
"Loh kok nyonya bos tidak ada ya?" Burhan mengedarkan pandangannya keseluruh area tempat mereka survey.
"Maaf tuan, tadi tuan muda Lee berpesan bahwa beliau dan ibu direktur akan makan siang berdua di luar, jadi saya diminta membantu anda berdua untuk menyiapkan makan siang hari ini" seorang sekertaris grup Lee menghampiri Burhan dan Haris.
"Mereka makan siang berdua saja?" Haris terbelalak.
"Benar, tuan muda Lee bilang makan siang ini untuk merayakan keberhasilan kerja sama antara dua perusahaan" angguk sang sekertaris.
"Ternyata nyonya bos mengirim pesan digrup kita nih tadi sebelum berangkat" Burhan menyodorkan ponselnya kearah Haris.
"Waduh gawat, bisa perang dunia ketiga ini kalau sampai tuan bos tau" Haris menepuk keningnya.
"Mari tuan-tuan ikuti saya, kita pergi ke ruang rapat untuk makan siang, hidangannya sudah disiapkan" kata sekertaris itu lagi.
"Iya baik" angguk Haris.
"Terima kasih" Burhan pun mengikutinya.
..........
Setelah selesai makan siang dan menunggu cukup lama, Burhan dan Haris akhirnya langsung berinisiatif melakukan panggilan video kepada Rich untuk melaporkan kejadian yang baru saja terjadi. Mereka takut jika Rich sampai mengetahui info ini dari orang lain yang tidak bertanggung jawab.
"Halo" Rich mengangkat panggilan videonya.
"Halo bos, kami mau melaporkan kondisi nyonya" kata Haris dengan perasaan cemas.
"Ada apa dengan istriku?" Rich seketika langsung panik.
"Anu bos, tadi saat makan siang nyonya diajak sama tuan muda Lee makan berdua" Burhan memberanikan diri berbicara.
"Apa?!" sontak Rich kalang kabut.
__ADS_1
"Eh tapi bos tenang dulu, karena sesungguhnya nyonya itu hanya menghargai tuan muda Lee saja kok!" Burhan mencoba meredam emosi Rich.
"Iya bos, tadi nyonya chat sama kami kalau sebenarnya ia tidak mau, tapi karena khawatir menyinggung perasaan kliennya, makanya jadi terpaksa mau!" Haris mendukung perkataan Burhan.
"Sekarang dimana istriku?" Rich sudah tidak mau mendengar lagi penjelasan keduanya. Matanya sudah tertutup api cemburu.
"Nyonya masih bersama tuan muda Lee" jawab Burhan.
"Brengsek!! ya sudah, aku menyusul kesana sekarang juga!!" dada suami Runi seperti hendak meledak.
"Eehhhh tuan bos mau kesini sekarang?" Haris terkejut.
"Iya, dengar ya, kalian harus awasi istriku terus sampai aku datang!" kemudian langsung memutus panggilannya tanpa berkata-kata lagi.
"Gawat, perang dunia akan dimulai!" Burhan menatap Haris.
"Bagaimana ini kita sekarang?" Haris pun jadi panik sendiri.
Dengan hati yang cemas, mereka pun akhirnya menunggu Runi dan tuan muda Lee pulang dari makan siang.
..........
"Maaf ya, tadi setelah makan siang saya minta tolong sama Runi mencarikan hadiah untuk seseorang dulu di mall" Jimmy meminta maaf karena waktu makan siang mereka jadi mulur sampai pukul tiga sore.
"Apa pekerjaan kita masih lanjut bos?" Burhan kemudian menatap Runi dengan penuh arti.
"Emmm tidak, survey nya sudah selesai untuk hari ini, besok lagi saja kita lanjutkan" Runi yang paham maksud dari Burhan langsung ingin pulang ke villa The Andersons.
"Baiklah, ayo kita pulang sekarang" Haris langsung mengeluarkan kunci mobil kantor dari dalam sakunya.
"Iya baiklah ayo" angguk Runi dengan senang hati.
__ADS_1
"Kami permisi dulu ya" Runi kemudian berpamitan.
"Iya, terima kasih ya Runi untuk hari ini" Jimmy merasa senang sekali.
"Mari bos, silahkan lewat sini" Burhan memberi jalan untuk Runi layaknya seorang bodyguard yang sedang menjaga bosnya dengan penuh proteksi.
..........
"Bos tadi kenapa lama sekali sih? bikin kami khawatir saja!" tanpa tedeng aling-aling Burhan langsung bertanya kepada Runi saat mereka sudah di dalam mobil.
"Tadi dia memaksaku untuk makan siang berdua, sebenarnya aku sudah menolak, tapi dia terus memaksa jadi aku takut dia tersinggung" Runi berkata dengan jujur.
"Seharusnya kau tunggu kami dulu tadi, kami benar-benar cemas!" meskipun secara posisi Runi adalah atasan mereka, namun secara pertemanan mereka tidak ada batasan dan saling terbuka satu sama lain.
"Maaf ya, jadi bikin kalian cemas" wanita cantik itu merasa bersalah.
"Bukan itu masalahnya, tapi sekarang tuan Rich sedang menuju kesini karena mendengar anda makan siang berdua dengan tuan muda Lee" kata Burhan.
"Loh kok bisa?!" Runi terperanjat.
"Tadi saat kalian berdua pergi tanpa pamit dalam waktu yang cukup lama, kami jadi panik, lalu terpaksa kami lapor sama tuan Rich, kami takut nyonya kenapa-kenapa" Haris mengaku.
"Lalu suamiku langsung jalan gitu!?" ia tidak percaya.
"Iya, kan tau sendiri kalau suamimu itu sangat posesif dan bucin!" Burhan mengangguk sambil menatap kaca spion.
"Padahal tadi kami sudah bilang kalau kalian hanya makan siang saja!" Haris berusaha fokus menyetir walaupun pikirannya bercabang.
"Aduhhhh Tuhan, kenapa jadi begini sih!!!" kepala Runi langsung terasa mau pecah. Ia khawatir suaminya salah paham.
"Tenang saja nyonya, nanti kami akan membantumu kok!" Haris paham kegelisahan Runi.
__ADS_1
"Iya, biar nanti kami bantu jelaskan sama tuan Rich!" Burhan pun mendukung.
"Hufffffff" Runi hanya bisa menarik nafasnya dengan berat. Ia hanya berharap bahwa sang suami tidak cemburu dan salah paham kepadanya.