
"Kau kan baru pulang sayang, kenapa buru-buru sekali ingin ke desa sih?" Dini yang masih rindu dengan putrinya protes.
"Kan hanya menengok Menta sebentar saja ma, habis itu juga pulang kok" Runi meyakinkan mamanya.
"Tidak mungkin, mana mungkin kau hanya sebentar kalau bertemu dengan Menta, yang ada bisa-bisa kau ikut menetap di sana!" Dini yang sudah hafal tabiat kedua gadis itu sangat paham bahwa mereka sudah seperti sepatu dan kaos kaki yang tidak bisa dipisahkan.
"Sudahlah sayang, biarkan saja, lagi pula kan desa dekat, tidak sejauh luar negeri, kapan pun kita mau datang menyusul juga bisa" Hendro yang lebih fleksibel menasehati sang istri.
"Ck, kalian berdua ini selalu saja bersekongkol!" Dini kesal dengan kedua orang yang ia sayangi itu.
"Sayangggggg" Hendro menatap dengan penuh cinta kepada sang istri agar tidak marah-marah lagi.
"Ya sudah terserah saja!" akhirnya mau tidak mau Dini mengijinkan, toh Runi memang sudah dewasa dan tidak bisa dikekang lagi seperti dulu saat masih kecil.
"Terima kasih ma, i love you so much!" peluk Runi sambil mengecup pipi sang mama.
"Sudah cepat habiskan sarapannya, nanti keburu dingin" Dini menunjuk piring gadis itu.
"Oke mamaku sayang" sambil menyuap kembali nasi gorengnya.
..........
"Sayangku!?" Menta langsung berhamburan memeluk Runi yang sudah cukup lama tidak ia temui.
"Apa kabar?" tanya Runi.
"Kenapa lama sekali datangnya?" Menta menggerutu dengan sebal tanpa menjawab pertanyaannya.
"Kau tau kan aku harus menyelesaikan kuliah dan kontrak kerjaku dulu baru bisa pulang?" jawabnya.
"Hemmm iya juga sih" gadis itu hanya manggut-manggut.
"Halo kak Raf, apa kabar?" setelah menyapa Menta ia kemudian menyapa Raf yang sejak tadi hanya berdiri diambang pintu rumah dinas.
__ADS_1
"Baik, kau sendiri apa kabar Runi?" tanya Raf balik kepada Runi.
"Baik kak" jawabnya dengan senyum yang menawan.
"Kau sangat berubah ya, jauh lebih dewasa dibandingkan lima tahun lalu" Raf yang terakhir kalinya melihat Runi dengan kaca mata tebal dan kawat gigi serta dandanan polos merasa takjub.
"Terima kasih, kakak juga jauh lebih tampan dan berwiba" sambil menunjuk wajah Raf yang sudah dipenuhi berewok.
"Kau jangan memujiku terlalu berlebihan, nanti ada yang cemburu loh!" goda Raf sambil menarik pinggang Menta dengan sangat posesif.
"Ck, apa sih lebay deh!" Menta bedecak sambil menyikut perut Raf yang berada tepat dibelakang sikunya.
"Awwww sayang sakit" Raf pura-pura merintih, padahal sikutan Menta jelas-jelas tidak sakit sama sekali.
"Hahahahahaha, kalian sangat romantis ya" Runi yang melihat interaksi keduanya setelah mereka rujuk kembali tertawa dengan renyah.
"Ayo masuk, di luar banyak nyamuk" Menta kemudian menarik Runi ke dalam.
"Halo, selamat siang semua" Runi menyapa kedua petugas kesehatan di desa itu.
"Hai" jawab keduanya serentak.
"Kau pasti Karina kan? dan kau Rini? aku Arunika, tapi biasa dipanggil Runi saja!" Runi mengajak keduanya berjabatan tangan.
"Kok tau?" Rini terkejut ketika namanya disebut.
"Menta sering menceritakan kebaikan kalian padaku" jawab Runi dengan senyum terkembang.
"Begitu ya?" Karina merasa gadis yang baru datang itu sangat ramah.
"Kalau aku suka diceritakan juga tidak sayang?" Raf kemudian bertanya kepada sang istri sambil mempererat pelukannya.
"Tidak, buat apa!?" seloroh dokter cantik itu.
__ADS_1
"Kok buat apa? aku kan suamimu!" Raf cemberut.
"Sudah-sudah jangan ribut lagi, ayo duduk" Rini kemudian mempersilahkan tamunya duduk.
"Terima kasih" jawab Runi ramah.
Obrolan seru pun seketika terjadi saat mereka berlima duduk bersama. Dengan mudah Runi membaur dengan Karina dan juga Rini. Mereka mengobrol layaknya teman lama yang sudah saling kenal sebelumnya.
"Kau menginap di sini kan malam ini? masih ada satu kamar kosong kok!" Karina menunjuk kamar di sebelah kamar Menta.
"Iya, biar kita jadi ramai, mumpung weekend" angguk Rini karena merasa Runi gadis yang bersahabat.
"Memangnya boleh?" Runi sesungguhnya hanya berniat datang menjenguk saja tanpa menginap karena ia juga baru saja tiba dari luar negeri kemarin lusa.
"Tentu saja, kalau mau selamanya juga tidak apa-apa, jadi kita ada teman lagi heheheheh" Karina berseloroh.
"Benar, kan semakin ramai semakin seru!" Rini mengamini.
"Wahhhh kalian baik sekali sih, pantas saja Menta sangat senang berteman dengan kalian!" kata Runi memuji keduanya.
"Kita kan disini hanya bertiga dan jauh dari keluarga, jadi sudah seharusnya kan kita saling menyayangi layaknya keluarga sendiri?" Rini berkata.
"Benar, apalagi aku, perantau dari pulau lain!" Karina mengangguk.
"Aku jadi benar-benar iri deh sama kalian, jadi benar-benar ingin tinggal di sini saja" katanya jujur.
"Ya sudah kalau begitu pindah sini saja!" Karina bersemangat.
"Hemmm maunya sih, tapi nanti aku bisa dimarahi sama papanya Menta, kan sekarang aku sudah mulai bekerja di perusahaan Putra Angkasa" Runi menjelaskan.
"Iya juga ya" Rini yang sudah tau identitas Menta yang sesungguhnya adalah putri konglomerat mengangguk-anggukan kepalanya.
Akhir pekan kali ini suasana rumah dinas di desa itu terlihat cukup ceria dari biasanya, dengan kehadiran Runi, para penghuninya pun merasa sangat terhibur karena obrolan seru dan ringan seputar pengalaman Menta dan Runi di luar negeri saat mereka tinggal berdua saja untuk menempuh perkuliahan.
__ADS_1