
Tok Tok Tok...
Tengah malam kamar pasangan suami istri itu diketuk secara tiba-tiba.
"Sayang lepaskan" Runi mendorong dengan lembut suaminya yang tertidur pulas sambil memeluknya erat.
"Eeeemmmmmm ada apa?" Rich yang tidak mendengar ketukannya bertanya.
"Ada yang mengetuk pintu, aku ingin lihat dulu, takutnya penting" Runi kemudian menutupi tubuh polosnya dengan kimono tidur yang terbuat dari bahan katun nan lembut.
"Mbak Tatik ada apa?" Runi melihat wajah cemas dari pengasuh kepercayaannya itu.
"Nona Chela kejang-kejang" jawabnya dengan bibir gemetar.
"Astaga!" tanpa berbalik melihat ke arah Rich, Runi langsung berlari menuju kamar putri sambungnya diikuti oleh sang pengasuh, sementara Rich menyusul kemudian setelah mengenakan kimononya.
"Kak ada apa?" Runi yang melihat Chela sedang ditangani oleh tim medis, kemudian bertanya kepada Marleena.
"Tiba-tiba saja Chela kejang-kejang hiks hiks" Marleena berdrama sok menunjukkan sisi keibuannya.
"Bagaimana dokter?" tanya Rich kepada seorang dokter setelah mencoba mengendalikan kondisinya.
"kondisinya menurun drastis tuan, beberapa organ tubuhnya harus dibantu dengan alat buatan, kami akan memasang ventilator untuk membantu nona bernafas" jawab sang dokter.
"No way!" Rich langsung berjalan mendekati tubuh lemah itu dan menangis tersedu sedu.
"Sayang, anak papa, ayo bangun, buka matamu nak, lihat papa!" Rich meraih jari-jari yang terkulai lemah itu dan mengecupnya dengan lembut.
__ADS_1
"Chela cantik, lihatlah ini ada papa, mama Runi dan mama Leena, kami ada disini untuk Chela, ayo buka matamu!" katanya lagi.
"Rich,," Mendengar pria itu menyebut namanya seperti dulu, Marleena kemudian mencoba mencari lecah dengan maju dan menyentuh bahunya lalu duduk sejajar dengan sangat rapat padanya dan menyandarkan kepalanya dibahu pria itu. Sementara Rich yang tidak sadar akan posisi Marleena seolah menerima perlakuannya begitu saja, karena fokusnya saat ini memang hanya tertuju pada Chela.
"Aku akan menelpon mommy dan yang lainnya" kata Runi untuk mengalihkan rasa cemburunya melihat bagaimana mereka bertiga layaknya keluarga sungguhan, sementara ia hanya orang asing yang berada ditengah-tengah mereka.
..........
"Mom, Dad" Runi yang sedang duduk di sofa kemudian menyambut ibu dan ayah mertuanya yang baru tiba.
"Bagaimana kondisinya?" Ron bertanya sambil menatap Chela yang sedang ditemani oleh Rich dan Marleena.
"Kondisinya semakin menurun dad, baru saja dokter memasang ventilator untuk membantunya bernafas" kata Runi sambil menatap ketiga orang yang berada ditempat tidur.
"Kau tidak kesana?" Ron bertanya kepada sang menantu sambil menunjuk ke arah tempat tidur, Ia begitu jengah melihat bagaimana Marleena yang dengan tidak tau malunya menempelkan kepalanya dibahu Rich dengan sangat erat.
"Sayang" Ayu kemudian menggenggam tangan menantunya. Ia paham pasti Runi sangat terluka menyaksikan pemandangan ini.
"Ayo mom, dad, silahkan duduk" Runi kemudian mengajak mereka duduk di sofa yang berada tepat di sebrang tempat tidur itu untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sayang kau jangan cemas ya, kami semua akan ada disampingmu, kami selalu mendukungmu!" Ayu seolah paham isi hati sang menantu yang sedang hancur melihat Rich duduk bersanding dengan wanita yang dulu pernah menjadi rekan ranjangnya hingga melahirkan seorang anak.
"Aku baik-baik saja mom" senyum Runi sekilas.
"Tidak apa-apa sayang, wajar kalau kau kenapa-kenapa kok, mommy paham posisimu!" ia kemudian mengelus kepala Runi untuk memberikan penguatan.
"Rich, kemarilah!" Ron yang sejak tadi hanya diam mengamati, akhirnya memanggil sang putra.
__ADS_1
"Ya dad?" Rich bangkit dan mendekat kearah sofa.
"Mom mu mau gantian menjaga Chela, jadi kau duduklah disini bersama istrimu!" Ron kemudian memberi kode kepada istrinya untuk melakukan apa yang sejak kemarin ingin sekali dilakukan terhadap Marleena.
"Mom,," dengan tidak tau malunya Marleena menyapa Ayu dengan panggilan mom saat istri Ron itu mendekat ke arah tempat tidur, namun yang disapa tidak menggubrisnya sama sekali.
"Chela, cucu grandma, cepat sembuh ya cantik, katanya Chela mau jalan-jalan lagi naik kapal pesiar sama papa Rich dan mama Runi seperti kemarin?" Ayu mengajak ngobrol cucunya yang sedang terpejam dalam kondisi kritis.
"Chela anak pintar, kan katanya mau punya adik, ayo bangun, papa Rich dan mama Runi akan kasih adik yang banyak buat Chela agar tidak kesepian lagi!" wanita cantik itu sengaja menyebut nama Runi berulang kali di depan Marleena sebagai bentuk pengakuannya terhadap sang menantu.
"Mom, Chela baru saja diberikan obat tidur, mungkin beberapa jam kedepan kondisinya akan seperti ini terus" Marleena mencoba menjelaskan.
"Kau siapa ya? kenapa memanggilku mom? aku tidak mengenalmu dan tidak pernah melihatmu sama sekali sebelum ini!" Ayu berkata dengan ketus.
"Aku Marleena, mama kandunya Chela" meskipun Marleena yakin bahwa sesungguhnya Ayu tau siapa dirinya, tapi ia tetap memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Cih, dari mana saja kau selama ini? kenapa baru muncul sekarang? apa dagangan kue apemmu sudah tidak laku lagi? jadi kau memutar haluan dan mengemis pada anak serta menantuku atas nama Chela!?" Ayu tidak berbasa-basi sama sekali.
"Mom, aku sunguh minta maaf atas segala kesalahanku selama ini, aku sungguh menyesal, kini yang aku inginkan hanya bisa hidup tenang dan bahagia bersama Chela" kata Marleena sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada.
"Ck, dasar ular penipu, dengar ya, kau bisa saja membuat hati menantuku yang sangat baik itu menjadi luluh, tapi tidak dengan aku, jangan pernah kau berharap apapun dariku!" untuk urusan seperti ini Ayu memang terkenal jago sejak ia masih muda.
"Mom, aku mohon beri aku satu kesempatan saja, aku akan buktikan bahwa aku sungguh-sungguh dan sudah berubah!" Marleena memohon dengan iba.
"Jangan panggil aku dengan sebutan mom, karena kau tidak ada hubungan apapun denganku!" Ayu menghardik.
"Maaf" Marleena yang awalnya merasa sempat memiliki peluang karena Rich sempat tidak menolaknya saat merebahkan kepala dibahunya, kini kembali seperti mengalami jalan buntu setelah ditolak mentah-mentah oleh Ayu. Sementara itu ketiga orang yang sedang duduk disofa hanya menatapnya dalam diam dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1