
"Kalian baru bangun ya?" Marleena bertanya kepada pasangan suami istri yang baru saja keluar kamar pada pukul sepuluh pagi.
"Iya kak, kami kalau weekend memang selalu bangun siang, biasalah kak Rich senang sekali menahanku berlama-lama didalam kamar" kata Runi dengan sikap manja dan bergelayut dilengan suaminya itu.
"Tapi kau suka kan?" Rich meraih dagu sang istri dan kemudian mengecupnya di depan Marleena tanpa rasa malu sedikit pun.
"Sayang, kau ini benar-benar deh, tidak tau malu sama sekali" Runi mencubit perut Rich dengan gemas.
"Awww sayang" sementara yang dicubit meringis, meskipun sesungguhnya cubitan sang istri tidak sakit sama sekali.
"Nyonya, tuan, sarapannya sudah siap" kata Tatik yang baru selesai mempersiapkan sarapan majikannya di dapur. Meskipun sesungguhnya ada pelayan khusus yang bertugas menyiapkan, namun Tatik dengan suka rela membantu Runi demi melancarkan misinya ini.
"Iya mbak, terima kasih ya" kata Runi.
"Oya yang lain sudah pada sarapan?" wanita cantik itu memang selalu memikirkan semua anak buahnya.
"Sudah nyonya, dari jam tujuh tadi malahan" angguk sang pengasuh.
"Baguslah kalau begitu" tersenyum senang.
"Saya permisi ke kamar nona dulu ya" kemudian pamit undur diri.
"Oke mbak" angguk nyonya Richard Anderson itu.
"Ayo sayang kita sarapan, aku sudah sangat lapar" Rich berkata dengan manja.
"Iya yuk" mengangguk lagi.
"Kak Marleena sudah sarapan belum?" tatap mama sambung Chela kepada mama kandungnya.
"Belum, aku sengaja menunggu kalian" jawabnya dengan gaya sok manis.
"Ck" Rich hanya berdecak kesal melihat modus wanita itu.
"Ya ampun kakkk, lain kali jangan menunggu kami ya, makan duluan saja, kami itu kadang suka ngelantur jam makannya, apalagi kalau lagi tanggung, kadang suka malas keluar dari kamar dan minta dibawakan ke dalam kamar!" jelas Runi sambil merangkul lengan suaminya.
"Oh gitu ya" hanya ber oh ria saja.
__ADS_1
"Iya begitulah kami hehehehe, ya sudah yuk sekarang kita makan, pasti kakak laparkan?" sambil kemudian duduk di kursi sebelah kanan sang suami yang sudah ditarik oleh pria itu.
"Iya" angguk Marleena yang kemudian juga duduk di sebelah kiri Rich. posisi mereka bertiga seperti huruf U yang saling berhadapan.
"Rich kau mau makan apa?" Marleena berusaha berinisiatif bertanya sambil mengambil piring kosong, sementara pria itu hanya diam saja.
"Ini sudah aku siapkan kak, tidak usah repot-repot, dia itu hanya mau jika aku yang menyiapkan" Runi kemudian menyodorkan piring berisi menu sarapan kepada suaminya.
"Terima kasih sayang" Rich berkata dengan senyum sejuta watt kepada Runi, membuat Marleena merasa tidak dianggap keberadaannya sama sekali.
"Sama-sama sayang" balas sang istri.
"Selamat makan semua" kemudian Runi menyuap sarapan kedalam mulutnya sendiri.
Sepanjang waktu sarapan yang sesungguhnya sudah menjelang siang itu, Rich dan Runi mengobrol tentang topik yang hanya mereka berdua saja yang tau, seperti halnya tentang kematian pamannya Menta di dalam penjara serta kehadiran anak perempuannya yang berparas mirip dengan Menta. Sementara itu Marleena hanya menjadi pendengar yang seolah keberadaannya tidak dianggap sama sekali oleh mereka berdua.
"Sayang, aku ke dapur dulu ya" setelah sarapan selesai, Runi berkata sambil membawa piring kotor milik dirinya dan sang suami.
"Iya sayang, kalau begitu aku ke ruang kerja dulu ya, mau menelpon Raf sebentar" angguk Rich sambil berjalan ke arah ruang kerjanya.
