
"Apa semuanya sudah beres?" setelah menunggu kurang lebih dua jam, Bas dan Adit akhirnya menghampiri Runi dan Rich yang duduk di bangku taman.
"Sudah, lembar observasi sudah terjawab semua" Bas menunjukkan hasilnya.
"Kalau Adit bagaimana?" Runi kembali bertanya.
"Aku juga sudah kok" jawabnya.
"Berarti sudah bisa pulang?" gadis yang sudah dianggap kakak oleh dua anak laki-laki itu memastikan semuanya.
"Iya" jawab mereka berdua serentak.
"Kalau begitu ayo kita pulang" Runi berdiri dari duduknya.
"Oke" Rich yang menjadi supir mereka pun mengangguk.
"Oya, kalian lapar tidak? bagaimana kalau kita makan siang dulu baru pulang?" Rich bertanya kepada dua ABG yang duduk di kursi penumpang.
"Boleh, aku memang sangat lapar, kegiatan tadi sangat menguras energiku!" Adit tidak menolak sama sekali.
"Kalau Bas bagaimana?" Rich menatap anak laki-laki itu dari kaca spion.
"Tentu saja, aku juga lapar kak hehehehe" Bas terkekeh karena malu.
__ADS_1
"Oke, sippo ayo kiga meluncur ke tempat makan yang paling enak!" Rich mengemudikan mobilnya ke arah restoran mewah langganannya.
..........
"Ayo" Rich kembali menggandeng tangan Runi saat mereka tiba di restoran.
"Eh iya" gadis itu benar-benar kikuk dibuatnya. Sementara Bas dan Adit hanya menyaksikan dalam diam.
"Kalian mau pesan apa?" Rich bertanya kepada semuanya.
"Aku mau ini kak" Bas menunjuk menu yang dia sukai.
"Aku ini saja" Adit juga menunjuk menu kesukaannya.
"Baiklah, lalu kau mau yang mana sayang?" Rich bertanya kepada Runi di depan kedua ABG itu dengan panggilan sayang secara terang-terangan.
"Oke, berarti ini dua ya" Rich memesan menu untuk Runi juga.
"Aku ke toilet sebentar ya kak" gadis lugu itu berkata sambil bersiap-siap berdiri.
"Iya" angguk sang casanova sambil memberi Runi jalan, karena dirinya duduk bersebelahan dengan gadis itu.
"Kak Rich dan kak Runi pacaran ya?" tanya Bas menyelidik setelah meliha Runi menjauh dari mereka.
__ADS_1
"Kalau aku menjadi pacarnya kak Runi, kalian setuju tidak?" Rich malah balik bertanya dengan antusias.
"Tergantung" jawab Adit.
"Tergantung? apa?" pria tampan itu mengernyitkan dahi.
"Kalau kakak serius dan memang benar-benar mencintai kak Runi, aku pasti setuju, tapi kalau hanya main-main dan nantinya hanya menyakiti hatinya saja, ya lebih baik tidak usah memberinya harapan palsu!" Adit berkata dengan tegas.
"Kak Runi itu gadis baik dan polos, dia belum pernah berpacaran sama sekali, jadi kalau kakak menyakitinya pasti dia akan sangat sedih!" Adit menambahkan.
"Benar, sudah cukup kak Menta saja yang tersakiti oleh pria, jangan ada lagi tragedi menyedihkan seperti yang dialami kakakku itu, dikhianati oleh suaminya sendiri didepan mata kepalanya!" Bas mulai emosional.
"Kak Runi memang bukan kakak kandungku, tapi aku sudah menganggapnya sama seperti kak Menta, aku sayang padanya dan tidak mau dia terluka!" Bas menatap tajam ke arah Rich, membuat pria itu menciut.
"Betul sekali, walau pun aku dan kak Runi hanya saudara sepupu, tapi hubungan kami pun layaknya saudara kandung, kami berempat sudah terikat satu sama lain sejak bayi kak!" Adit mendukung perkataan Bas.
"Jadi kami mohon kakak harus jaga kak Runi dengan baik, jangan pernah buat dia menangis!" Bas berkata layaknya pria dewasa.
"Iya tentu saja, aku janji!" jawab Rich berusaha meyakinkan.
"Kalian ngobrol apa sih, kok pake janji-janji segala?" Runi tiba-tiba saja muncul, membuat ketiganya terkejut.
"Ini kak Rich janji mau ajak kami jalan ke taman hiburan, iya kan kak!?" Bas terpaksa berbohong.
__ADS_1
"Iya, habis makan siang kita jalan ya" Rich pun gelagapan sambil menatap Bas dan Adit secara bergantian.
"Oke, sekarang ayo kita isi perut dulu!" Adit pun menyempurnakan drama mereka supaya Runi tidak curiga jika baru saja dirinya dijadikan topik pembicaraan.