
"Kalian sedang apa?" Runi mengirim pesan kepada teman-teman satu grupnya. Setelah ia menenangkan diri dan bertekad melupakan Rich, ia pun berjanji akan move on dengan mencari kebahagiaannya sendiri.
"Aku sedang tidur-tiduran tidak jelas" Nora menjawab.
"Aku baru bangun, mau ada workshop pagi ini" Menta yang sedang berada di benua lain memang memiliki perbedaan waktu yang cukup lama dengan di negara asal mereka.
"Aku lagi lihat-lihat film yang ada di bioskop nih" Ray satu-satunya pria di grup mereka menjawab.
"Kau mau nonton Ray?" Runi semangat.
"Maunya sih gitu, tapi belum tau nih, masih galau" jawab pria itu.
"Ya sudah besok kita nonton saja yuk!" ajak gadis polos itu.
"Yahhh aku gak bisa, besok mau antar kak Noah berangkat ke bandara" Nora kecewa.
"Yahhhhhh" Runi menyayangkan.
"Kalian berdua saja gih, nanti kalau kalian lagi nongkrong di cafe kita video call-an" Menta yang sudah pasti tidak bisa bergabung hanya pasrah menerima nasibnya.
"Iya, besok setelah nonton kalian nongkrong di cafe saja, trus baru deh kita ghibah online berempat heheheh" Nora setuju dengan usul Menta.
"Kau jadi nonton tidak Ray!?" Runi memastikan lagi.
"Ya sudah deh, ayo" akhirnya Ray setuju.
"Oke, sip besok jam sepuluh ya" kata gadis polos itu.
..........
"Kita mau nonton yang mana?" Runi bertanya kepada Ray sambil merangkul lengannya dengan manja.
"Menurutmu yang mana?" Ray malah balik bertanya.
"Ihhh kau ini kok malah balik tanya sih!" Runi memukul manja tangan teman baiknya itu.
"Aku juga bingung hehehehe" pria itu terkekeh geli.
__ADS_1
"Ya sudah biar aku yang pilih saja!" kata Runi sambil tetap merangkul Ray. Jika orang tidak mengenal siapa sosok Ray yang sesungguhnya, mereka pasti menyangka bahwa kedua orang ini adalah sepasang kekasih yang sangat romantis. Padahal pada faktanya Ray adalah pria gemulai yang senang bersahabat dengan banyak gadis seusianya.
"Ini, film horor" Runi menunjukkan dua lembar tiket film bergenre horor.
"Kok horor sih?" Ray protes.
"Lah kan tadi kau bilang bingung, jadi ya sudah ini saja!" Runi mengangkat bahu.
"Bukannya kau takut film horor?" Ray menatap Runi.
"Iya sih, tapikan ada sayangnya aku, jadi tidak masalah hehehehe" gadis berkaca mata tebal itu memang sudah tidak sungkan sama sekali dengan Ray, ia bahkan berani memeluk dan mencium pipi Ray karena tau bahwa pria itu tidak akan tertarik padanya sama sekali.
"Ihhh dasar gombal!" Ray yang diperlakukan manja oleh Runi pun sangat senang karena merasa seperti punya hubungan kakak dan adik.
"Ya sudah yuk kita masuk" Runi menarik Ray masuk ke dalam ruang theater.
..........
"Menyebalkan sekali sih filmnya, bikin jantungku mau copot saja!" gerutu Runi.
"Tau ah, kau juga kenapa tidak menutup mataku sih, malah tertawa melihat aku ketakutan!" gadis itu merajuk manja kepada Ray.
"Hahahahah, habis kau itu kalau takut sangat lucu!" Ray mencubit pipinya.
"Awwww sakittttt" Runi kembali merajuk yang sontak membuat Ray semakin tergelak.
"Ya udah deh, sebagai tanda permintaan maafku, kau ku traktir makan siang, bagaimana?" tanya Ray sambil meraih jemari Runi dan mengajaknya jalan menjauhi gedung theater.
"Benar ya!?" lonjak Runi senang.
"Tentu saja, kapan sih aku pernah bohong padamu?" pria itu mengangguk.
"Ahhhh sayangnya aku memang paling baikkkk" Runi spontan memeluk Ray di depan umum.
"Runi!!!" tiba-tiba suara menggelegar terdengar dari belakang.
"Kak Rich!?" gadis itu tidak menyangka akan bertemu dengan pria yang semalam telah menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Siapa dia?" mata Rich menatap tajam ke arah Ray, seperti hendak menerkam pria itu hidup-hidup.
"Dia temanku!" jawab Runi sekenanya.
"Teman? teman macam apa?" kini tatapan mata Rich tertuju pada kedua telapak tangan mereka yang saling menggenggam erat satu sama lain.
"Bukan urusan kakak!" Runi sudah tidak mau berurusan dengan Rich lagi.
"Itu menjadi urusanku, karena kau adalah milikku!" suara sang casanova seperti menahan amarah.
"Cih dasar pria halu! ayo Ray, kita pergi!" katanya sambil menarik Ray menjauh.
"Berhenti, lepaskan tangannya!" kini Rich sudah kehilangan akal sehatnya.
"Kakak tidak punya hak memerintahku semau kakak!" Runi pun mulai menaikkan intonasi suaranya.
"Sudah ku bilang kalau kau milikku dan aku punya hak karena kau adalah kekasihku!!" rasa kesal tiba-tiba saja merasuki Rich saat gadis yang sudah dianggap menjadi miliknya berjalan bersama pria lain.
"Lepaskan aku, apa mau kakak!" Runi memberontak karena Rich menarik tangannya dan menjauh dari Ray.
"Ayo pulang sekarang!" pria itu langsung menggendong Runi seperti seorang pengantin pria menggendong mempelai wanitanya.
"Turunkan aku sekarang juga!" gadis itu menggoyangkan badannya agar terlepas dari gendongan Rich, namun karena tenaga pria itu cukup besar, maka Runi tidak bisa sedikit pun mengalahkannya.
..........
"Apa sih mau kakak sebenarnya!?" Runi yang sudah sangat marah berteriak sejadi jadinya saat mereka sudah berada di dalam mobil sport milik pria tampan itu.
"Aku mau kita baikan, maafkan aku ya, kembalilah padaku sayang!?" mohon pria itu dengan amat sangat.
"Kita berbeda, aku tidak pantas untuk kakak, jadi sudahi saja semua permainan konyol ini kak!" rasa sakit yang dirasakannya membuat gadis itu merasa sangat apatis terhadap Rich.
"Pliss beri aku kesempatan, aku akan buktikan padamu kalau aku sungguh-sungguh!" tatapan mata Rich begitu menunjukkan ketulusan, hampir saja membuat hati Runi luluh.
"Aku mau pulang, kepalaku sakit!" ia tidak mau membuka celah lagi bagi hatinya yang sudah terlanjur sakit.
"Baiklah" pada akhirnya Rich mengalah dan mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya.
__ADS_1