
"Ayo Menta, kita pulang, sudah mau hujan" Runi mengelus punggung sahabatnya yang masih setia duduk di depan pusara sang putra. Setelah pertempuran panjang Menta selama sembilan bulan lebih, akhirnya takdir berkata lain, ia terpaksa harus menerima kenyataan pahit kehilangan putranya yang selama ini ia perjuangkan.
"Iya" hanya jawaban lirih terdengar dari mulut Menta. Satu minggu telah berlalu sejak Junior anaknya meninggal, dan hampir setiap hari pula ibu bayi itu selalu datang ke makamnya yang tidak jauh dari komplek rumah keluarganya di ibukota, hanya untuk menatap nisan mungil bertuliskan nama Junior, putranya dengan Raf.
"Runi,," Menta melihat ke arah sahabatnya.
"Ya?" jawabnya.
"Aku ingin nonton film di bioskop" ia berkata dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Oke, ayo kita ke mall" Runi yang paham bahwa sahabatnya hanya sedang berusaha mengalihkan pikiran sedihnya kemudian melajukan mobilnya ke mall Anderson.
"Kau mau nonton apa?" Runi bertanya.
"Horor saja, carikan kursi yang paling pojok belakang ya" Menta menjawab.
"Oke" meskipun pada faktanya Runi takut film horor, namun demi membuat sahabatnya senang ia pun membeli tiketnya untuk mereka berdua.
"Ini sudah" ia menunjukkan dua lembar tiket kepada Menta.
"Ayo masuk" Menta berjalan dengan cepat tanpa mempedulikan sekitarnya sama sekali, sementara Runi hanya mengikuti dari belakang.
"Hiks hiks hiks" isak tangis pecah saat film horor itu mempertunjukkan adegan adegan mengerikan.
"Ini" Runi menyodorkan tissue kepada Menta. Ia sudah menduga bahwa Menta tidak sungguh-sungguh ingin menonton, melainkan hanya ingin menangis dengan puas tanpa dilihat dan didengar siapapun kecuali dirinya.
"Terima kasih" Menta mengambil bungkusan tissue dari tangan Runi.
Suasana mencekam akibat adegan seram dan teriakan para penonton sama sekali tidak membuat mereka berdua takut. Menta yang sibuk dengan kesedihannya dan Runi yang sibuk memperhatikan Menta, bahkan sama sekali tidak menatap layar bioskop sedetik pun. Padahal jika dalam kondisi normal pasti keduanya sudah akan berteriak histeris dan menutup mata saking takutnya.
..........
"Apa sudah baikan?" Runi menggandeng tangan Menta saat mereka keluar dari bioskop.
"Iya, terima kasih ya" Menta tersenyum lega setelah semua emosi sedihnya tumpah hampir kurang lebih dua jam di dalam gedung pertunjukan itu.
"Bagaimana kalau sekarang kita makan siang dulu? habis nangis pasti laparkan? aku saja yang tidak nangis sangat lapar!" Runi memengang perutnya.
__ADS_1
"Oke, ayo kita makan supaya punya tenaga menjalani hidup!" Menta yang sudah berkomitmen untuk move on pun kemudian mengangguk dengan optimis.
"Ayooo!!" mereka berdua pun berjalan menuju tempat makan favorit mereka saat SMA dulu.
"Kau mau makan apa?" Runi bertanya.
"Biasa lah" jawab Menta.
"Oke" karena mereka berdua sudah punya menu favorit masing-masing, maka Runi oun kemudian memesankannya.
"Woahhhhh enak sekali" entah karena lapar atau karena sedang dalam kondisi yang emosi, keduanya makan tanpa mempedulikan sekitar mereka.
"Aku mau nambah dong!" Menta memesan lagi menu yang sama untuk kedua kalinya. Rasa sedih dan stress cukup membuat energinya banyak menghilang.
"Oke, aku pesankan ya" Runi kemudian memesan lagi untuk sahabatnya, sementara dirinya sendiri sudah kenyang.
"Sudah lama rasanya aku tidak makan seenak ini" Menta seperti sudah membuang semua kenangan buruknya di dalam gedung bioskop.
"Pelan-pelan saja, kan tidak ada yang minta" Runi senang melihat sahabatnya bisa kembali makan dengan lahap setelah selama ini ia selalu tidak bisa makan enak karena hamil dan melahirkan serta kehilangan bayinya.
"Aku mau ke toilet sebentar ya" kemudian ia berdiri.
"Oke" angguk Menta tanpa melepaskan pandangan dari makanannya.
..........
BRUKKK...
"Awwwww" Runi meringis kesakitan saat menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.
"Maaf nona, aku tidak sengaja" kata orang itu sambil menahan tubuh Runi yang hampir jatuh.
"Iya tidak ap,," kalimatnya terhenti saat mengetahui orang yang menbraknya ternyata adalah Rich.
"Apa anda baik-baik saja?" Rich menatap wajah Runi yang tidak asing namun lupa dimana dia pernah bertemu.
"Iya aku baik-baik saja, permisi" bersiap pergi untuk menghindar.
__ADS_1
"Hey nona tunggu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Rich menahan lengan Runi.
"Tidak, anda mungkin salah orang" masih mengelak.
"Tapi sepertinya aku sangat mengenal wajahmu, tapi dimana ya?" Rich berfikir dengan cepat.
"Tidak mungkin, saya bukan orang sini" kemudian mengambil langkah seribu berbalik arah dan pergi dengan cepat.
"Hey nona tunggu!!" casanova itu hendak mengejar namun tertahan oleh Raf yang tiba-tiba muncul dari dalam toilet.
"Kau berteriak memanggil siapa?" Raf celingukan karena Runi sudah menghilang.
"Itu ada gadis yang sepertinya aku sangat kenal, tapi entah dimana!" Rich masih sangat penasaran.
"Ck, tentu saja kau lupa, gadismu kan sudah tidak terhitung!" Raf mencibir dengan sinis.
"Tidak, dia bukan salah satu dari mereka, aku yakin itu, tapi aku lupa siapa dia, tapi wajahnya sangat familiar, tapi aku tidak punya petunjuk!" Rich seperti orang bodoh.
"Tapi, tapi, tapi saja, sudah ah jangan omong kosong terus!" Raf yang sebal dengan sikap sepupunya kemudian berjalan menjauh tanpa mempedulikan Rich lagi.
"Heyyy dasar kakak sepupu brengsek, main tinggal saja!" akhirnya menyusul dengan mulut menggerutu.
..........
"Kau kenapa seperti orang kesetanan?" Menta yang melihat Runi kembali dengan wajah panik bertanya.
"Apa kau sudah selesai makan?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sahabatnya itu.
"Sudah" sambil menunjuk dua porsi makanannya yang habis bersih.
"Kalau begitu ayo kita pulang!" ia berdiri menuju meja kasir.
"Kau kenapa sih? kenapa tiba-tiba begitu sikapnya?" Menta heran.
"Nanti saja aku ceritakan" bergegas menuju mobilnya.
Setelah mobilnya berjalan menjauh dari mall Anderson dan dirasa cukup aman, kemudian Runi pun menceritakan semua kronologis kejadiannya kepada Menta. Ia yang masih sangat membenci Rich berjanji tidak ingin menyapa pria itu sampai kapan pun, bahkan jika harus terpaksa bertemu, maka ia akan sebisa mungkin memberi jarak padanya.
__ADS_1