
"Runi, apa kau sudah selesai?" Greg melihat pekerjaan Runi.
"Sedikit lagi" kata gadis itu sambil tetap fokus mengetik.
"Sini biar aku bantu" pria bule itu kemudian menarik kursi agar bisa duduk sejajar dengan Runi.
"Tidak usah pak, ini tinggal sedikit lagi kok, kan tinggal ini saja, hanya butuh diakumulasikan" jawab Runi sambil mengetik angka-angka yang ada di kertas.
"Sudah tidak apa-apa, sini" kemudian Greg mengambil alih pekerjaan gadis itu.
"Terima kasih" pada akhirnya Runi pun menyerahkan pekerjaan itu pada Greg.
"Sama-sama" jawabnya sambil tersenyum manis.
"Oya Runi, ngomong-ngomong nanti sebelum pulang kita mampir makan malam dulu yuk" sang dosen mengajak Runi.
"Emmmmm, gimana ya" menjawab dengan ragu.
"Pliss jangan menolak" Greg memohon.
"Baiklah" meskipun ia sesungguhnya tidak begitu berminat untuk makan malam di luar rumah, namun karena tidak enak jika harus menolak ajakan sang dosen, maka ia pun terpaksa menyetujuinya.
"Yesssss" terlihat ekspresi Greg begitu gembira.
..........
"Kau mau makan apa?" Greg bertanya saat mereka sudah berada di jalan raya.
"Terserah bapak saja, saya ikut" jawab Runi dengan sopan.
"Bagaimana kalau kita makan makanan Jepang saja?" usul sang dosen.
"Boleh, silahkan" jawabnya.
"Oke" kemudian ia melajukan mobilnya ke arah restoran Jepang yang cukup ternama di daerah itu. Tidak perlu menempuh jarak yang jauh untuk mereka bisa sampai di tempat makan yang dituju, karena tempat tinggal mereka memang berada di pusat kota yang cukup lengkap pusat kulinarinya.
"Ayo" Greg meraih tangan Runi saat mereka sudah turun dari mobil.
"Ehhhh iya" Runi yang digandeng sempat terkejut namun tidak bisa menolak.
"Kau mau makan yang mana?" tanya pria bule itu kepada gadis yang duduk di depannya.
"Aku sama dengan yang bapak pesan saja" jawabnya sopan.
"Apa tidak mau pesan yang lainnya lagi?" Greg bertanya sebelum sang pelayan menyiapkan makanan mereka.
"Tidak, sudah cukup" geleng gadis itu.
"Oke, baiklah kalau begitu" katanya sambil memyodorkan buku menu kepada pelayan restoran.
..........
"Runi" Greg menunjukkan wajah serius saat mereka sudah menyelesaikan makan malamnya.
"Ya?" jawabnya sambil mengelap sisa makanan yang tertinggal dibibirnya dengan tissue.
"Aku ingin bicara serius padamu" wajah pria otu sangat tegang dan gugup.
"Ada apa pak?" Runi merasa ada yang aneh dengan sikap dosennya itu.
__ADS_1
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu" sambil meraih tangan Runi dan menggenggamnya dengan erat.
"Iya silahkan pak" gadis itu benar-benar tidak tau arah tujuan pembicaraan sang dosen.
"Aku sebenarnya sangat mencintaimu, sejak pertama kita bertemu aku sudah jatuh hati padamu Runi, dan saat ini cintaku tumbuh berkali-kali lipat setelah kita lebih dekat lagi" tatapan mata pria itu terlihat begitu penuh damba.
"Pakkk,," ia tidak menyangka kalau dosennya akan mengungkapkan isi hatinya seperti itu.
"Maukah kau menjadi kekasihku?" Greg sudah tidak bisa lagi menutupi isi hatinya.
"Pakkk,," seperti disambar petir, Runi membeku seketika.
"Kalau kau bersedia, aku ingin kita menjalin hubungan yang serius, aku tidak ingin main-main denganmu, aku ingin kelak kau menjadi pendamping hidupku selamanya" entah keberanian dari mana yang membuat Greg langsung melamar Runi begitu saja, bahkan ketika ia tidak tau isi hati gadis itu yang sesungguhnya.
"Pakkk,," lagi-lagi ia hanya bisa memanggil dosen itu.
"Aku tau ini mungkin terlalu cepat untukmu, tapi aku hanya ingin kau tau bahwa aku serius padamu, aku tidak mau kau menyangka bahwa aku hanya sekedar main-main saja" usia yanh sudah cukup matang membuat Greg mempunyai visi dan misi hidup yang jelas, terutama tentang konsep hidup berrumah tangga.
"Apa kau bersedia menjadi kekasihku?" sambil menggenggam erat tangan Runi.
"Aku,," benar-benar dibuat bingung.
"Aku mohon beri aku kesempatan, aku akan buktikan bahwa aku sangat serius padamu" tatapan memohon terpancar dari wajah bule itu.
