
Sasa yang sedang tidur lelap,dia terbangun mendengar ponsel nya berdering.Dia melihat layar ponselnya dan mengangkat teleponnya.
"Hallo,ada apa Jul?"Tanya Sasa di seberang telepon.
"Maksud kamu apa?beneran Berlin mencari Nicholas?"Cerocos Juli,karena ingin tau ceritanya.
"Kamu tau dari siapa?"Tanya Sasa,karena dia bingung dengan ucapan Juli.
"Kamu yang mengirim aku pesan duluan."Balas Juli yang heran dengan ucapan Sasa.
"Aku tidak mengirimi kamu pesan."Ujar Sasa merasa bingung dengan apa yang terjadi.
"Kamu mengirim aku pesan Sa,coba cek isi pesan kamu terhadap aku."Ucap Juli yang gemas dengan Sasa.
"Ini bukan aku yang mengirim pesan,sepertinya Niko yang mengirimi kamu pesan."Jawab Sasa yang tidak tau apa-apa.
"Beneran Sa?"tanya Juli memastikan.
"Benar Jul,tapi benar sih apa yang di kirim Niko.Wanita yang bernama Berlin mencari bos kita,bahkan dia bilang kamu menggoda pak bos."Cerita Sasa yang membuat Juli kesal.
"Enak aja aku wanita penggoda,jelas-jelas dia wanita gila yang terobsesi dengan pacarku."Kesal Juli mendengar cerita Sasa.
"Memang Berlin itu siapa Jul?"tanya Sasa yang penasaran.
"Dia sahabat kecilnya Nicholas,tapi Nicholas sangat risih dengan Berlin yang selalu menempel padanya."Cerita Juli dengan kesal kepada Sasa.
"Sekarang kamu dimana Jul?"tanya Sasa,karena dia tidak melihat Juli di hotel.
"Aku di bawa pergi Nicholas ke luar negeri."Balas Juli yang masih kesal dengan Berlin.
"Apa?Kapan? Kenapa kamu tidak memberitahuku?"tanya Sasa,karena Juli pergi tanpa memberitahunya sama sekali.
"Ceritanya panjang Sa,nanti kalau kita bertemu aku ceritakan semuanya."Balas Juli yang tidak mau sahabatnya khawatir.
"Baiklah,jaga dirimu baik-baik."Ucap Sasa yang merasa menyesal dengan tindakannya terhadap Juli.
"Ok,sudah dulu ya bye."Balas Juli yang langsung mematikan teleponnya.
Sasa begitu kesal,karena Juli mematikan teleponnya sepihak.Dia melihat Niko yang sedang tidur di sofa,dia tidak habis pikir dengan Niko yang mengirim pesan terhadap Juli.Sasa menghampiri Niko yang sedang tidur di sofa,dia membangunkan Niko untuk meminta penjelasan terhadap Niko.
"Niko bangun."Panggil Sasa,sambil menggoyangkan tangan Niko.
Niko mendengar suara Sasa memanggilnya,apalagi Sasa menggoyangkan tangannya.Niko membuka matanya dan dia langsung duduk di sofa.
"Ada apa?"Tanya Niko,sambil mengucek matanya karena mengantuk.
"Kamu mengirim pesan terhadap Juli?"Balas Sasa,melipat tangannya di hadapan Niko.
"Iya benar,aku mengirim pesan terhadap sahabat kamu.Lagian sahabat kamu harus tau,memangnya kamu tidak kasihan dengan sahabat kamu."Balas Niko,karena melihat wajah Sasa seperti marah terhadap dirinya.
"Tapi kan,itu bukan urusan kita."Cerocos Sasa,karena dia tidak ingin ikut campur.
"Dia sahabat baik kamu bukan?"Tanya Niko,karena ingin mendengar jawaban Sasa.
"Benar,dia sahabat baik aku."Jawab Sasa,karena memang Juli sahabat baiknya.
"Jika dia sahabat baik kamu,kenapa kamu tidak ingin membantunya? Jelas-jelas saat aku memeluk kamu saja,dia sangat marah dan dia begitu takut kamu di apa-apakan oleh aku."Ungkap Niko,agar Sasa juga harus adil untuk melindungi sahabatnya.
"Baiklah,terima kasih sudah menyadarkan aku."Balas Sasa,dia merasa tertampar dengan ucapan Niko.
"Baiklah,ayo tidur lagi.Apalagi ini masih malam."Ucap Niko,karena masih mengantuk.
"Maaf,aku mengganggu tidur kamu sayang."Ujar Sasa,karena dia tidak sadar jika ini masih malam.
"Hmm."Balas Niko,dia langsung berbaring dan melanjutkan tidurnya.
