Terjebak Cinta Mr. Casanova

Terjebak Cinta Mr. Casanova
Kehormatan Wanita


__ADS_3

"Sayang" Runi melongokan kepalanya di balik pintu.


"Heyyy" Rich langsung memutar badannya dan tersenyum saat melihat istrinya datang menghampirinya.


"Sini" kemudian ia menepuk pahanya untuk memepersilahkan Runi duduk dipangkuannya.


"Are you okay?" Runi yang melihat raut wajah Rich sangat kesal kemudian langsung duduk dipangkuannya dengan posisi menyerong dan mengalungkan tangannya dileher sang suami serta mengecup bibir pria itu dengan lembut.


"No" gelengnya sambil menarik nafas.


"Why?" kemudian mengelus brewok bule suaminya.


"Wanita gila itu memintaku untuk menikahinya dengan alasan Chela yang menginginkannya!" jelas Rich sambil menerawang.


"Lalu?" Runi hanya mendengar saja.


"Lalu aku tolak lahhhh,, mana mungkin aku menerimanya, sudah gila apa aku!?" Rich menjawab penuh amarah.


"Marleena itu cantik loh, seksi lagi, lumayan kan bisa jadi ban serep" Runi mencoba bergurau.


"Sayang tidak lucu tau!?" Rich melotot kepada sang istri.


"Hehehehe, lagian kau ini terlalu diambil hati sayang, kan sudah aku bilang, semua sudah dibawah kendaliku, kita main-main saja dulu ikuti permainannya, kita lihat sampai seberapa dia kuat bertahan, apa pun yang dia inginkan tidak akan bisa ia peroleh kalau kita tidak memberinya peluang!" berkata sambil mengelus pipi suaminya.


"Kau lihat ya, nanti siang aku punya sebuah kejutan untuknya!" wanita cantik itu mencolek pipi Rich dan memasang wajah misterius.


"Kejutan apa?" tanyanya penasaran.


"Rahasia!" Runi menggelengkan kepalanya.


"Kau main rahasia-rahasiaan sama aku?" Rich terlihat kesal.


"Pokoknya yang jelas akan sangat seru, kau pasti suka!" sambil mengerlingkan matanya.


"Uhhh dasar istriku ini!" Rich kemudian langsung memeluk Runi dengan sangat posesif dan memagut bibir mungilnya dengan ganas.

__ADS_1


Tok Tok Tok...


Suara ketukan pintu membuyarkan aktivitas pasangan ini yang hampir saja kebablasan.


"Masuk" Runi berdiri dan merapikan pakaiannya yang sudah setengah terbuka karena ulah suaminya.


"Nyonya, ada nyonya-nyonya Anderson di ruang keluarga" kata Tatik.


"Ahhhh mereka sudah datang ya?" Runi berbinar-binar.


"Iya" angguk Tatik.


"Baiklah terima kasih ya mbak" Runi mengerlingkan matanya.


"Siap nyonya" pengasuh itu mengangguk lagi.


"Mau apa mereka kesini?" meskipun Rich menyayangi semua saudara perempuannya, namun ia selalu saja merasa kesal karena mereka semua sering mengganggu momen romantisnya dengan sang istri.


"Ayo sayang, katanya kau mau lihat kejutan dari aku!?" Runi menarik tangan suaminya keluar ruang kerja.


"Haiiii kalian sudah datang ya?" Runi memeluk semua kakak iparnya dengan senyum terkembang.


"Tentu saja, kami kan sudah kangen ingin bertemu denganmu!" jawab Sera semangat sambil membalas pelukan iparnya.


"Eh ibu ini siapa? apakah asisten rumah tangga baru di rumah ini? bekerja dibagian apa?" Rach menunjuk kearah Marleena yang sengaja cari muka dengan berdiri didekat mereka. Pertanyaannya sekaligus sebagai tanda dimulainya drama penghinaan untuk wanita itu.


"Bwahahahahahahahaha" Rich tidak bisa menahan tawanya saat mendengar pertanyaan saudara kembarnya.


"Rach, kau jahat sekali!" sambil berpura-pura menepuk bahu saudara kembar sang suami.


