
"Kau mau kemana?" tanya Menta kepada Runi saat mereka sedang duduk santai di ruang TV ketika akhir pekan tiba.
"Aku mau ke ibukota" jawab Runi sambil memakai sepatu olah raganya.
"Mau ngapain?" Menta mengernyitkan dahinya karena melihat tampilan Runi yang jauh berbeda dari biasanya.
"Mau latihan dance sama Ray, kemarin saat resepsi pernikahamu dia bilang mau memperkenalkan aku sama teman-teman disanggarnya" kata gadis itu lagi.
"Hemmmmm kenapa tidak bilang kalau kau mau ketemu Ray, kan aku juga mau ikutan!" Menta protes.
"Yahhhh mana aku tau kalau kau mau ikutan juga, kan kalian lagi hot hot nya bulan madu, nanti kak Raf bisa protes kalau istrinya di ajak jalan jauh-jauh hehehehe" Runi berkata sambil terkekeh.
"Lalu kau mau berangkat sama siapa?" Menta menyadari bahwa kondisinya memang tidak memungkinkan untuk pergi menemani Runi karena ia baru saja menikah.
"Sendirilah, memang mau sama siapa lagi?" gadis yang dulunya sangat penakut kini berubah menjadi sangat pemberani.
"Mau PP atau menginap?" tanya ibu dokter itu seperti wartawan sedang mengintrogasi mangsanya.
"PP, karena besok aku akan ada kegiatan sosial sama ibu-ibu PKK di sini" Selain cantik dan pintar, Runi memang terkenal baik hati juga. Ia suka sekali melakukan kegiatan sosial dan membantu orang-orang yang membutuhkan disekitarnya.
"Jangan pulang malam-malam ya, bahaya loh di jalan, apalagi kalau sudah masuk jalan desa, kalau matahari sudah terbenam pasti tidak ada lagi orang yang keluar rumah!" Menta menasehati sahabatnya.
"Iya bu dokter siap, paling nanti aku dari ibukota sekitar jam empat sore kok, jadi sampai sini masih belum terlalu malam" jawabnya dengan santai.
"Hah jam empat sore? kau gila ya? kalau jam segitu, nanti sampai sini bisa sudah gelap dong!" sang sahabat terkejut.
"Tenang saja, aku pasti baik-baik saja kok!" Runi meyakinkan pengantin baru itu.
"Apanya yang baik-baik saja? tidak bisa, jangan jam empat, jam dua saja, supaya jam enam kau sudah kembali!" Menta sangat khawatir.
"Benar, akan sangat bahaya kalau kau pulang sendirian terlalu larut Runi" Raf yang duduk di sebelah Menta mendukung sang istri.
__ADS_1
"Tapi acaranya baru selesai jam segitu kak" Runi jadi berfikir dua kali.
"Biar aku temani saja kalau begitu!" Rich yang sejak tadi hanya diam menyimak percakapan mereka pun kemudian mengambil kesempatan untuk dapat berdua dengan Runi lagi.
"Tidak usah kak, nanti merepotkan" Runi menolak dengan halus.
"Tidak, aku sedang tidak ada kegiatan kok, jadi bisa menemanimu sampai kapan pun. Tunggu ya, aku ganti baju dan ambil kunci mobil dulu!" Rich kemudian berlari ke kamarnya.
"Tapi kak,," belum sempat Runi mencegah, Rich sudah menghilang dibalik pintu kamarnya.
"Ya benar kalian jalan berdua saja, itu lebih bagus, minimal kalau pulangnya malam kau tidak sendirian!" Menta menyetujui tawaran Rich.
"Menta!?" Runi menatap Menta dengan tatapan kesal karena secara tidak langsung memberi celah kepada Rich dan memang sengaja ingin mendekatkan mereka berdua lagi.
"Menta benar Runi, kalau Rich menemanimu, minimal kalau ada apa-apa dia bisa membantumu!" Raf yang paham maksud dari sang istri kemudian mendukungnya.
"Ck, kalian suami istri sama saja menyebalkannya!" Runi menggerutu kepada Menta dan Raf, membuat sepasang pengantin baru itu terkekeh geli melihat ekspresi Runi yang salah tingkah. Dengan terpaksa Runi pun akhirnya berangkat dengan diantar oleh Rich.
