
"Tumben kak Raf belum datang jam segini, biasanya dia kan yang paling rajin" kata Runi saat sedang bekerja di perusahaan Anderson.
"Mungkin dia sedang ehem-ehem sama kakak ipar, kau tau kan kalau Raguel sekarang sudah berusia empat puluh hari, jadi artinya Raf sudah bisa buka puasa sesukanya!" kata Rich dengan wajah usilnya.
"Ohhhhh begitu ya!?" Runi yang polos hanya bisa manggut-manggut.
"Tentu saja, nanti kalau kita punya anak juga aku akan puasa seperti itu sampai kau siap lagi" perlahan tapi pasti Rich mencoba peruntungannya lagi.
"Kita? Ck, pede sekali kakak ini!" Runi berdecak tapi sambil tersenyum malu.
"Ya itu juga kalau kau mau jadi mamanya anak-anakku sih hehehehe" jawabnya sambil terkekeh.
"Ehemmm sudah mending disegerakan saja!" Burhan berdeham.
"Iya, apa lagi sih yang ditunggu?" Haris ikut mengompori keduanya.
"Dasar kalian ini kompor bleduk!" geleng-geleng kepala tapi masih dengan senyum malu-malunya.
"Rich, ada kabar buruk!" Gide tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja yang memang disediakan khusus untuk tim Putra Angkasa saat mereka sedang berada di kantor pusat Anderson.
"Kabar buruk?" Rich mengernyitkan dahi.
"Iya, Raf masuk rumah sakit!" Gamal mengangguk.
"Kak Raf kenapa kak?" Runi langsung terkejut.
"Paula menikamnya beberapa saat yang lalu!" Dimas ikut bicara.
"What!?" Rich tidak habis pikir dengan ulah wanita itu.
"Sekarang ia sudah dibawa ke rumah sakit" kata Gamal lagi.
"Benar, Ayah, Daddy dan Papa sudah duluan ke rumah sakit" Gide menambahkan.
"Ayo, kita segera menyusul sekarang juga!" Dimas sebagai kakak laki-laki tertua mengajak semua adik iparnya.
"Aku ikut ya kak!" Runi mengajukan diri.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan ini!?" Rich ragu meninggalkan proyeknya.
"Biar kami berdua yang menghandle tuan, kalian berangkat saja segera!" kata Haris kepada Rich dan Runi.
"Benar, nanti kalau ada sesuatu yang penting kami pasti akan segera mengabari!" Burhan mendukung Haris.
"Baiklah, kalau begitu aku titip ya" Rich sangat bertanggung jawab atas pekerjaannya.
__ADS_1
"Terima kasih ya" Runi pun merasa senang karena kedua anak buahnya bisa diandalkan saat situasi mendesak.
"Sama-sama" jawab keduanya.
Kemudian kelima orang yang ingin menjenguk Raf itu segera berjalan menuju lift dan menekan tombol tempat mobil mereka diparkir.
"Runi, kau naik mobilku saja ya" Rich berkata kepada gadis itu saat ia hendak mengeluarkan kunci mobilnya.
"Hah? lalu mobilku bagaimana?" gadis itu masih mencerna situasinya.
"Tujuan kita kan sama, nanti juga balik lagi ke sini!" kata Rich mencari celah secara halus.
"Iya juga ya, oke baiklah" tanpa berfikir macam-macam Runi pun mengikuti perkataan Rich. Sementara ketiga menantu laki-laki keluarga Anderson yang paham maksud dan tujuan Rich hanya senyum-senyum penuh arti sambil berjalan menuju mobil mereka masing-masing.
..........
"Feeling bunda ternyata benar, dia memang biang malapetaka untukmu Raf!" Ananda menatap lengan sang putra yang terluka akibat ulah Paula.
"Maafkan aku bunda, ini semua salahku karena tidak pernah mendengarkan nasehat bunda, seharusnya sejak dulu aku tidak perlu mengenalnya!" Raf merasa berdosa kepada orang tua, istri, serta anaknya yang telah dibuat menderita oleh ulah mantan kekasihnya itu.
"Itu bukan salahmu Raf, itu murni tindakan kriminal!" Maya yang melihat Raf merasa berdosa, kemudian berusaha menenangkannya.
"Benar, Paula itu memiliki kelainan, dia terlalu terobsesi menjadi nyonya besar sehingga akal sehatnya tidak berfungsi dengan baik!" Ayu mendukung ucapan Maya.
"Bagaimana dia sekarang?" Mike bertanya tentang keberadaan Paula.
"Bagus, dia memang perlu diberi pelajaran!" Ron sangat geram melihat ulah wanita itu.