"Baiklah" meskipun belum ada cinta dihatinya untuk Greg, namun Runi mau mencoba untuk membuka hatinya bagi pria itu. Ia berfikir bahwa lebih baik bahagia karena dicintai seseorang dari pada harus menderita karena mencintai seseorang. Hal ini tentu saja tidak lepas karena pengalaman pahitnya dimasa lalu yang pernah diperalat oleh pria yang sangat ia cintai dengan sepenuh hatinya.
"Benarkah? apa kau serius mau menerimaku?" Greg tidak bisa membendung perasaan bahagianya.
"He em" angguknya sambil tersenyum.
"Terima kasih, terima kasih Runi" bila tidak ingat ia sedang berada di tempat umum, pria itu pasti sudah melompat serta berteriak dengan sangat kencang.
"Tentu saja aku akan setia, aku akan melakukan apapun agar kau bisa bahagia, bahkan nyawaku pun aku akan pertaruhkan demi dirimu!" ia memang benar-benar mencintai Runi.
"Terima kasih pak" Runi senang karena ada pria yang benar-benar mencintainya dengan sepenuh hati.
"Sama-sama" sambil mengecup punggung tangan gadis yang baru saja resmi menjadi kekasihnya.
..........
"Terima kasih ya pak untuk hari ini" Runi yang hendak turun dari mobil berkata.
"Tunggu sebentar Runi" Greg meraih tangan kekasihnya.
"Ya?" gadis itu menoleh.
"Boleh tidak aku menciummu?" Greg bertanya dengan sangat polos.
"Hahhh?" entah mengapa Runi ingin tertawa karena melihat bahwa pria yang sudah menjadi kekasihnya itu begitu terlihat lugu.
"Boleh tidak?" tanya Greg lagi.
"He em" karena Greg begitu sopan, Runi pun tidak tega untuk menolaknya.
"Terima kasih ya" satu kecupan manis melayang di bibir gadis itu dari kekasih barunya.
"Sama-sama" jawab Runi.
"Kalau begitu saya masuk dulu ya pak" kemudian bersiap membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Eh tunggu" lagi-lagi menahan.
"Kenapa?" gadis itu kembali pada posisinya.
"Bagaimana kalau mulai sekarang jangan panggil 'pak' dan 'saya' lagi?" kata pria itu.
"Lalu harus panggil apa?" Runi bingung.
"Panggil 'sayang' dan 'aku' mungkin supaya tidak terlalu formal?" usulnya.
"Baiklah" angguk Runi sambil membuka pintu mobil lagi.
"Ehhhhh tunggu" untuk ketiga kalinya menahan.
"Apa lagi?" Runi mulai kesal.
"I love you Putri Arunika" ucapnya dengan sangat manis, membuat Runi meleleh.
"I love you too" meskipun belum ada cinta di hati Runi untuk Greg, namun karena pria itu begitu baik padanya, ia pun tidak tega jika harus menyakitinya.
"Good night, have a good dream" lanjut Greg.
"Good night, have a good dream too" senyum Runi sambil membuka pintu mobil untuk turun dan kemudian bersiap masuk ke dalam rumah setelah mobil kekasihnya melaju.
..........
"Kau dari mana hari gini baru pulang?" Menta mengintrogasi.
"Habis mengerjakan proyek" jawab Runi sekenanya.
"Proyek apa proyek?" goda sang sahabat.
"Apa sih?" Runi melihat kalau ada sinyal jahil.
"Sejak kapan proyek ada acara kecup mengecup segala?" secara tidak sengaja tadi Menta melihat Greg mengecup bibir Runi.
"Ihhhh kau ngintip ya?" Runi berkacak pinggang.
"Tidak, siapa suruh ciumannya ditempat umum, kan jadi banyak yang lihat!" Menta berkilah.
"Ishhhhh" Runi tidak bisa menjawab lagi.
"Apa kalian sudah jadian?" Menta menatap wajah Runi dengan lekat.
"Duhhh apa sih, sana ahhhh, aku mau tidur" menghindar dari sang sahabat.
"Ehhhh mau kemana? jawab dulu!" Menta menahan tangannya.
"Mentaaaa ihhhhhhh" malu-malu.
"Jadi benar sudah jadian!?" terus memaksa.
"Mentaaaaa" protes karena malu.
"Ciye ciye ciyeeee, jangan lupa ya pajak jadiannya!" meskipun Menta tau jika di hati Runi masih tersemat nama Rich, namun melihat adanya kemajuan dalam hubungan sang sahabat dengan Greg membuatnya senang.
"Apa sih, udah ah sana, aku mau tidur!" kemudian berlari dengan langkah seribu menuju kamarnya.
"Ciye malu malu segala hahahaha" sementara sang sahabat terus saja menggoda.
__ADS_1