
"Sayang, kalau kita pulang agak malam tidak apa-apa kan?" Rich bertanya kepada Runi.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya gadis itu.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling mall sebentar, lalu habis itu makan malam dan kemudian lanjut nonton?" Rich berkata sambil mengemudikan mobilnya.
"Emmmm, tapi aku ijin sama mama dan papa dulu ya, takutnya mereka khawatir kalau aku tidak memberi kabar" meskipun ia sudah dewasa, namun karena masih tinggal bersama kedua orang tuanya, maka Runi pun masih tetap meminta ijin kepada keduanya.
"Iya silahkan" Rich sadar bahwa Runi masih milik kedua orang tuanya secara penuh sehingga gadis itu memang harus tetap meminta ijin dari mereka.
"Halo pa," Runi menelpon ke telpon rumahnya.
"Ya sayang" jawab sang papa yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga saat baru pulang dari kantor.
"Aku ijin pulang agak terlambat ya" gadis itu meminta ijin kepada Hendro.
"Kau mau kemana?" tanya pria paruh baya itu kemudian.
"Aku mau jalan dulu sama kak Rich" Runi berkata dengan jujur.
"Ohhhh, ya sudah, hati-hati ya di jalan" kata pria yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri oleh Surya.
"Titip pesan juga buat mama ya pa supaya mama tidak perlu khawatir" Runi yang paham bahwa sang mama sanga over protect kemudian berpesan.
"Iya sayang, nanti papa sampaikan sama mamamu" jawab pria itu dengan lembut kepada putri semata wayangnya.
"Terima kasih pa, bye" kemudian Runi bersiap menutup panggilannya.
"Bye" Hendro pun mengakhiri percakapan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana?" Rich sungguh deg-degan. Baginya saat ini ijin dari Hendro dan Dini adalah hal yang sangat mahal harganya. Ia merasa perlu banyak memperbaiki diri agar bisa pantas bersanding dengan Runi dan mendapat restu dari kedua orang tuanya.
"Boleh kok kata papa, nanti akan disampaikan ke mama" jawabnya sambil mengangguk.
"Ahhhhh syukurlah" akhirnya bisa bernafas lega. Setidaknya dengan ijin diawal ini, jalan kedepannya akan terasa lebih mulus.
..........
"Kau mau beli apa sayang?" Rich bertanya kepada Runi saat mereka sudah masuk ke dalam mall milik keluarga Anderson itu.
"Emmmm apa ya? seperti aku tidak sedang butuh sesuatu deh!" sambil berfikir keras.
"Memangnya kau tidak mau beli tas, sepatu, baju atau make up gitu?" Rich menatap dari samping gadis yang sedang ia gandeng itu.
"Tidak, di rumah sudah banyak, bahkan masih ada beberapa yang belum pernah aku pakai!" gelengnya dengan cepat.
"Buat apa koleksi barang-barang seperti itu? buang-buang uang saja, lebih baik uangnya dipakai buat yang lebih bermanfaat, seperti donasi kepada yang membutuhkan misalnya!" sejak dulu Runi memang terkenal dengan image gadis yang sederhana. Meskipun kini tampilannya sudah jauh tampak modis dan terlihat lebih berkelas, namun jiwanya tetaplah seperti Runi yang dulu, tidak berubah sama sekali.
"Kau ini benar-benar masih seperti yang dulu ya, tidak berubah, inilah yang selalu aku rindukan dari seorang Putri Arunika!" Rich sangat takjub kepada gadis itu. Bila dibandingkan dengan gadis-gadis yang pernah ia kenal sebelumnya yang selalu mendekatinya hanya karena harta dan kedudukan, maka Runi tentunya sangatlah jauh berbeda, karena ia selalu bisa menghargai setiap hal yang ada disekitarnya dengan cara yang sangat baik.
"Ck, dasar tukang gombal!" gadis itu hanya berdecak.
"Aku serius, tidak gombal!" Rich kemudian menghentikan langkahnya sejenak untuk membuktikan bahwa ucapannya benar-benar serius.
"Kok berhenti sih kak?" Runi protes karena pria itu berhenti tanpa aba-aba, membuatnya seperti tertarik kebelakang karena gandengan tangan pria itu membuatnya tertahan.
"Aku serius!" katanya lagi kepada gadis itu.
"Iya, iya aku percaya hahahaha" Runi menanggapi dengan tawanya yang renyah.
__ADS_1
"Kok kau malah tertawa?" kini gantian Rich yang protes.
"Habis wajah kakak kalau lagi serius begitu lucu sekali sih, jadi bikin gemas dan ingin tertawa hahahaha" ia kembali mengulangi tawa renyahnya itu.
"Apa kau suka?" ia kembali melajukan langkahnya.
"Emmmm biasa saja sih, hanya lucu saja terlihatnya!" gadis itu mengangkat bahunya sambil tersenyum usil.
"Jadi kau tidak suka aku ya!?" memasang wajah sedih dan memelas.
"Ih apa sih kak, kok jadi baperan gitu" Runi semakin tersenyum geli melihat ekspresi Rich yang berubah ubah sejak tadi.
"Habis kau sih bikin aku baper terus!" wajahnya kian cemberut.
"Ya sudah deh maaf hehehehe" menunjukkan tanda V dengan dua jarinya sebagai tanda damai.
"Kau harus di denda baru akan aku maafkan!" kata Rich.
"Denda apa?" penasaran.
"Traktir aku makan dan nonton!" jawabnya sambil membulatkan mata.
"Baiklah, siapa takut!" dengan enteng Runi mengabulkan denda tersebut.
"Ya sudah ayo, aku sudah sangat lapar nih!" pria itu kemudian menarik Runi ke arah jejeran restoran untuk menentukan pilihannya.
"Oke" angguknya kemudian.
Mereka pun lalu beranjak menuju tempat makan pilihan keduanya. Setelah selama ini Runi selalu menunjukkan sikap yang sangat formal dan profesional di depan Rich dan orang-orang disekitar mereka, kini gadis itu pun mulai kembali seperti Runi yang dulu lagi. Konflik masa lalu mereka seperti seolah sudah terpendam begitu saja dan tidak ingin diungkit lagi, baik oleh Runi maupun Rich. Kini yang ada dipikiran masing-masing adalah menikmati hidup yang damai dan menatap hari esok yang penuh keceriaan.
__ADS_1