
"Huekkkk huekkkkk" Runi terus saja muntah-muntah semenjak acara pernikahan sahabatnya berlangsung, bahkan setelah mereka pulang ke rumah pada keesokan harinya dan hendak berangkat ke kantor.
"Sayang apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja untuk memeriksakan kondisimu?" tanya Rich yang khawatir karena melihat wajah istrinya sangat pucat.
"Tidak, aku baik-baik saja, mungkin hanya masuk angin karena kecapekan setelah membantu mempersiapkan acara pernikahan kemarin" geleng wanita cantik itu.
"Tapi wajahmu sangat pucat" sang suami mencoba membujuk.
"Aku hanya butuh istirahat sebentar saja, nanti juga sembuh kok" setelah menggeluarkan isi perutnya di kamar mandi, ia kemudian kembali merebahkan diri di tempat tidur sejenak dengan pakaian kantornya yang sudah sangat rapi.
"Kalau begitu istirahatlah di rumah dulu, jangan berangkat ke kantor dulu hari ini supaya cepat pulih" Rich mengecup kening sang istri yang sangat lunglai.
"Tapi aku ada meeting penting" Runi tetap memaksakan diri untuk berangkat kerja.
"Tapi kau kan masih muntah-muntah sayan, bagaimana nanti kalau terjadi sesuatu padamu?" Rich sangat over protect.
"Aku tidak akan kenapa-kenapa kok" gelengnya.
"Ayo berangkat" Runi langsung berdiri dan bersiap untuk ke kantor meskipun sesungguhnya tubuhnya sangat lemas.
"Apa kau yakin?" Rich menatap dengan penuh khawatir.
__ADS_1
"Tentu saja, ayo!" angguknya sambil berjalan keluar kamar.
Meskipun Rich merasa tidak yakin, namun ia tidak berani membantah sang istri karena takut wanita kesayangannya itu malah ngambek dan urusan akan menjadi semakin runyam.
..........
"Selamat pagi" Runi menyapa semua staff yang ada di ruang meeting.
"Selamat pagi" jawab mereka semua.
"Oke, agenda meeting hari ini adalah membahas mengenai perluasan proyek kita yang ada di pinggir kota sebelah selatan. Seperti yang kita ketahui bahwa proyek tersebut berkembang begitu pesat dan membutuhkan perhatian khusus untuk lebih dikembangkan lagi. Oleh karena itu hari ini kita akan membahas mulai dari program pengembangannya, persiapan kerjasama dengan pihak penduduk lokal disana, hingga biaya yang dibutuhkan!" jelas Runi saat memulai rapatnya.
Rapat berjalan cukup lama, hampir lima jam mereka semua duduk membahas perencanaan proyeknya. Runi yang sejak awal sudah tidak enak badan, terlihat semakin drop karena tenaga dan pikirannya terserap habis untuk rapat tersebut. Meskipun demikian, ia sangat puas, karena ide dan masukan dari setiap orang berhasil membuat perencanaan proyek tersebut terlihat sempurna dan matang.
"Apa masih ada yang ingin ditambahkan?" dengan wajah pucat Runi bertahan memimpin rapat.
"Tidak, sepertinya sudah cukup sempurna" geleng Haris.
"Benar, tinggal dibuatkan proposalnya saja" Burhan pun setuju.
"Kalau begitu terima kasih untuk waktu dan tenaga rekan-rekan semua ya, semoga proyek kita ini bisa berjalan sesuai rencana dan lancar" ia menutup rapat.
__ADS_1
"Terima kasih nyonya bos" semua anak buahnya berkata.
Brukkkkk...
Tiba-tiba saja Runi terjatuh di lantai.
"Bos, astaga!" Burhan seketika itu juga mencoba membangunkan Runi yang tidak sadarkan diri.
"Bawa ke sofa!" Haris memberi instruksi.
Cukup lama mereka mencoba membangunkan Runi namun tidak berhasil juga.
"Ada apa ini?" Surya yang diberitahu oleh salah satu anak buahnya langsung datang ke ruang rapat bersama Hendro dan Adhi.
"Tadi setelah menutup rapat nyonya Runi pingsan" jawab seorang perempuan yang berperan sebagai manager keuangan.
"Sayang, bangunlah" Hendro yang melihat putri tunggalnya tergolek lemah tak berdaya menjadi panik.
"Kita bawa ke rumah sakit saja" Adhi berkata.
Dengan cekatan Hendro langsung menggendong putrinya dan membawanya ke mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1