"Oke sayangku" sang istri pun tersenyum.
..........
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?!" Rich berteriak ketika melihat Marleena masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Rich, aku ingin bicara,," mohon wanita itu.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku sudah tidak ingin berurusan denganmu!" jawab pria tampan itu dengan ketus.
"Tapi kita perlu bicara tentang Chela putri kita!" membawa nama putri mereka sebagai senjata.
"Ck, menggelikan sekali, sejak kapan kau jadi peduli dengan Chela!?" bertanya dengan sinis.
"Rich, aku tau dulu aku sangat jahat padanya, tapi aku sangat menyesal, aku ingin memperbaiki semuanya!" mendekat dan memegang lengan ayah dari putrinya itu dengan kedua tangannya.
"Lepaskan aku!" Rich mendorongnya menjauh.
__ADS_1
"Aku mohon, beri aku kesempatan Rich, ayo kita mulai semuanya dari awal!" Marleena menatap dengan sungguh-sungguh.
"Cihhh!!!" namun Rich hanya berdecih.
"Aku janji akan menjadi istri dan ibu yang baik Rich!" dengan tidak tau malunya wanita itu mengucapkan kalimatnya.
"Dengar Marleena, kalau bukan karena kebaikan hati istriku yang tidak tega dengan Chela, aku tidak akan pernah sudi menerimamu masuk ke dalam rumah ini, jadi jangan pernah berfikir lebih dari itu!" Rich menekankan.
"Tapi Chela butuh kita Rich!" Marleena mulai mendesak.
"Ya sudah, kalau begitu lakukan saja tugasmu sebagai mamanya, karena aku sudah melakukan tugasku bersama istriku dan juga seluruh asistenku di rumah ini!" suami Runi berseloroh.
"Tapi bukan seperti itu yang diinginkan Chela!" Marleena menyanggah.
"Lalu yang seperti apa?!" bertanya sambil berkacak pinggang.
"Dia mau kita bersatu seutuhnya Rich!" jawabnya.
"Kau ini benar-benar gila rupanya? lalu kau pikir aku harus mengorbankan pernikahanku hah?" mulai tersulut emosi.
"Tidak, kau dan Runi tetap seperti biasanya, hanya saja nikahilah aku demi Chela, aku tidak masalah kalau kau mendua!" gelengnya dengan keras untuk meyakinkan.
"Kau tidak masalah, tapi aku dan istriku yang bermasalah!" jawab Rich dengan tajam.
"Dengar ya Marleena, jangan kau pikir aku ini pria bodoh yang bisa kau tipu! Sekali lagi aku tekankan, aku menerimamu disini karena kebaikan hati istriku, jadi bersikap baiklah padanya! Satu kali saja aku lihat kau menyakiti hatinya dengan mengatakan rencana busukmu tadi didepannya, maka aku tidak segan untuk mengusirmu keluar dari rumah ini!" ancam Rich.
"Lalu bagaimana dengan Chela?!" masih mencari peluang.
"Sudah kukatakan, lakukan saja bagianmu sebagai mamanya dengan baik, karena aku sudah lebih dulu melakukan bagianku bersama istriku dan juga asistenku! Jadi kalau kau memang membutuhkan bantuan untuk mengurus Chela, katakanlah kepada asistenku, karena dia yang akan menyiapkan semuanya untuk Chela!" skak mat.
"Cepat pergi dari sini, kau membuang waktuku dengan percuma!" katanya lagi.
"Rich??" Marleena memohon, namun Rich sudah memutar kursi kerjanya menghadap jendela dan menggerakkan tangannya tanda mengusir, membuat Marleena terpaksa keluar tanpa hasil.
.................
Halo semua, terima kasih untuk kesetiaanya membaca novel ini... Maaf ya kalau beberapa hari belakangan agak lama update, karena Rosi sedang ada urusan didunia nyata... Nah untuk membantu Rosi agar terus rajin update, yuk dukung melalui like, komen, hadiah, share, favorit, dan tentu saja vote, mumpung hari senin masih fresh heheheheh...
__ADS_1
Happy reading all...
Luv Luv...