"Ray itu pria yang waktu jalan denganmu di mall lima tahun lalu bukan?" Rich mencoba membuka obrolan saat mereka sudah mulai berjalan keluar dari desa.
"Iya" jawab Runi dengan singkat.
"Sedekat apa sih kau dengan dia?" nalurinya sebagai seorang pria posesif mulai muncul.
"Lumayan dekat" tetap berusaha menjawab seperlunya.
"Apa kau menyukainya?" Rich tidak tau jika Ray adalah seorang pria melambai yang lebih menganggap Runi sebagai adik perempuannya dibandingkan kekasih.
"Tentu saja, kalau tidak mana mungkin aku bisa akrab dengannya selama ini!" Runi pun tidak mau bersusah payah menjelaskan siapa Ray kepada pria itu.
"Apa kekasihmu tau tentang kedekatan kalian?" mulai mencari pembanding.
__ADS_1
"Tau" angguknya.
"Dia tidak cemburu?" bertanya sambil menoleh sesaat.
"Tidak" lagi-lagi menjawab dengan singkat.
"Cih, pria macam apa dia, kekasihnya dekat dengan pria lain masa tidak cemburu!" Rich mencari celah dan simpati Runi.
"Sejak awal hubungan kami itu dilandasi oleh sikap jujur, terbuka dan saling percaya, jadi biar pun aku dekat dengan banyak pria, dia tetap mempercayai aku, makanya aku pun harus menjaga kepercayaannya!" tegas Runi membela kekasihnya.
"Tapi seharusnya kan dia cemburu, kalau tidak artinya dia tidak mencintaimu!" masih mencoba menjelek-jelekkan Greg.
"Standar cemburu dia dengan kakak itu berbeda jauh, dia adalah pria cerdas yang bisa menempatkan akal dan emosinya pada porsi yang tepat, serta tidak membabi buta. Biasanya orang yang mudah cemburu dan tidak percayaan itu karena pengalaman hidupnya sendiri sangat buruk, misalnya hobi selingkuh atau seorang player, makanya dia selalu cemburu buta kalau ada orang yang dekat dengan kekasihnya, karena menganggap semua orang sejenis dengannya yang suka celup sana celup sini!" perkataan Runi menohok Rich.
"Runi,," Rich seperti mati kutu seketika mendengar perkataan gadis itu.
"Kenapa?" wajah pongah Runi muncul seketika.
"Maaf,," merasa tersindir oleh Runi, akhirnya Rich pun berefleksi terhadap dirinya.
"Kenapa mesti minta maaf? memangnya kakak salah apa sama aku?" bertanya sambil membuka ponselnya.
"Kau pasti masih sakit hati sama ulahku dulu kan? maafkan aku ya!?" Rich menoleh lagi ke arah gadis itu.
"Aku sudah melupakannya kak, itu sudah masa lalu!" jawabnya santai.
"Tapi aku masih melihat itu dimatamu" Rich menarik tangan Runi dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku hanya tidak suka kalau kakak terus memancing aku seperti tadi. Kita ini sudah selesai, aku ingin kita move on dengan cara yang baik. Jadi aku mohon jangan pancing-pancing aku terus kak!" sambil menarik tangannya kembali.
"Maaf" hanya kata maaf yang bisa Rich ucapkan. Ia menyadari bahwa masa lalunya yang buruk sebagai seorang casanova ditambah sikapnya yang pernah memperalat Runi untuk dijadikan tameng kepada sang mommy, membuat gadis itu lebih memilih pria lain yang dianggapnya lebih baik dalam segala hal.
__ADS_1
"Sudahlah jangan dibahas lagi, mari kita berteman dalam damai, kita kan sudah sama-sama dewasa, jadi lebih baik kita tatap masa depa saja ya!" Runi kemudian memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya. Sementara Rich fokus mengendarai mobilnya dalam diam seribu bahasa sambil sesekali melirik ke arah gadis itu untuk mengamati wajah cantiknya yang semakin hari membuatnya semakin gila karena tidak bisa memilikinya.