
Tok Tok Tok..
"Permisi tuan muda, ibu direktur dan timnya dari perusahaan Putra Angkasa sudah tiba" seorang sekertaris memberitahu kedatangan Runi kepada sang tuan muda.
"Ahhh, persilahkan mereka untuk masuk" tuan muda Lee begitu bersemangat.
"Selamat pagi tuan muda Lee" sapa Runi dengan sopan.
"Selamat pagi ibu direktur, ayo silahkan duduk" ia kemudian mempersilahkan ketiga kliennya duduk di sofa ruangannya.
"Terima kasih" layaknya seorang eksekutif muda pada umumnya, Runi terlihat sangat profesional.
"Mau minum apa?" tanya sang tuan muda kepada ketiganya.
"Apa saja bebas" masih dengan sikap formalnya.
"Baiklah, sebentar ya" kemudian menghubungi OB untuk menyiapkan jamuan seperti hari sebelumnya.
"Oya, jadi anda mau mulai dari mana survey hari ini?" tuan muda Lee bertanya kepada Runi.
"Bagaimana jika mulai dari melihat raw material yang diolah menjadi produk stengah jadi?" Runi mengajukan usulan.
"Oh tentu saja boleh" angguk pria berwajah oriental itu.
Setelah mengobrol sejenak dan menikmati minuman selamat datang, Runi, Burhan dan Haris pun kemudian mulai melakukan observasi di lapangan yang langsung didampingi oleh pemiliknya.
"Ini adalah bahan baku yang dipakai dalam produksi kami" tuan muda Lee menjelaskan sambil menunjukkan contohnya.
"Apa kami boleh membawa sample ini untuk ditunjukkan kepada tuan Surya?" Runi bertanya.
"Tentu saja boleh" kemudian meminta anak buahnya mengemas seluruh contoh bahan baku yang digunakan untuk diserahkan kepada Surya.
"Terima kasih" Runi tersenyum dan lagi-lagi membuat tuan muda Lee terpesona.
"Sama-sama" jawabnya dengan membalas senyuman Runi.
__ADS_1
"Mari kita lihat lagi proses berikutnya, nanti disana akan ada beberapa tahanan lagi yang akan dilalui sebelum akhirnya selesai menjadi produk siap pakai" jelasnya.
"Baiklah" kemudian Runi berjalan mengikuti arahan sang tuan muda, sementara Haris dan Burhan mengikuti mereka dibelakangnya.
Cukup lama Runi mengamati seluruh prosesnya dengan seksama. Tidak ada satu bahan dan satu tahapan pengerjaan pun yang luput dari perhatiannya.
"Anda ternyata sangat teliti ya bu direktur, senang rasanya bisa bekerja sama dengan anda" tuan muda Lee mencari celah dengan cara menyanjung-nyanjung sang direktur.
"Ah anda terlalu berlebihan, ini memang prosedur kerja di perusahaan kami tuan, kami memang mengutamakan profesionalitas dalam bekerja" ia menjelaskan apa yang selama ini sudah dipelajarinya dari Surya, Adhi dan juga Hendro.
"Sepertinya grup Lee harus belajar banyak dari Putra Angkasa" katanya kemudian yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Runi.
"Permisi tuan, contoh bahan bakunya sudah dikemas, mau ditaruh dimana ya?" tanya seorang pegawai.
"Oh biar kami saja yang bawa" jawab Haris kemudian.
"Bos, kami bereskan ini dulu ya di mobil" Burhan pun berpamitan dan mengikuti sang pegawai.
"Mari kita lanjut" tuan muda Lee mengarahkan Runi ke tempat berikutnya.
"Benar, ini sudah siap dipasarkan" angguknya.
"Bagus, sejauh ini saya puas dengan prosesnya" Runi tersenyum puas.
"Semoga saja dengan adanya kerja sama ini kita bisa semakin berkembang ya bu direktur" kata sang tua muda.
"Amin" wanita cantik itu mengamini.
"Oya, ini sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita berdua pergi keluar untuk merayakan awal kerja sama ini?" pria itu mencari celah.
"Tapi rekan-rekan saya bagaimana?" tanya Runi bingung.
"Biar nanti mereka dibantu oleh sekertaris saya untuk keperluan makan siangnya" katanya lagi.
"Aduh bagaimana ya, tapi saya tidak enak sama mereka" Runi benar-benar merasa tidak nyaman jika harus makan berdua saja.
__ADS_1
"Kenapa mesti tidak enak, ini kan jamuan kerjasama kita, wajar saja bukan kalau dua pemimpin perusahaan mengadakan makan siang bersama untuk merayakan keberhasilan kerja samanya?" berusaha terus meyakinkan.
"Emmm baiklah kalau begitu, tapi mohon bantuannya agar rekan-rekan saya juga tetap mendapatkan makan siang yang layak ya" Runi memastikan bahwa Haris dan Burhan tidak kelaparan.
"Tenang saja, akan saya atur semuanya" senyum kemenangan muncul diwajah pria oriental itu.
"Terima kasih" akhirnya Runi benar-benar menyerah. Sebagai orang yang memiliki profesionalitas yang tinggi, ia tau bahwa menolak ajakan kliennya adalah sebuah bentuk penghinaan, sehingga ia terpaksa menerimanya.
..........
"Kamu mau makan apa?" tiba-tiba sang tuan muda merubah panggilan kepada Runi dari anda menjadi kamu.
"Terserah anda saja tuan muda Lee" kata Runi.
"Jangan panggil tuan muda Lee, rasanya terlalu formal" kata pria itu.
"Lalu saya harus panggil anda dengan panggilan apa?" tanyanya bingung.
"Panggil Jimmy saja, supaya lebih akrab" jawabnya dengan suara lembut.
"Baik tuan Jimmy" angguk Runi.
"Jangan pakai tuan, cukup Jimmy saja, usia kita kan tidak jauh berbeda" ulangnya.
"Sepertinya tidak sopan" istri Rich menyanggah.
"Tidak apa, sama sekali tidak masalah kok!" geleng Jimmy Lee.
"Baiklah" merasa semakin tidak nyaman.
"Emmmm untuk lebih akrab lagi, apa aku juga boleh memanggilmu Runi saja? jadi kita seperti teman lama gitu!?" benar-benar berniat mendekati Runi.
"Terserah saja, bagaimananya nyamannya saja" Runi yang sudah mulai jengah hanya bisa menjawab sekenanya.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih ya Runi" senyum penuh arti terkembang dibibir Jimmy.
__ADS_1
Mereka pun kemudian makan siang bersama sambil mengobrol seputar keseharian masing-masing, lebih tepatnya Jimmy lah yang berusaha mengorek kehidupan pribadi Runi, namun hanya ditanggapi seperlunya saja oleh wanita cantik itu. Meskipun sesungguhnya Runi merasa sangat jengah, namun ia bertahan dan berusaha seprofesional mungkin. Ia tidak mau mengecewakan Surya dengan bersikap tidak baik kepada kliennya.