
"Tidak boleh! kenapa harus jauh-jauh ke luar negeri sih? memangnya di sini tidak bisa?" Dini langsung protes saat Runi meminta restu darinya untuk dapat menyusul Menta ke luar negeri.
"Ma, ini kan hanya sementara saja, nanti kalau sudah lulus aku pasti akan kembali kok!" kata Runi dengan memohon.
"Pa?" kini gadis itu memohon kepada Hendro sang papa.
"Sayang, putri kita sudah besar, dia memang sudah waktunya untuk belajar bisa hidup mandiri, toh cepat atau lambat dia pasti akan berpisah sama kita!" Hendro yang pola asuhnya lebih longgar kemudian membujuk sang istri.
"Tapi nanti kalau dia kenapa-kenapa bagaimana?" Dini menatap ke arah sang suami.
"Disana ada Menta yang akan menemani Runi, papanya Menta juga sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, meskipun tidak ada kita yang menjaganya, tapi pengawalan ketat selama dua puluh empat jam akan terus dilakukan demi keamanan mereka!" Tata membantu memberikan pengertian kepada sahabat baiknya.
"Ini, mereka adalah tim yang aku sewa khusus untuk mengawal Menta selama di sana, jika Runi menyusul, maka timnya akan ditambah dua kali lipat dari ini agar mereka bisa hidup dengan nyaman" Surya menunjukkan jajaran bodyguard yang menjaga sang putri selama ia berada di luar negeri.
"Boleh ya ma?" Runi menatap sang mama dengan penuh permohonan.
__ADS_1
"Kita coba dulu ya sayang, biarkan Runi belajar menjalani hidupnya secara mandiri ya?" Hendro lagi-lagi membantu sang putri. Sesungguhnya selama ini Hendro memang kurang setuju dengan pola asuh sang istri yang terlalu mengekang Runi, namun karena ia sendiri jarang di rumah dan lebih sering sibuk dengan urusan perusahaan Putra Angkasa, maka ia hanya bisa memasrahkan segalanya pada sang istri.
"Tapiiii,," Masih ragu-ragu.
"Maaaa??" gadis itu merengek.
"Baiklah, tapi kau harus janji ya untuk mengabari mama setiap hari!" Dini menuntut sang putri.
"Iya ma, pasti!" kata Runi dengan semangat karena harapannya sudah terkabul.
..........
"Jangan telat makan, kalau musim dingin tiba jangan lupa untuk pakai baju yang tebal agar tidak sakit, kalau sudah selesai kuliah langsung pulang, seleksi temanmu dengan baik, kalau pergi harus diantar supir ya agar tidak tersesat di jalan, dan ingat untuk selalu mengabari mama setiap hari ya!" wejangan panjang lebar terus saja dilontarkan oleh Dini saat ia membantu sang putri mengemasi barang-barangnya.
"Iya ma, pasti, mama jangan khawatir ya, aku pasti akan menuruti semua yang mama katakan" angguknya agar sang mama tenang.
__ADS_1
"Ya sudah, apa lagi yang masih perlu dikemasi?" tanyanya sambil menutup koper.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi, nanti aku minta kirim saja ya kalau memang butuh, sisanya biar beli di sana saja agar tidak berat" Karena waktu yang mepet dan persiapan sangat mendadak, maka Runi hanya membawa barang-barang yang dianggapnya penting saja, sisanya akan dikirim menyusul sesuai kebutuhan atau mungkin dibeli di sana saja.
"Ya sudah istirahatlah supaya besok kau siap berangkat" katanya kemudian mengecup kening sang putri sebelum akhirnya keluar dari kamar.
"He em" sambil mengangguk dan tersenyum.
"Good night sayang, have a good dream" sambil menutup pintu.
"Good night ma, have a good dream too" lalu kemudian merebahkan diri di tempat tidur untuk menikmati malam terakhirnya di kamar itu, sebelum entah kapan lagi ia baru bisa kembali pulang.
Meskipun awalnya ia pergi keluar negeri hanya untuk menghindari Rich, namun dengan dukungan yang diberikan oleh semua orang, ia pun kemudian bertekad untuk belajar lebih sungguh-sungguh lagi agar kelak menjadi orang sukses yang tidak mudah direndahkan oleh orang lain.
"Semangat Runi, kau pasti bisa!" ujarnya kepada diri sendiri.
__ADS_1