Sasa kembali ke ranjangnya dan dia melihat layar di ponselnya.Masih menunjukkan jam setengah 3 pagi,dia langsung melanjutkan tidurnya.
Waktu cepat berlalu,Niko membuka matanya dan merasa tubuhnya begitu pegal.Dia membutuhkan pijatan saat ini,dia langsung meregangkan otot-otot di tubuhnya agar tidak merasa pegal.
"Sepertinya,aku harus pulang."Gumam Niko,karena takut keluarganya mencari dirinya.
Niko melihat Sasa yang masih tidur di ranjangnya,dia berjalan menghampiri Sasa.Niko duduk di ranjang Sasa,dia membelai wajah Sasa yang menurutnya sangat Cantik.
Sasa yang tidur,dia terganggu dengan seseorang yang menyentuh wajahnya.Sasa membuka matanya dan melihat Niko yang sedang menatapnya.
"Ada apa?"Tanya Sasa,karena dirinya masih mengantuk.
"Sepertinya,aku harus pulang."Jawab Niko,sambil membelai rambut Sasa.
Sasa yang mendengarnya langsung memeluk Niko,Sasa tidak ingin Niko pergi meninggalkan dirinya sendirian.
"Jangan pergi,nanti aku sendirian."Ucap Sasa,begitu manja pada Niko.
"Kamu mau ikut dengan aku?"Tanya Niko,melepaskan pelukan Sasa.
"Aku boleh ikut?"Balas Sasa senang,karena Niko tidak akan membiarkan dia sendirian.
"Boleh,akan aku perkenalkan kamu dengan keluarga ku."Balas Niko dengan tersenyum.
"Baiklah,aku mandi dulu."Ujar Sasa,dia langsung lari ke kamar mandi.
Niko yang melihatnya tersenyum,akhirnya dia bisa memperkenalkan Sasa kepada keluarganya.Niko menelepon ibunya,karena dia ingin membawa Sasa pulang.
__ADS_1
"Halo,ada apa nak?"Jawab sang ibu yang menerima panggilan dari anaknya.
"Mah,aku mau membawa Sasa bertemu kalian."Ucap Niko dengan senang.
"Sasa yang menyelamatkan hidup kamu dulu?"Tanya ibunya Niko memastikan.
"Benar mah,aku secepatnya ingin melamar Sasa."Jawab Niko,karena merasa dunianya berwarna.
"Kapan kamu mau melamarnya?"Tanya sang ibu,karena ingin melihat anaknya bahagia.
"Kalau minggu ini gimana mah?"Tanya Niko balik terhadap ibunya.
"Baiklah,lebih cepat lebih baik."Jawab sang ibu,karena sekarang anaknya begitu bahagia bertemu Sasa.
"Yasudah,aku tutup dulu teleponnya."Ujar Niko dan langsung mematikan teleponnya.
Niko masih menunggu Sasa mandi,dia begitu senang saat ini.Dia menengok ke arah kamar mandi,dia melihat Sasa yang sudah mandi.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri sayang?"Tanya Sasa,begitu heran melihat Niko senyum-senyum.
"Aku sedang bahagia,karena duniaku sekarang lebih berwarna dengan adanya kamu di hidupku."Jawab Niko,membuat wajah Sasa memerah.
"Cepat sana,kamu pergi mandi."Perintah Sasa,karena tidak ingin wajahnya di lihat Niko.
"Ok sayang."Balas Niko dan langsung ke kamar mandi.
Sasa mendengar Niko yang sedang bernyanyi di kamar mandi,Dia tersenyum dengan Niko yang begitu bahagia saat bersama dirinya.
"Aku tidak menyangka,Niko bisa mencintai aku."Gumam Sasa,sambil membereskan barangnya ke dalam koper yang dia bawa.
Sasa telah selesai membereskan barang-barangnya dan dia sekarang sedang menunggu Niko yang mandi.Niko keluar dari kamar mandi dengan tersenyum bahagia.
"Ayo sayang."Ajak Niko,begitu senang membawa Sasa ke rumahnya.
"Sayang kita berpisah ya,soalnya aku kesini memakai mobil Juli."Ucap Sasa,karena tidak bisa satu mobil dengan Niko.
"Tidak apa-apa sayang,bagaimana kalau kita ke rumah kamu dulu?"Tanya Niko,agar dia bisa satu mobil dengan Sasa.
"Baiklah sayang,kamu nanti ikuti aku dari belakang ya sayang."Perintah Sasa,agar Niko mengikutinya dari belakang.
"Ok sayang."Balas Niko yang tersenyum bahagia.
Mereka sampai di parkiran dan menaiki mobil masing-masing.Mereka meninggalkan hotel dan melaju ke arah rumah Sasa.Mereka melakukan perjalanan hingga 2 jam perjalanan,saat tiba Sasa langsung masuk ke rumah Juli dan menaruh barang-barangnya.
