
Keesokan harinya,
"Hei pelayan, kenapa kamar Chela dikunci?" Marleena yang hendak beristirahat di kamar putrinya setelah selesai sarapan, protes kepada Tatik yang saat itu sedang sibuk di dapur membantu para pelayan untuk merapikan sisa sarapan keluarga besar majikannya.
"Aku hanya menjalankan perintah saja!" jawab sang pengasuh sekenanya.
"Memangnya siapa yang memerintahmu!?" dengan sangat arogan Marleena berkacak pinggang.
"Aku! kenapa?" Rach yang juga kebetulan sedang sibuk membantu di dapur dan melihatnya ngomel-ngomel langsung pasang badan didepan Tatik.
"Kenapa pakai dikunci segala!?" protesnya.
"Ya karena Chelanya sudah tidak ada, jadi kamarnya harus dirapikan dan dikunci kembali seperti sebelumnya!" jawab Rach dengan santai.
"Tapi barang-barangku masih di dalam semua!" Marleena protes.
"Barang-barangmu sudah ada di pos satpam semua, jadi kau tidak perlu repot mengemasinya lagi! Silahkan kau ambil di depan dan segera pergi dari rumah ini!" Rach mengusir wanita itu.
"Kau mengusirku? memangnya apa hakmu!?" nada suara Marleena meninggi.
"Hakku? kau lupa siapa aku? aku ini saudara kembarnya Rich, jadi selain Runi dan mom, aku adalah wanita ketiga yang berhak mengatur kondisi rumah ini dari serangan hama pengganggu sepertimu!" Rach tidak kalah untuk meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Ada apa ini!?" Rich yang mendengar keributan di dapurnya langsung mencari sumber suara tersebut.
"Rich, dia mengusirku!" Marleena mengadu kepada sang empunya rumah.
"Bukankah memang sudah seharusnya kau pergi?!" ucapan Rich membuat Rach merasa menang telak atas Marleena.
"Kau jahat sekali Rich!" Marleena memasang wajah memelas.
"Runi, kau tidak akan tega mengusirku dari sini kan? aku tau kau sangat baik padaku!" kini hanya Runi harapan satu-satunya.
"Maaf kak, tidak ada lagi alasan untuk aku mengijinkanmu tetap berada di rumah ini. Kalau kemarin aku berbaik hati, itu murni karena aku menyayangi Chela dan ingin melihat dia bahagia bersama mamanya. Meskipun pada faktanya kebaikanku kau salah gunakan dengan mencoba merayu suamiku untuk menjadikanmu istri keduanya!" Runi berkata dengan tegas.
"Katakanlah itu demi Chela dan aku bisa menerima alasan itu kemarin, tapi bagaimana kalau besok-besok itu terjadi lagi?" Runi memicingkan mata.
"Tidak, aku janji tidak akan!" gelengnya dengan cepat.
"Maaf kak, aku ingin menjaga keutuhan rumah tanggaku, aku tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun dengan tetap menerimamu disini!" kini Runi yang menggelengkan kepalanya.
"Kau sudah dengar kan apa yang dikatakan oleh sang nyonya rumah? jadi sekarang cepat pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!" Rach berkata dengan penuh kemenangan.
"Kalian jahat, lihat saja nanti pembalasanku!" dengan amarah yang sangat membara, Marleena akhirnya terpaksa pergi meninggalkan rumah mewah yang selama ini ia harapkan menjadi miliknya.
__ADS_1
"Dasar wanita gila, tidak punya urat malu!" Sera geleng-geleng kepala.
"Tidak mungkin kan kalau dia bersikeras tetap tinggal disini tanpa modus, padahal jelas-jelas Chela sudah tidak ada!" Rach masih diliputi emosi.
"Tentu saja, sudah jelas dia itu mengincar Rich dan juga harta warisannya!" jawab Gaby.
"Amit-amit!!!" Menta mengelus perutnya yang buncit.
"Eh tapi ngomong-ngomong kenapa idemu hebat sekali sih? bisa-bisanya kau mengeluarkan barang-barangnya dan mengunci pintunya!" Sera bertanya dengan penasaran kepada Rach.
"Sebenarnya itu idenya mbak Tatik, dia tadi membisikan ide itu kepadaku setelah semua peralatan medis Chela dibawa kembali ke rumah sakit dan barang-barangnya Chela dirapikan!" jelas Rach.
"Woahhhh mbak Tatik, kau memang pahlawanku" Runi memeluk pengasuh kepercayaannya itu.
"Ah nyonya bisa saja" Tatik yang dipuji merasa tersanjung.
"Tapi kau harus tetap waspada ya Runi, biasanya orang seperti itu nekad, kau ingat kan kasusnya Paula?" Menta memperingatkan Runi.
"Benar, seperti Vita mantannya papa Divo juga begitu. Pokoknya kau jangan sampai lengah ya!" Gaby setuju dengan perkataan Menta.
"Iya kak" Runi yang diperingati langsung mengangguk. Ia sangat bersyukur memiliki banyak saudara ipar yang baik dan mau menolongnya.
__ADS_1