"Oya semua, perkenalkan ini kak Marleena, mama kandungnya Chela!" Runi pura-pura menjelaskan, sementara semua yang dijelaskan hanya tersenyum singkat tanda tidak begitu peduli dengan keberadaan Marleena.


"Ups, maaf ya, aku pikir kau ibu-ibu paruh baya yang waktu itu mau mom pakai jadi asisten rumah tangga disini!" Rach malah semakin mempertegas penghinaannya.


"Pppfffffhhhhhh" kini Rich menahan tawanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa" Marleena berusaha tersenyum dengan manis meskipun hatinya begitu kesal mendengar penghinaan tersebut, terlebih dengan reaksi Rich yang menertawakannya.


"Eh ngomong-ngomong kenapa kau pakai baju turtleneck sih disiang bolong begini?" Gaby memegang kaos Runi yang tinggi sebatas leher.


"Tidak apa-apa kok" wanita itu menutupi lehernya dengan kedua tangannya dari Gaby.


"Coba aku lihat, pasti ada sesuatu deh!" namun Gaby yang dihalangi bergerak lebih cepat.


"Woaaahhhhhh gilaaaaaaa, kenapa merah semua gini? Rich kau ini benar-benar ya!" Sera bertepuk tangan saat melihat leher Runi penuh dengan jejak cinta dari Rich.


"Habis berapa ronde kalian?" Menta mengintrogasi layaknya polisi.


"Apa sih Menta!" berpura-pura mengelak dengan malu-malu, padahal semua ini sudah mereka skenariokan dari semalam.


"Kak Rich kau gahar sekali sih? bisa-bisanya Runi Kau lahap sampai habis begini!" ibu hamil itu memicingkan matanya dengan senyum jahil.


"Issshhhh sudah deh, kalian ini datang kesini mau main atau membully aku sih sebenarnya!?" Runi protes dengan memajukan bibirnya.


"Siapa yang membully sih kakak iparku sayang?" Rach mencubit gemas pipi Runi.


"Tau, kami tidak membully kok, hanya kagum saja sama keahlian pria satu ini dalam menggarap istrinya!" Sera menepuk bahu Rich.


"Mereka benar, kau seharusnya bangga dengan tanda itu, karena artinya suamimu sangat mencintaimu!" Menta mengangguk.


"Ya kebangetan lah kalau Rich sampai tidak mencintai Runi, sudah cantik, masih original, pintar, kaya raya pula! mana ada coba wanita yang sesempurna Runi di luar sana? yang ada dulu itu Rich mainnya selalu sama wanita murahan semua, yang sudah bolong mlongo ditusuk banyak orang!" Gaby memancing topik yang panas.


"Benar, kalau kata mom itu persis seperti toilet umum yang dipakai banyak orang, sudah kotor banyak kuman, penyakitan pula!" Rach menyambutnya dengan mencibir.


"Iyuhhhh apa ya rasanya dipakai banyak orang begitu? huekkkk menjijikkan sekali, sangat murahan dan tidak berkelas!" Sera benar-benar memainkan perannya dengan sempurna.


"Ya itulah kenapa kita jadi wanita harus menjaga kehormatan diri, serahkan mahkota kita hanya untuk suami seorang!" Gaby sok bijak.


"Benar, dan yang jelas suami kita akan bertekuk lutut, apalagi kalau dia biasa main sama yang bolongnya sudah lebar, jadi sekalinya dapet istri yang rapet, uhhhhh jadi deh minta nambah terus hehehe" Menta terkekeh membayangkan diri sendiri.


Setelah mendengar percakapan semua cucu perempuan Anderson tentang kehormatan wanita, Marleena yang awalnya ingin ikut ngobrol dan mencoba masuk menjadi bagian dari keluarga tersebut merasa jengah sendiri, ia kemudian secara perlahan melipir menjauh dan pergi dari ruang keluarga karena merasa tersindir.

__ADS_1


Sementara Rich yang disuguhi drama menarik dari sang istri dan semua saudara perempuannya begitu menikmati alurnya. Dari percakapan ini ia pun menjadi merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan Runi yang mau menerima dirinya dengan apa adanya.


__ADS_2