Terjebak Cinta Mr. Casanova

Terjebak Cinta Mr. Casanova
Richela


__ADS_3

"Ada apa ini kenapa ramai sekali? dan siapa dia?" Rich yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya di kantor Pusat Anderson setelah selesai meeting di luar bersama Raf dan Runi, sangat terkejut ketika melihat banyak mata menatapnya. Selain itu ada juga anak kecil berjenis kelamin perempuan berusia kurang lebih enam tahun yang tertidur di sofa panjang.


"Kau sudah datang Rich? ayo duduklah!" Mike mempersilahkan Rich duduk di sofa yang berada tepat di depannya. Mike memang sudah berkordinasi terlebih dahulu dengan Raf untuk berkumpul di ruang kerja sang mantan casanova itu.


"Baik yah, terima kasih" angguk Rich dan langsung mengikuti perintah Mike.


"Maaf aku permisi dulu" Runi yang merasa bahwa mereka seperti ingin membicarakan sebuah hal penting, langsung pamit undur diri karena merasa bukan bagian dari keluarga Anderson.


"Tidak Runi, kau juga duduklah!" Ron menatap gadis cantik yang selalu dijodoh-jodohkan dengan Rich oleh keluarganya itu.


"Iya om baik" kemudian gadis itu pun duduk di sofa kosong yang tersisa.


"Apa kau mengenal Marleena?" Ron bertanya dengan tatap tajam kearah putranya.


"Marleena? oh iya dad, dia teman lamaku, mungkin sekitar enam atau tujuh tahun silam" melihat sang daddy menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, membuatnya menciut seketika.


"Ini bacalah" George menyodorkan sepucuk surat kepada mantan casanova itu.


"Tidak mungkin!" Rich menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Penjelasan apa yang ingin kau berikan kepada kami!?" Ron menatapnya seperti singa jantan yang ingin menerkam.


"Dad ini tidak mungkin, mana mungkin aku ayah dari anak ini, dulu aku selalu bermain dengan aman, aku tidak pernah lupa memakai alat pengaman setiap kali berhubungan!" Rich menjelaskan kepada daddynya sambil melirik ke arah Runi juga seolah ingin meyakinkan gadis itu.

__ADS_1


"Apa kau pernah melihat atau mengetahui keberadaan anak ini sebelumnya?" Mike bertanya dengan intonasi yang lebih bersahabat dibandingkan Ron.


"Tidak yah, aku sama sekali tidak tau apa-apa tentang dia!" lagi-lagi menggelengkan kepalanya namun kali ini sambil menunjuk ke arah sang anak kecil tersebut.


"Tadi anak ini berada di pintu gerbang dan bilang ingin bertemu papanya sambil menunjukkan surat itu dan box ini" George kemudian menyerahkan sebuah kotak berisi foto-foto sang anak sejak ia masih di dalam kandungan hingga usianya sekarang kepada Rich.


"Apa Marleena datang juga om?" Rich bertanya kepada pria yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri.


"Tidak, dia tadi datang sendirian diantar oleh taxi" George menggeleng sambil menatap sang anak yang sedang tertidur nyenyak.


"Dad percayalah padaku kalau aku selalu bermain aman, tidak mungkin ini semua terjadi!" Rich berusaha meyakinkan Ron, lagi-lagi sambil melirik ke arah Runi.


"Tapi buktinya ini terjadi dan anak ini berada di sini!" Ron sangat murka.


"Tenanglah Ron, kita tidak bisa mempercayai ini begitu saja sampai ada bukti yang valid melalui tes DNA" Mike mencoba berfikir logis.


"Apa yang harus aku katakan kepada mommu nanti kalau dia mengetahuinya? ahhhh kepalaku sakit sekali!" Ron langsung berdiri dan keluar dari ruang kerja anaknya.


"Segera hubungi dokter untuk mengatur jadwal tes DNA nya" Mike pun kemudian berjalan keluar.


"Jaga anak ini baik-baik sampai hasilnya keluar" George menepuk bahu Rich dan menyusul kedua besannya keluar ruangan.


"Oh God!" Rich mengusap wajahnya dengan kasar karena rasa frustasi yang menghampirinya seketika itu juga.

__ADS_1


"Tenang lah Rich, jangan seperti itu" Raf menenangkan adik sepupunya.


"Bagaimana aku bisa tenang dengan kondisi begini!?" pria itu berteriak kesetanan sampai anak kecil yang ada di sofa terbangun.


"Papa!?" anak itu menatap kearah Rich dengan wajah sayunya.


"Kau sudah bangun nak?" Dimas bertanya kepada anak kecil itu, namun ia tidak menjawab dan hanya menatap Rich yang juga menatapnya.


"Apa tidurmu nyenyak?" Gamal ikut bertanya, tapi tetap tidak dihiraukan.


"Apa kau mau makan?" Gide mencoba bertanya juga.


"Papa, ini aku Richela!?" anak kecil itu menatap Rich dengan lekat dan kemudian menghampirinya.


"Papa, aku rindu sama papa" ia memeluk Rich dengan erat, sementara yang dipeluk hanya diam mematung.


"Aku rindu sekali sama papa, dari dulu aku ingin sekali bertemu dengan papa" berbicara tanpa melepas pelukannya.


"Papa kenapa diam saja?" kemudian melihat wajah Rich yang masih diam mematung dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Anak manis, tante pesankan makanan ya, kau pasti lapar kan habis bangun tidur?" Runi menghampirinya dan mencoba mengalihkan perhatian gadis kecil bernama Richela itu.


"Aku mau makan sama papa saja!" rengeknya.

__ADS_1


"Dengar ya, aku bukan papamu, aku tidak mengenalmu dan kita baru saja bertemu, jadi jangan ganggu aku!" Rich melepaskan pelukan anak itu dan berjalan keluar ruangan.


"Rich!" semua orang berteriak memanggil nama pria itu, namun tidak dihiraukan olehnya dan tetap melenggang pergi begitu saja.


__ADS_2