
Sementara Runi sudah mulai menata hidupnya yang baru setelah sebelumnya berantakan karena perbuatan sang casanova, maka disisi lain kehidupan Rich justru sebaliknya yaitu jungkir balik karena kepergian wanita yang ia cintai akibat dari keterlambatannya menyadari perasaan cintanya sendiri.
"Richard Anderson!" suara melengking terdengar saat Rich memasuki rumah mewah milik orang tuanya.
"Mom?" katanya dengan lesu.
"Dari mana saja kau hari gini baru pulang!?" Ayu sang mommy berkacak pinggang.
"Maaf mom aku terlambat lagi" Rich sudah tidak peduli lagi dengan resiko dimarahi oleh sang mommy karena pulang larut malam.
"Sudah tau ini terlambat, tapi kenapa kau masih melakukannya hah!?" geram Ayu lain.
"Sayang sabar, jaga emosimu, ingat penyakit hipertensimu ya" Ron yang melihat situasinya sudah tidak kondusif lagi kemudian menenangkan sang istri.
"Penyakitku memang sudah kumat sejak anakmu ini semakin menggila!" wanita cantik itu seperti kesetanan saat menunggu anak laki-laki satu-satunya itu tidak kunjung pulang hingga subuh menjelang.
"Iya paham, sekarang biar daddy yang bicara sama Rich ya, mommy istirahat di kamar dulu saja oke!?" meskipun jarang bicara apalagi mengomel, namun Ron tetaplah sosok yang disegani oleh anak-anak serta menantunya. Biasanya jika Ron sudah turun tangan untuk bicara, maka kasus yang dihadapi sudah parah atau serius dan tidak bisa lagi dikendalikan oleh sang istri yang notabene adalah 'penguasa' dikeluarga mereka.
__ADS_1
"Rich, tunggu dad di ruang kerja, kita bicara setelah ini!" tatapan Ron sangat tegas, membuat nyali Rich menciut seketika.
"Iya dad" angguknya.
"Ayo sayang, aku antar ke kamar" Ron menuntun sang istri menuju kamar mereka.
"Kita belum selesai Richard Anderson!" Ayu seperti ingin mencabik-cabik playboy itu hidup-hidup.
"Sayang sudah ya" Ron mengelus punggung Ayu.
..........
"Dad hiks hiks hiks" sekuat-kuatnya Rich dihadapan semua orang, pada akhirnya ia harus mengakui kehancurannya di depan sang daddy. Sosok Ron yang selama ini terlihat konyol dimata orang lain, seketika berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat berkharisma jika ia berhadapan dengan anak-anaknya.
"Aku bodoh, dia pergi karena kebodohanku!" Rich bercerita seolah-olah Ron sudah tau isi hatinya sejak lama, dan memang pada faktanya Ron sudah tau karena dia adalah mantan playboy, hanya saja ia tidak mau mendominasi perasaan putranya sebelum pria itu menyadarinya sendiri.
"I told you before right!?" Ron menatap putranya lekat-lekat. Seketika bayangan dirinya dimasa muda berkelebat begitu saja. Ia melihat Rich benar-benar seperti dirinya saat dulu juga pernah menyakiti sang istri dan pergi begitu saja seperti seorang pecundang yang tidak berani menyatakan perasaanya.
__ADS_1
"You right dad, it's my fault!" Rich menyadari bahwa semua ini memang adalah salahnya sehingga Runi pergi dari sisinya.
"Jadi!?" pria itu ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh putranya.
"I don't know" sambil mengelap hidungnya yang basah.
"Berubahlah menjadi lebih baik, tunjukkan padanya kalau kau memang sudah berubah, beri dia ruang untuk menenangkan hati dan pikirannya, biar waktu yang menjawab segalanya!" Ron begitu bijak.
"Tapi dad!?" Rich tidak tahan jika harus menunggu maaf dari Runi.
"Itu adalah sebuah konsekuensi Rich, setiap tindakan yang kita lakukan, baik yang baik maupun yang jahat, semua ada konsekuensinya!" figur seorang ayah sangat terpancar dari Ron.
"Baiklah" meskipun berat, Rich akhirnya setuju dengan semua yang Ron katakan.
"Fokuslah pada memperbaiki hidupmu sebelum kau memperbaiki hubungan dengannya!" pesan Ron untuk yang terakhir kalinya sebelum ia beranjak keluar dari ruangan dan meninggalkan sang outra seorang diri dengan pikiran yang kalut.
"Iya dad" angguk sang casanova dengan lemah.
__ADS_1
"Ayo tidur, sebentar lagi sudah pagi!" kemudian menepuk bahu putranya dengan senyum ramah.
Entah perasaan apa, namun setelah mendengar semua nasehat dari Ron, Rich menjadi merasa lebih lega. Ia pun bertekad untuk memperbaiki dirinya agar bisa lebih layak saat nanti bertemu dengan Runi kembali.