Terjebak Cinta Mr. Casanova

Terjebak Cinta Mr. Casanova
Terjebak Hujan


__ADS_3

"Aku pulang duluan ya, mau jemput nyonya besar di puskesmas nih" Raf berdiri dari meja kerjanya setelah merapikan laptop dan berkas-berkasnya.


"Tuan, aku boleh ikut ya, aku juga mau ketemu sama bu bidan" kata Burhan yang tidak lain adalah utusan dari perusahaan Putra Angkasa yang akan bekerja bersama Runi, Rich dan Raf menangani proyek di desa.


"Aku juga deh, biar bisa pulang sama bu suster juga hehehehehe" Haris temannya Burhan juga ikutan mematikan laptopnya.


"Ya sudah ayo" Raf mengajak keduanya.


"Eh kalian berdua tidak pulang?" Raf yang melihat Runi dan Rich masih duduk di kursi kerja mereka bertanya.


"Aku masih harus menyelesaikan laporan ini kak, tanggung sedikit lagi selesai" jawab Runi sambil menunjuk laptopnya.


"Ohhh" angguk Raf sambil ber oh ria.


"Aku juga masih ada sedikit lagi, kalian duluan saja" jawab Rich sambil pura-pura fokus ke layar laptopnya, padahal sesungguhnya ia hanya ingin mengambil kesampatan berlama-lama bersama dengan Runi saja.


"Baiklah, kalau begitu kami bertiga duluan ya" Raf melambaikan tangan.


"Iya" jawab Runi dan Rich serentak.


..........


"Runi,," Rich memanggil gadis yang masih fokus dengan layar di depannya.


"Ya?" jawab Runi masih dengan fokus ke pekerjaannya.


"Apa masih lama?" Rich yang sejak tadi hanya menatap gadis itu tanpa melakukan apapun kemudian bertanya. Hampir satu jam mereka berdua duduk diam dengan pikiran dan kesibukan masing-masing. Runi dengan pekerjaan yang sedang dikerjakannya, semetara Rich dengan angan-angan akan cintanya dengan gadis itu.


"Lumayan, mungkin satu atau dua jam lagi baru selesai" kata Runi sambil mengira-ngira waktu bekerjanya lagi.


"Ohhhh" Rich merasa senang karena artinya dia masih punya banyak waktu untuk berdua saja dengan Runi, meskipun hanya bisa memandang dari jauh saja tanpa bisa menyentuhnya, namun itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.


"Kalau kakak sudah selesai dan mau pulang duluan juga tidak apa-apa, aku sudah biasa kok sendirian" kata Runi.

__ADS_1


"Tidak, aku juga masih mau menyelesaikan pekerjaanku" Rich mencari alasan.


"Oh oke" untuk urusan pekerjaan Runi memang sangat profesional, ia bahkan bersikap layaknya seorang rekan kerja yang tidak pernah terlibat konflik pribadi sama sekali dengan Rich.


DUARRRRRR....


Petir menyambar dengan sangat kencang.


"Yahhhh, kok listriknya padam sih!" Runi menggerutu karena ruangan menjadi gelap serta koneksi internet mereka terputus setelah bunyi petir tersebut.


"Sepertinya mau hujan deh" Rich menatap jendela disebelah meja kerjanya.


"Ck, terpaksa deh dilanjutkan besok saja" Akhirnya ia mematikan laptopnya.


"Apa kau mau pulang sekarang?" Rich bertanya.


"Memang mau ngapain lagi? kan tidak bisa kerja lagi kalau begini!" jawab Runi apa adanya.


"Ya sudah ayo kita pulang" Rich pun menutup laptopnya dan bersiap berjalan menuju pintu menyusul Runi yang sudah duluan.


"Terpaksa kita harus tunggu dulu sampai reda kalau begini" Rich sungguh merasa beruntung karena cuaca seolah mendukung usahanya untuk dapat berdua saja dengan sang pujaan hati.


"Menyebalkan!" terpaksa Runi pun mengikuti perkataan Rich.


Cukup lama hujan lebat disertai angin kencang dan petir membuat mereka berdua mati gaya. Runi yang gelisah hanya bisa memandangi suasana hujan dari balik jendela ruangan.


"Runi,," Rich mencoba mendekat ke arah gadis itu dan memeluknya dari belakang.


