
"Selamat pagi tuan" sapa seorang security yang berjaga di kantor pusat Anderson saat waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.
"Selamat pagi" jawab Rich singkat sambil tetap berjalan menuju lift. Sejak kedatangan Richela di kediaman kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu, Rich memang selalu berusaha menghindari kontak dengan gadis cilik itu di rumah. Biasanya pria itu akan berangkat pukul stengah enam pagi dan pulang pukul sepuluh malam. Di kantor pun ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruangan untuk menghindari bertemu dengan orang lain, terutama dengan Runi. Ia merasa sangat malu bila bertemu dengan gadis itu.
"Hufffffff" ia menghempaskan dirinya di sofa panjang di dalam ruang kerjanya untuk melanjutkan tidurnya yang terpotong karena harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam.
Tok Tok Tok...
"Rich, apa kau di dalam?" Raf melongokkan kepalanya.
"Hemmmm" setelah hampir dua jam tertidur, ia pun kemudian tersadar secara penuh saat Raf masuk ke dalam ruangannya.
"Apa kau berangkat pagi-pagi buta lagi hari ini?" Raf memaklumi akan ketidak siapan Rich menghadapi fakta bahwa Richela adalah putri kandungnya.
"Begitulah" jawab Rich singkat.
"Mau sampai kapan kau terus menghidar Rich?" Raf bertanya lagi.
"Entahlah" hanya mengangkat bahunya.
"Ya sudah terserah kau saja, aku tidak bisa memaksa" kata papa Raguel pada akhirnya.
"Oya, hari ini kita jadi kan pergi ke proyek?" sang kakak sepupu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya" hanya menjawab singkat.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu kita jalan dua jam lagi ya bersama Runi, Haris dan Burhan" kemudian pria itu pun keluar dari ruang kerja adik sepupunya.
..........
"Bagaimana perkembangannya?" Raf bertanya kepada salah satu mandor yang ada di lapangan.
"Masih lima puluh persen lagi tuan" jawab sang mandor.
"Boleh aku cek hasil yang sudah selesai?" Raf terpaksa menghandle semua pekerjaan Rich karena pria itu sama sekali tidak konsentrasi dalam bekerja.
"Baik, silahkan tuan" angguk mandor itu sambil menunjukkan hasil pekerjaan anak buahnya yang sudah selesai. Sementara itu Rich tidak mengikuti mereka dan malah tetap berdiri termenung di balkon proyek yang masih setengah jadi itu. Meskipun balkon tempatnya berdiri begitu panas karena sengatan matahari yang berada di atas kepala, namun Rich seolah tidak merasakannya sama sekali, ia begitu betah berlama-lama berdiri di sana.
"Ini kak" Runi menyodorkan sebotol minuman dingin kepada Rich saat pekerjaan surveynya di divisi yang berbeda dengan Raf sudah selesai terlebih dulu.
"Bagaimana kabar kakak?" gadis itu bertanya untuk membuka obrolan mereka.
"Baik" jawab Rich singkat. Ia sungguh merasa malu bertemu dengan Runi setelah kejadian yang menimpanya. Kehadiran Richela seperti menghempaskan begitu saja segala perjuangannya yang sedang mencoba memperbaiki diri dihadapan gadis yang paling ia cintai itu.
"Benarkah? tapi aku merasa kakak sedang tidak baik-baik saja!" kata gadis itu sambil menatap lekat wajah Rich yang semerawut.
"Huffffff" pria itu hanya menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Kakak ingat tidak ketika aku tempo hari ditipu sama Greg? waktu itu kakak pernah bilang sama aku kalau kakak akan selalu ada untukku, kalau aku membutuhkan sesuatu, maka kakak akan selalu ada disisiku! Nah sekarang aku ingin mengembalikan ucapan itu sama kakak, kalau kakak sedang ada masalah berat, aku akan selalu ada untuk membantumu kak!" Runi tersenyum tulus.
"Runi, aku sungguh malu padamu, dari dulu aku selalu saja berbuat salah dan membuatmu kecewa!" Rich tertunduk malu.
__ADS_1
"Kakak tidak perlu merasa malu, bukankah setiap manusia pasti punya kesalahan? termasuk aku juga! yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita memperbaiki kesalahan itu dan tidak mengulanginya lagi kak!" melihat bagaimana selama ini Rich berusaha memperbaiki diri, membuat Runi merasa iba dengan semua yang menimpa pria itu saat ini.
"Apa kau sungguh tidak marah padaku?" Rich menatap dalam ke mata Runi.
"Tidak, aku tidak punya hak untuk marah sama kakak" gelengnya sambil tersenyum.
"Tentu saja kau punya hak, karena hanya kau satu-satunya wanita yang berhak kecewa saat melihat ulah bejatku itu!" secara tidak langsung Rich ingin mengatakan bahwa dirinya hanya milik Runi seorang.
"Tapi aku tidak marah kok kak" senyum gadis itu seperti oase bagi hati dan pikiran Rich yang sedang gersang.
"Terima kasih ya Runi" Rich kemudian memberanikan diri menggenggam tangan Runi.
"Sama-sama kak" jawab gadis itu.
"Sudah ya kak jangan sedih lagi, aku yakin semua pasti akan baik-baik saja!" ia melanjutkan.
"He em" setelah selama beberapa hari belakangan ini Rich merasa gelisah karena khawatir Runi akan lebih membencinya, kini hatinya sudah mulai kembali seperti biasa lagi. Meskipun ia belum bisa menerima keberadaan Richela dalam hidupnya, namun dengan sikap Runi yang begini sudah seperti meringankan hampir separuh beban di hatinya.
"Yuk ah kita kerja lagi, kasihan tuh kak Raf dari kemarin sendirian menghandle semuanya gara-gara ada yang galau berkepanjangan kayak anak ABG lagi jatuh cinta!" Runi menggoda Rich.
"Aku memang galau karena takut cintaku pergi lagi seperti dulu!" Rich kini sudah mulai percaya diri lagi menanggapi omongan Runi.
"Ck, dasar gombal! udah yuk ah kerja!" senyum lagi-lagi terkembang dibibir Runi, menyiratkan bahwa gadis itu benar-benar tidak marah padanya.
"Oke!" seketika itu juga semangat bekerja Rich datang kembali, otaknya seperti lampu yang tiba-tiba mendapatkan aliran listrik bertegangan tinggi hingga menyala begitu terang benderang.
__ADS_1