orang tenaga medis, maka mereka memang harus bersedia menerima panggilan darurat selama dua puluh empat jam.


"Ngomong-ngomong bagaimana kabar hubunganmu dan kak Raf? aku lihat kalian semakin romantis saja!" Runi yang sejak kemarin tidak memiliki waktu untuk mengobrol empat mata dengan Menta bertanya.


"Ya begitu deh, jalani saja dulu!" jawab Menta yang masih belum yakin seratus persen.


"Aku rasa kak Raf sudah benar-benar menyesal dan mau menebus semua kesalahannya, lagi pula diakan sekarang sangat bucin padamu!" Runi menganalisis.


"Mudah-mudahan saja!" seloroh sang dokter.


"Lalu bagaimana dengan kau sendiri? aku lihat kak Rich juga sangat menyesal terhadap perbuatannya!" kemudian Menta memancing Runi.


"Apanya yang bagaimana!?" Runi seperti enggan membahasnya.


"Jangan pura-pura deh, kalian jelas-jelas seperti ada konflik yang belum tuntas!" Menta berkata.


"Aku sih tidak merasa seperti itu, tapi entah ya kalau dia!" jawab Runi dengan entengnya.


"Lalu kalau misalnya dia menyesal dan mau minta maaf padamu, apa kau mau berbaikan dengannya?" sang sahabat tetap memancing.


"Kan sudah aku bilang kalau aku merasa tidak punya masalah!" Runi mengelak.


"Mulutmu bisa berbohong, tapi hatimu tidak Runi!" Menta yang mengenal Runi sejak kecil memang sudah paham sekali karakter sahabatnya itu.


"Apa sih, sok tau kau ini!" Runi terus saja berkelit.


"Kalau dia minta maaf dan ingin memperbaiki hubungan baik diantara kalian, apa kau mau memaafkannya?" Menta sudah tidak bisa basa-basi lagi.


"Aku kan sudah bilang kalau aku merasa tidak punya masalah dengannya, kalau dia merasa seperti itu ya berarti kan dia memang merasa punya dosa, dan itu bukan urusanku!" jawabnya dengan acuh.


"Hemmmmm, lalu kalau dia tertarik padamu, apa kau mau membuka hatimu untuknya?" Menta merasa perlu memperjelas.


"Tidak!" menjawab dengan tegas dan cepat.

__ADS_1


"Kenapa? diakan sangat tampan, lagi pula keluarganya juga sangat sayang padamu, terutama mommy Ayu!" Menta mengernyit.


"Tampan saja tidak cukup, bagiku kesetiaan adalah modal utama dalam menjalin sebuah hubungan. Lagi pula masih banyak kok pria tampan di luar sana yang jauh lebih bersih dari toilet umum seperti dia!" jelas Runi.


"Toilet umum?" Menta hampir tertawa mendengar Runi mengatai Rich.


"Kau lihat saja pergaulannya, dia pikir selama ini dia terlihat keren kerana sudah bergaul dengan banyak wanita. Padahal bisa dibayangkan kan berapa banyak virus dan bakteri yang sudah bersarang di tubuhnya karena gonta ganti pasangan begitu? iyuhhhh menjijikan sekali laki-laki seperti itu, sudah macam toilet umum saja!" cemooh Runi kepada Rich.


"Hati-hati loh, nanti ketulah sendiri! hahahahaha" Menta malah menggoda.


"Idihhhh amit-amit deh!" Runi bergidik.


"Kak Rich!?" Menta terkejut ketika melihat Rich dan Raf tiba-tiba berdiri diambang pintu dapur sesaat setelah dirinya dan Runi membicarakan sang casanova itu.


"Hai kalian sedang masak apa?" Raf yang berdiri di samping Rich berusaha senormal mungkin, meskipun pada kenyataannya di dalam hatinya ia bertanya-tanya dengah sikap Runi yang terkesan sangat membenci Rich.


"Ini sayur asem dan ikan asin" Menta langsung menunjukkan hasil masakan mereka untuk menetralisir keadaan yang terlihat mulai tegang layaknya perang dingin.


"Wahhh kelihatannya enak sekali" kata Raf.


"Ayo kita icip-icip" dokter itu kemudian mengangkat hasil masakannya ke arah ruang makan.


"Sini sayang biar aku bantu" kata Raf dan dengan cekatan membawa panci yang dipegang oleh sang istri ke ruang makan, menyisakan Rich dan Runi berdua di dapur.