"Kau harus awasi istri dan anakmu Raf, perketat keamanan untuk mereka, jangan sampai hal-hal seperti ini terulang lagi!" George memberi pesan.
"Iya om" angguk Raf.
"Apa tidak sebaiknya kalian tinggal di rumah salah satu dari kami saja?" Tata yang trauma akan kejadian penculikan Menta saat bayi seperti dejavu.
"Benar, kalau tidak di rumah mamamu, ya di rumah bundamu" Dini yang juga over protect menyetujui usul Tata.
"Biar adil mungkin bisa bergiliran" Sekar memberi usul.
"Kalian jangan khawatir, kami pasti akan baik-baik saja kok" jawab Menta menenangkan ketiganya.
"Biar papa minta pengawal tambahan untuk menjaga kalian" Surya langsung berinisiatif.
"CCTV juga perlu ditambah" Hendro menambahkan.
"Alarm bahaya juga" Adhi ikut-ikutan.
__ADS_1
"Astaga, kenapa jadi pada berlebihan semua sih? kan Paulanya sudah ditahan, jadi semua tenang ya, doakan saja kami baik-baik saja!" Menta merasa semua over protect terhadap keluarga kecilnya.
"Mereka bukan berlebihan sayang, hanya saja ingin yang terbaik untuk kalian bertiga" Grandma Merlyn memberi pengertian.
"Benar, apalagi Raguel adalah keturunan emas dari Anderson dan Putra Angkasa, bisa dibayangkan betapa banyak yang akan mengincarnya kelak!" Grandma Ruth juga menambahkan.
"Aku dulu juga pernah sepertimu Menta, diserang oleh mantannya papa Divo, bahkan waktu itu aku sedang hamil dan senjatanya nyaris mengenai Divo diperutku, makanya sejak saat itu aku selalu waspada!" Gaby mengenang masa lalunya.
"Intinya kalian harus ekstra hati-hati, mungkin bukan Paula, tapi entah siapa lagi yang akan punya niat jahat!" Sera menasehati sang kakak ipar.
"Benar, lebih baik sedia payung sebelum hujan kan?" kata Rach.
"Ini baru saja pengacara melapor kalau berkasnya sudah diproses" Dimas memberikan info kepada semua orang.
"Bagus, semoga saja hukumannya berat!" Gamal merasa kesal.
"Seharusnya sih bisa berat, kan dia bawa senjata, berarti memang disengaja dan dipersiapkan kan?" Gide menganalisis kasusnya.
"Benar, barang buktinya pasti bisa memberatkan!" Rich mengangguk.
"Semoga saja demikian!" Doni berharap yang terbaik.
"Ini makanannya Raf" Ajeng menyodorkan nampan berisi makanan berat untuk Raf yang baru saja ia terima dari perawat.
"Sini biar Raguel aku yang gendong, kau suapi kak Raf saja dulu" Runi kemudian mengambil bayi itu dari mamanya agar bisa membantu sang papa makan.
"Terima kasih ya mama Runi" Menta kemudian menyerahkan putranya kepada sang sahabat dan mengambil nampan untuk suaminya.
"Uhhhh anak tampan, sudah bisa ngoceh ya sekarang?" Runi sangat gemas dengan suara dan wajah lucu bayi berusia empat puluh hari itu. Ia kemudian mengajaknya menuju ke sofa yang ada di sudut ruangan.
"Dia tampan ya" Rich yang melihat Runi mengajak Raguel menuju sofa, kemudian mengikuti mereka dan duduk sejajar.
"Iya, di benar-benar perpaduan antara mama dan papanya" jawab gadis itu masih dengan wajah tersenyum sambil menatap sang bayi mungil.
"Apa kau tidak ingin memiliki bayi lucu seperti ini yang wajahnya perpaduan antara kau dan aku?" Rich mulai mengkode-kode lagi.
"Apa sih kak!" sambil tersenyum malu-malu.
"Ya kali saja kau ingin, aku bisa kok membantumu memilikinya hehehehe" kini Rich mencoba dengan cara yang lebih elegan.
"Kalian itu sudah sangat cocok punya anak, lebih baik disegerakan saja!" grandma Merlyn yang sejak tadi mengamati keduanya kemudian ikut berkomentar.
"Betul, tuh lihat kalian sudah seperti papa, mama dan anak!" grandma Ruth bersemangat.
"Doakan ya grandma, semoga dipermudah" Rich berkata dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Amin" tiba-tiba semua orang yang awalnya sibuk mengobrol dengan Raf kini mengamini doa permohonan Rich secara serantak, membuat Runi jadi merah merona karena malu.