"Kak, apa yang kau lakukan?" ia terkejut karena tiba-tiba saja tangan pria itu sudah melingkar dengan erat dipinggangnya.


"Jangan bergerak, aku mohon diamlah sebentar saja" pria itu meletakkan dagunya di bahu Runi dan mulai membenamkan wajahnya dileher jenjang gadis itu serta menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan.


"Kak, aku mohon lepaskan" Runi mencoba bergerak agar pelukan Rich terlepas, namun pria itu justru merengkuhnya lebih erat lagi.

__ADS_1


"Maafkan aku Runi, aku sangat mencintaimu" pria itu berbisik tepat ditelinga Runi, membuat gadis itu meremang karena hembusan nafas Rich menyapu lehernya.


"Kak, jangan begini" mencoba kembali untuk melepaskan diri.


"Kau tau sayang, aku menunggu saat seperti ini begitu lama" perlahan Rich memutar tubuh Runi agar mereka saling berhadapan.


"Kak Rich, ini salah" katanya sambil mendorong tubuh atletis pria itu.


"Katakan padaku kalau kau tidak mencintaiku, tatap mataku, katakan kalau tidak ada aku dihatimu!" Rich memaksa Runi untuk menyatukan pandangan mereka.


"Aku sudah punya kekasih kak, ini salah!" ia membuang muka.


"Aku tau kau juga memiliki perasaan ini kan!?" Rich meraih tangan Runi dan meletakkannya di dadanya.


"Kakkk,," terpekik karena terkejut dengan gerakan tangan Rich yang tiba-tiba.


"Beri aku kesempatan sekali lagi, aku mohon" tangannya kini mengelus pipi Runi.


"Aku sudah punya kekasih kak" meskipun Runi sangat menikmati setiap sentuhan lembut pria itu dikulitnya, namun ia tetap berusaha menjaga akal sehatnya dengan tidak mau menghianati Greg.


"Aku tidak peduli, asalkan masih ada aku dihatimu, maka sampai kapan pun aku akan berjuang untuk mendapatkan cintamu kembali!" Rich sangat yakin bahwa cinta Runi untuknya lebih besar dari pada untuk kekasihnya sendiri.


"Kak ini tidak beeeemmmppppphhhh" kalimatnya terputus karena Rich membekap bibir gadis itu dengan bibirnya. Seketika itu juga hati dan pikiran Runi seperti saling bertolak belakang. Gemuruh cinta terpendamnya terhadap Rich seperti bertentangan dengan rasa setianya terhadap Greg. Kini ia berdiri dipersimpangan jalan.


"Ahhhhhh kakkkk jangannnnn" suara memohon keluat dari bibir Runi saat Rich menelusuri lehernya.


"Emmmppphhhhhh" Runi melenguh saat Rich kembali memagut bibir mungil itu dan kini pria itu bahkan menerobos lebih dalam lagi. Tanpa disadari, Runi pun seperti terhanyut dalam permainan pria itu dan menyambutnya begitu saja.


"Aku tau bahwa sejak awal hatimu hanya untukku sayang,," Rich tersenyum saat melepaskan pagutannya.


"Aku pastikan bahwa hatiku pun hanya milikmu!" pagutan demi pagutan pun kemudian terjadi begitu saja tanpa bisa dihindari oleh keduanya. Meskipun pertempuran batin Runi akan cintanya terhadap Rich dan kesetiaannya terhadap Greg semakin membuat gadis itu gila, namun dalam situasi seperti ini entah mengapa ia pun tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Tubuhnya seperti tersetting otomatis menyambut setiap sentuhan Rich yang memabukkan.


"Cukup kak, ayo kita pulang, hujannya sudah reda" Runi yang sudah kembali pada kondisi kesadaran penuh kemudian mendorong tubuh Rich menjauh darinya agar pria itu tidak menciumnya lagi dan lagi.

__ADS_1


Tanpa sepatah kata pun, mereka kemudian berjalan pulang menuju paviliun desa. Runi yang merasa seperti orang gila, berjalan dengan cepat sambil mendekap tasnya. Sementara Rich berjalan mengikuti gadis itu dibelakannya sambil tersenyum penuh kebahagiaan setelah mengetahui bahwa Runi memang masih mencintainya seperti dulu. Ia bertekad akan merebut hati gadis itu kembali dan memenangkan cintanya dari Greg sang kekasih.


__ADS_2