"Permisi, aku mau ganti baju dulu!" kata Runi sambil menepis tangan pria itu.


"Kita perlu bicara Runi" Rich menatap gadis cantik di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tentang apa?" bertanya dengan tegas.


"Tentang masa lalu kita!" Rich mempererat pegangan tangannya kepada Runi.


"Masa lalu kita? sejak kapan kita punya masa lalu!?" Runi sangat sinis.


"Aku tau kau masih marah dengan perkataanku waktu itu, aku memang brengsek, aku mohon maafkan aku!" Rich menatap dengan penuh permohonan.


"Aku sudah melupakannya!" berusaha menarik tangannya.


"Tidak, aku tau kau masih sakit hati padaku!" Rich menggelengkan kepalanya.


"Ck, sok tau!" gadis itu berdecak.


"Kalau kau tidak marah dan sakit hati, tidak mungkin kan kau begitu sinis padaku!?" kata pria itu.


"Aku sudah malas membahas ini, jadi tolong lepaskan!" menepis tangan Rich dengan sangat kasar.

__ADS_1


"Runiii" Rich yang kalah cepat dari Runi hanya bisa melihat gadis itu pergi menjauh darinya menuju kamar.


..........


"Wahhh ini sungguh sambal yang sangat lezat" Karina memuji masakan Runi setelah dirinya dan Rini pulang dari rumah warga yang baru melahirkan.


"Runi memang paling jago membuat sambal" Menta juga memuji sang sahabat.


"Benar, kau hebat sekali sih Runi" Rini mengangguk.


"Kalau aku jadi laki-laki, aku pasti sudah jatuh cinta padamu, sudah cantik, cerdas, jago masak lagi" Karina berkata dengan polos.


"Oya, ngomong-ngomong apa kau sudah punya pacar?" Rini yang belum mengenal Runi terlalu baik bertanya dengan antusias.


"Pacarnya Runi itu bule, tampan seperti penyanyi Charlie Puth" Menta yang menjawab.


"Benarkah? kalian kenal dimana?" Karina sangat kepo.


"Dia itu dosennya Runi saat kuliah" lagi-lagi Menta yang menjawab, namun kali ini sambil melirik Rich yang sejak tadi tidak pernah melepaskan pandangannya dari Runi.


"Wah sudah bule, tampan, dosen lagi, kau beruntung sekali Runi" sang perawat sangat takjub.


"Terima kasih" Runi hanya menjawab dengan senyumnya yang elegan.


"Apa tante Dini dan Om Hendro sudah pernah bertemu dengan pacarmu?" kini Raf ikut nimbrung.


"Sudah kak, waktu aku wisuda mereka pernah saling berkenalan" angguk Runi.


"Kalau begitu cepatlah diresmikan, jangan ditunda-tunda, LDR itu sangat bahaya, jangan sampai ada orang ketiga diantara kalian" Rini memberi nasehat.


"Benar, apalagi dia tampan dan karirnya mapan, nanti disabet yang lain loh!" angguk Karina.


"Aku percaya padanya, dia adalah pria yang setia dan berkomitmen hanya dengan satu wanita saja, jadi aku tidak khawatir" kata Runi dengan yakin, membuat Rich yang mendengar perkataan itu merasa tertohok.


"Kau sangat berkarakter ya, aku sangat kagum padamu!" sang bidan memuji Runi.


"Benar, kau memang hebat, aku yakin nanti pria yang menjadi suamimu adalah orang yang sangat beruntung" Karina benar-benar menyukai Runi.


"Kalian terlalu memuji" Runi menjadi sungkan sendiri.


Pagi itu mereka sarapan dengan topik obrolan seputar kehidupan asmara Runi. Karina dan Rini yang baru saja kenal dengan Runi jadi sangat penasaran dengan kisah asmaranya dengan sang kekasih yang ada di luar negeri. Sesekali Menta dan Raf juga ikut menimpali obrolan mereka, sementara Rich hanya diam seribu bahasa mendengarkan obrolan mereka sambil terus menatap ke arah Runi yang sama sekali tidak menganggap keberadaannya.


..................


Buat yang mau Runi dan Rich baikan, jangan lupa vote, like, komen, hadiah, share, dan follow ya... Happy readingggg

__ADS_1


__ADS_2