
Lima tahun telah berlalu dengan begitu cepat, kini Runi sudah berada pada titik akhir masa perkuliahannya.
"Sayang, apa kau sudah siap?" Dini yang sengaja datang untuk menyaksikan prosesi wisuda sang putri pun bertanya kepada gadis yang masih sibuk berkutat di depan cermin itu.
"Iya ma, aku sudah siap" angguk sang gadis.
"Wahhhh anak papa cantik sekali" Hendro begitu kagum melihat putrinya bertransformasi dari bebek buruk rupa menjadi angsa yang sangat cantik selama lima tahun belakangan ini.
"Terima kasih pa" sambil tersenyum manis.
"Ayo kita berangkat, nanti kesiangan loh" Dini mengingatkan suami dan putrinya.
"Oke ma" mereka bertiga pun kemudian berangkat ke tempat digelarnya acara wisuda.
..........
"Hai sayang, kau sudah datang?" Greg menyambut sang kekasih.
"Iya, oya ini perkenalkan mama dan papaku" Runi memperkenalkan mereka.
"Ma, Pa, perkenalkan ini Greg" kata gadis itu dengan malu-malu.
"Halo Om, Tante, perkenalkan saya Greg" pria bule itu memperkenalkan dirinya dengan sopan dan ramah.
"Halo Greg, senang berkenalan denganmu" Hendro yang sudah mendengar hubungan putrinya dengan sang dosen sangat senang bisa bertemu langsung dengan pria itu.
"Halo nak Greg, terima kasih ya sudah membimbing Runi selama ini" Dini yang mendengar prestasi Greg sebagai seorang dosen terbaik dan juga sepak terjangnya di dunia bisnis bersama Runi pun merasa senang.
"Saya juga sangat senang bisa berkenal dengan om dan tante, apalagi sudah diberi kepercayaan untuk dekat dengan Runi" katanya dengan sangat gentle sebagai seorang pria dewasa.
"Oya, ayo silahkan lewat sini, acara wisudanya hampir dimulai" Greg yang menjadi salah satu panitia acara pun kemudian mempersilahkan ketiganya memasuki tempat acara dilangsungkan.
"Terima kasih" Dini dan Hendro kemudian mengikuti arahan Greg dan Runi.
Acara wisuda berjalan cukup khidmat. Runi yang sudah melewati fase ini dengan penuh perjuangan, langsung mengingat kembali masa-masa dimana dirinya harus berjuang meraih cita-citanya itu.
"You did a great job honey" Greg menggenggam jemari sang kekasih, ia seperti bisa membaca pikirannya yang sedang mundur kebeberap tahun silam.
__ADS_1
"Thank you" Runi tersenyum sambil menatap kekasihnya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa semua pencapaian yang diperolehnya saat ini adalah berkat bantuan dan bimbingan dari Greg sebagai seorang kekasih dan juga dosen.
..........
"Apa sudah dibawa semua?" Dini memastikan bahwa Runi sudah membereskan semua barang barangnya.
"Iya ma, sudah semua kok" setelah lima tahun tinggal di rumah ini untuk menempuh kuliahnya, akhirnya Runi pun harus kembali ke negara asal mereka.
"Apa punya Menta sudah dibawa semua juga?" Hendro bertanya.
"Sudah pa, punya Menta sudah tidak ada lagi, dia sudah membawanya terlebih dahulu saat pulang kemarin" kata Runi yang sudah ditinggal oleh sahabatnya pulang terlebih dahulu karena gadis itu harus segera memulai pengabdiannya di desa sebagai seorang dokter.
"Baguslah kalau begitu" Hendro teresenyum lega. Meskipun rumah itu sudah dibeli khusus oleh Surya untuk keperluan kuliah Menta dan Runi, namun mengingat jarak tempuh dari negara mereka cukup jauh, maka Hendro tidak ingin jika ada barang-barang yang tertinggal saat mereka sudah tiba di negaranya nanti.
"Ya sudah yuk kita berangkat" Dini yang selalu tepat waktu tidak ingin ketinggalan jadwal pesawat mereka.
"Ayo" jawab Hendro dan Runi serentak yang kemudian masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat ke bandara.
..........
"Hati-hati di jalan ya, jangan lupa untuk mengabari aku kalau kau sudah sampai" Greg mengelus pipi kekasihnya saat mereka sudah berada di ruang tunggu bandara.
