
"Nyonya, wanita itu sudah datang" Tatik memberi info kepada Runi saat Marleena datang pada pagi menjelang siang hari berikutnya.
"Bagus, suruh dia langsung masuk ke dalam kamar Chela" senyum misterius terkembang di wajah Runi.
"Baik nyonya" Tatik yang begitu loyal terhadap majikannya pun merasa bersemangat menyambut Marleena. Sang pengasuh begitu tidak sabar mengeksekusi Marleena setelah semalam ia dilibatkan dalam rencana yang dibuat oleh cucu-cucu perempuan keluarga Anderson.
"Aku akan memantau di dalam kamarku ya mbak" katanya kemudian.
"Iya nyonya" angguk Tatik dengan penuh semangat membara.
..........
"Silahkan masuk" Tatik menunjukkan wajah tegas, ia tidak mau berbasa-basi dengan Marleena yang dianggapnya tidak penting.
"Dimana Rich?" dengan nada yang tidak sopan ia bertanya kepada Tatik, namun yang ditanya tidak menjawab.
"Hey kau tuli ya? aku berbicara padamu!" wanita itu menghardik Tatik.
"Jika anda ingin dihargai, maka tolong hargai terlebih dahulu lawan bicara anda!" Tatik menatap tajam.
"Kurang ajar, hanya pembantu saja gayanya selangit!" melirik dengan wajah jijik.
"Saya memang hanya seorang pembantu, tapi saya punya kuasa penuh atas semua hal di rumah ini, karena tuan dan nyonya sudah menganggap saya sebagai orang kepercayaan mereka, jadi saya bisa berbuat apapun yang menurut saya baik untuk kesejahteraan rumah ini, bahkan saya bisa mengusir anda sekarang juga jika saya mau!" sang pengasuh sungguh bermental baja.
"Cih, minggir!" Marleena yang merasa kesal kemudian langsung mendorong Tatik dan berjalan menuju kamar putrinya.
..........
"Mamaaaaaa" Chela tersenyum saat Marleena masuk ke dalam kamarnya.
"Sayangnya mama" memeluk dengan gaya sok perhatian.
"Chela senang mama datang lagi" gadis itu tidak bisa menutupi perasaan bahagianya.
"Mama juga senang, oya bagaimana dengan papa, apakah mama boleh tinggal di sini?" tanpa basa-basi, Marleena langsung bertanya kepada sang putri, karena memang itu yang sesungguhnya ia harapkan dari Chela, yaitu bisa tinggal di rumah mewah ini dan menjadi nyonya besar menggantikan posisi Runi.
"Boleh ma, semalam papa memberikan ijin, jadi mama bisa tinggal di sini" angguk Chela.
"Benarkah? wah anak mama pintar ya, bisa membujuk papa dengan baik!" langkah awal ia rasa berhasil.
"Iya, mama Runi juga mengijinkan kok, malah katanya mama boleh tinggal di sini sampai kapan pun!" katanya dengan polos.
"Begitu ya? mama Runimu baik sekali!" Marleena berpura-pura memuji Runi, padahal dalam hatinya dia justru mengatai nyonya Richard Anderson itu bodoh karena telah memberinya jalan untuk merebut sang suami.
"Iya, mama Runi memang sangat baik, dia sangat menyangiku!" ketulusan hati Runi membuat Chela menyanjungnya.
"Oya, papa dimana sayang?" Marleena yang sejak tadi ingin sekali bertemu dengan mantan teman ranjangnya dulu sangat penasaran.
"Tadi pagi papa sudah berangkat ke kantor, hanya ada mama Runi saja, mungkin sekarang lagi bekerja di dalam kamar atau ruang kerja" jawab Chela. Demi menyambut 'tamu spesial' Runi memang sengaja meminta ijin kepada Surya untuk dapat bekerja dari rumah.
__ADS_1
"Ooohhhh" rasa kecewa menjalari hati wanita itu. Pada akhirnya yang bisa dilakukan oleh Marleena hanyalah duduk mengobrol dengan Chela dengan pengawasan ketat dari sang pengasuh.
..........
"Sayang, kau sedang apa?" Runi melongok ke kamar Chela.
"Mama Runiii" Chela menyambut Runi dengan sangat ceria.
"Eh ada tamu rupanya" Runi memasang wajah ramah.
"Halo nyonya" Marleena berpura-pura sopan.
"Jangan panggil nyonya, panggil Runi saja supaya lebih akrab" katanya masih berbasa-basi dengan manis.
"Oh, iya baiklah Runi" angguk Marleena.
"Oya, Chela sudah makan belum?" tanya sang ibu sambung.
"Sudah ma, tadi mbak Tatik yang menyuapin" angguk Chela.
"Oh ya sudah kalau begitu, tadinya kalau belum makan, mama mau makan bareng sama Chela" kata wanita cantik itu.
"Aku sudah kenyang ma, perut aku malah mau meledak nih" Chela berseloroh. Meskipun sakit parah, namun gadis itu begitu bahagia karena kedua mamanya bisa berkumpul bersama.
"Memangnya perut Chela bom?" Runi menggoda sang putri sambil menggelitik perut gadis cilik itu.
"Oya kak Marleena pasti belum makankan? bagaimana kalau kita makan bersama?" ajak Runi.
"Aduh aku jadi tidak enak nih" berpura-pura sungkan.
"Jangan begitu ah, kan kita saudara" kemudian Runi meraih lengan Marleena dan mengajaknya keluar kamar.
"Sayang, kami makan siang dulu ya, Chela istirahat dulu saja, nanti kalau mama berdua sudah selesai baru kita ngobrol lagi, oke!?" kata Runi sebelum menghilang di balik pintu.
"Oke ma" angguknya mengiringi kepergian kedua mamanya.
..........
"Ayo kak, silahkan dimakan, maaf ya seadanya saja, tadi kak Rich kebetulan hanya memesan masing-masing menunya satu porsi saja untukku, karena dia tidak tau kalau kak Marleena akan ikut makan juga!" kata Runi.
"Ah iya tidak apa-apa, ini juga sepertinya akan kebanyakan kok kalau untuk kita berdua" ia menatap makanan mewah yang tersaji di depannya. Meskipun hanya satu porsi untuk setiap menunya, namun ia memperkirakan bahwa ini seharusnya bisa dimakan oleh tiga atau empat orang.
"Selamat makan kak" Runi memulai makan siangnya.
"Selamat makan" jawab Marleena.
Kringggggg....
Ponsel Runi berdering, menunjukkan nama 'Sayangku' yang artinya Rich sedang melakukan panggilan mode video.
__ADS_1
"Sebentar ya kak, aku angkat dulu" kata Runi sambil memencet tanda terima.
"Iya" angguk wanita itu sambil melanjutkan makannya namun tetap dengan mode menyelidik untuk mendengarkan percakapan Runi yang ada di depannya.
"Sayang, kau sedang apa?" suara Rich terdengar begitu manja.
"Aku sedang makan siang sayang" jawab Runi tidak kalah manja.
"Apa kau suka menu makan siangnya?" Rich bertanya dengan sangat perhatian.
"Tentu saja, ini sangat enak sayang, kau pesan dari mana sih?" tanya sang istri yang pura-pura penasaran.
"Aku pesan khusus dari restoran Italia, tadi pagi aku khusus menghubungi Chefnya untuk meminta dibuatkan makanan yang sangat spesial untuk istri tercintaku!" jawab Rich.
"Issshhh dasar kau ini gombal!" Runi pura-pura tersipu malu.
"Aku tidak gombal sayang, aku memang sengaja memesannya untuk ratuku!" jawab Rich meyakinkan. Sementara Marleena yang mendengar perkataan pria itu langsung merasa dongkol.
"Oya, ngomong-ngomong berapa ini harganya?" pancing sang istri.
"Murah kok, hanya lima puluh jutaan saja total seluruhnya!" dengan enteng menjawab.
"Hemmm lumayan murah ya ternyata" Runi menanggapi dengan santai tanpa rasa terkejut, sementara Marleena langsung tersedak mendengarkan nominalnya. Meskipun ia selama ini selalu hidup dalam kemewahan bersama para laki-laki yang menjadikannya simpanan, namun baru kali ini ia mendengar harga makanan yang sefantastis itu.
"Ya sudah, lanjutkan makan siangmu ya cintaku" Rich pada akhirnya berkata.
"Iya baiklah" angguk Runi.
"Yang kenyang ya sayang, karena kau harus siapkan tenaga untuk nanti malam" sang suami memberi kode.
"Kau ini kenapa mesum sekali sih!?" jawab Runi dengan manja.
"Tapi kau suka kan kalau aku mesum heheheh" terkekeh geli.
"Issshhhh dasar!" memajukan bibir.
"Ya sudah, sampai nanti sore ya permaisuri hatiku, i love you baby" Rich mengakhir panggilan telponnya.
"I love you too suamiku sayang" Runi menutupnya dengan mengumbar kata sayang.
"Maaf ya kak, itu barusan kak Rich yang memanggil" Runi berkata seolah-olah Marleena tidak tau siapa yang menghubunginya, padahal sudah jelas suara Rich sangat membahana diseluruh ruang makan.
"Iya tidak apa-apa" jawab Marleena sambil tersenyum, padahal ia sangat kesal dengan percakapan mereka.
"Kak Rich itu sangat memanjakan aku, dia sering sekali memesankan makan siang untukku seperti ini, biasanya dia akan langsung menghubungi chef-chef terkenal dari restoran di seluruh dunia hanya untuk memberikan makan siang yang lezat untukku!" Runi mengarang bebas demi membuat Marleena kesal. Padahal pada kenyataannya makanan ini adalah hasil buatan Gaby sang kakak ipar yang seorang chef ternama.
"Rich sangat romantis ya" Marleena berusaha bersikap biasanya saja meskipun hatinya ingin meledak.
"Iya, dia itu memang sangat bucin sekali sama aku hihihihi" bukannya malu Runi malah semakin menunjukkan sisi romantis mereka berdua di depan wanita yang memiliki niat jahat terhadap rumah tangganya tersebut. Skenario ini memang sudah di rancang oleh cucu-cucu perempuan keluarga Anderson pada malam hari sebelumnya sebagai ucapan 'selamat datang' bagi wanita itu.
__ADS_1