"Pasti, aku pasti akan baik-baik saja. Kau janji harus tunggu aku ya, aku akan datang menyusulmu nanti kalau semua urusanku di sini sudah beres" Greg memang sudah merencanakan untuk pindah secara permanen ke negara asli Runi demi bisa bersama dengan gadis pujaannnya itu.
"He em, aku tunggu kedatanganmu" angguknya dengan yakin.
"Baiklah, sudah waktunya, bersiaplah, jangan sampai ada yang tertinggal ya" Greg membantu Runi menyiapkan kopernya.
"Greg, kami pamit ya" Dini mengulurkan tangannya.
"Hati-hati di jalan tante" sambil membalas uluran tangan Dini.
"Segeralah selesaikan urusanmu di sini, kami menunggumu pulang!" Hendro yang sangat menyukai kepribadian Greg pun sudah memberikan lampu hijau kepada pria itu untuk bisa segera menjadi suami Runi.
"Pasti om, secepatnya akan segera menyusul" pria bule itu merasa senang karena sang calon mertua mengharapkan kehadirannya.
"Bye" Runi memeluk Greg untuk yang terakhir kalinya. Air mata tidak bisa ia bendung saat menghadapi detik-detik terakhirnya di negara itu.
__ADS_1
"Bye, take care ya baby, i love you" Greg menghapus air mata kekasihnya.
"i love you too" balas Runi.
Setelah memasuki pesawat dan duduk di tempat mereka masing-masing, akhirnya Runi pun siap kembali ke negaranya dengan segala kenyataan pahit yang pernah ia tinggalkan sebelumnya lima tahun lalu.
..........
"Welcome home my girl, congrats ya atas kelulusannya" Surya menyambut gadis yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri itu, saat mereka tiba di rumah.
"Terima kasih om" Runi memeluk erat papa keduanya itu.
"Sayang, selamat datang, kau sehat-sehat kan?" Tata memeluk dan mengecup kening Runi.
"Iya tante, aku sehat" angguk Runi sambil membalas pelukan Tata.
"Uhhhh keponakan kesayangan tante sudah pulang" Sekar, adik sepupu Dini pun tidak kalah antusiasnya.
"Tante Sekar, i miss you" Runi benar-benar merindukan tantenya yang ceriwis itu.
"Halo Runi, selamat ya atas kelulusannya" Adhi suami Sekar pun memeluk keponakannya itu.
"Om Adhi terima kasih" bahagia rasanya bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.
"Astaga, Bas, Adit, kalian kenapa sudah besar sekali sih? ahhhh mana ganteng banget lagi!" kemudian ia memeluk kedua ABG yang sudah seperti adik laki-lakinya itu dengan rasa tidak percaya karena mereka berdua tumbuh besar dengan begitu sangat pesat.
"Kan sudah lima tahun kak, masa kami kecil terus!" seloroh Bas.
"Tau, memangnya bolu kurang adonan yang bantet apa!?" Adit pun ikut berseloroh.
"Iya juga sih ya hehehehehe" sambil menepuk-nepuk tubuh keduanya yang mulai terlihat atletis.
"Sudah-sudah, ayo masuk, tante sudah masakan sayur sop iga kesukaanmu loh, ayo kita makan!" Tata kemudian menarik Runi masuk ke dalam rumahnya.
"Woahhhh enak sekali" bertahun-tahun hidup di negeri orang membuat gadis itu merasa rindu masakan rumah yang sering dimasak oleh ketiga wanita kesayangannya itu.
"Pelan-pelan makannya, tidak ada yang minta kok!" Sekar yang melihat Runi makan dengan sangat lahap mengingatkannya.
__ADS_1
"Habis ini enak sekali sih hehehehehe" jawabnya dengan mulut yang masih penuh.
Suasana hangat yang selama lima tahun belakangan ini tidak pernah ia rasakan, kini kembali lagi. Meskipun tidak lengkap semua karena Menta sudah harus mengabdi di desa tempat ia praktek, namun rasa kekeluargaan yang sejak kecil selalu ia rasakan kini kembali lagi. Malam itu mereka semua berkumpul bersama seperti layaknya keluarga besar pada umumnya yang merayakan keberhasilan anak mereka yang sudah lulus kuliah.