Sedangkan Niko sekarang,dia berada di ruang tamu berbincang dengan orang tuanya Sasa.
"Saya Niko,pacarnya Sasa.Saya berniat minggu ini mau melamar Sasa om."Ucap Niko,menjelaskan terhadap orang tua Sasa.
"Minggu ini?"Tanya ibu Sasa,karena kaget mendengar ucapan Niko.
"Baiklah,tapi apa tidak terlalu cepat nak?"Tanya ibu Sasa,karena tidak menyangka anaknya akan di lamar orang.
"Saya tidak ingin kehilangan Sasa tante,saya sudah lama mencari Sasa kemana-mana."Balas Niko,begitu jujur terhadap orang tua Sasa.
"Mencari Sasa kemana-mana,maksudnya bagaimana nak Niko?"Tanya ibu Sasa,dia tidak mengerti dengan ucapan Niko.
"Sewaktu kecil,Sasa pernah menyelamatkan hidup saya tante."Jawab Niko,menceritakan kejadian dimana Sasa menyelamatkannya.
"Sekarang aku ingat,kamu yang dulu Sasa selamatkan di pantai bukan?"Tanya ayah Sasa,sambil mengingat kejadian yang dulu.
"Benar om,om masih mengingatnya."Balas Niko,sangat antusias melihat ayah Sasa.
"Aku baru mengingatnya."Jawab ayah Sasa dan menatap Niko.
"Saya mau izin kepada om dan tante untuk membawa Sasa ke rumah saya,karena orang tua saya ingin bertemu Sasa."Izin Niko,berharap Sasa bisa ikut dengannya.
"Silahkan,pulangnya jangan malam-malam ya nak."Ucap ibu Sasa,dia mengingatkan Niko.
"Baik tante,terima kasih."Balas Niko tersenyum senang,karena sudah mendapatkan izin dari orang tua Sasa.
Sasa menghampiri mereka di ruang tamu,Sasa melihat wajah mereka yang serius saat berbincang.
"Aku sudah siap."Ucap Sasa terhadap Niko.
"Ayo."Ajak Niko tersenyum senang,karena akan membawa Sasa ke keluarganya.
"Aku pamit ya pak,mah."Pamit Sasa kepada orang tuanya.
"Hati-hati sayang."Ucap orang tua Sasa barengan.
Mereka naik mobil milik Niko dan langsung pergi meninggalkan rumah Juli yang di tinggali Sasa.
"Kamu senyum-senyum terus ih."Ucap Sasa,begitu heran dengan sikap Niko.
"Aku kan lagi senang."Jawab Niko,dia langsung menggenggam tangan Sasa.
"Aku gugup,mau bertemu keluarga kamu."Ucap Sasa,merasa jantungnya sangat berdebar.
"Tidak usah gugup sayang,mereka justru sangat senang bertemu dengan kamu."Balas Niko agar Sasa tenang.
"Memangnya kamu sudah memberitahu keluarga kamu?"Tanya Sasa,melihat Niko yang sedang fokus menyetir.
"Tentu saja sudah,mereka sedang menyambut kamu sekarang sayang."Balas Niko dan langsung mencium tangan Sasa.
__ADS_1
"Benarkah?"Tanya Sasa,dia tidak percaya dengan ucapan Niko.
"Benar sayang,mereka sedang menunggu kamu."Jawab Niko dengan bersungguh-sungguh.
"Aku ragu,apakah mereka akan menerima aku sebagai pacar kamu."Ujar Sasa,dia merasa takut keluarga Niko tidak menerima dirinya.
"Mereka menerima kamu apa adanya,karena berkat kamu dunia aku berwarna sayang."Jawab Niko dan menoleh kepada Sasa dengan tersenyum tulus.
Mereka sampai di rumah Niko dan keluarga Niko menyambut Sasa dengan hangat.
"Masuk sayang."Panggil ibu Niko kepada Sasa.
"Iya tante."Balas Sasa,dia tersenyum kepada ibu Niko.
"Jangan panggil tante,panggil saja mamah."Perintah sang ibu,agar Sasa memanggil dirinya mamah seperti orang tuanya sendiri.
"Ayo sayang."Ajak Niko,dia menarik Sasa ke dalam rumah.
Sasa mengikuti langkah Niko yang masuk ke dalam rumahnya,Sasa kaget rumahnya sangat besar melebihi rumahnya yang dulu.Sekarang rasanya,dia merasa minder berpacaran dengan Niko.
Mereka berkumpul di ruang tamu dan Niko memperkenalkan semua keluarganya terhadap Sasa,sekarang tinggallah Sasa bersama ibunya Niko di ruang tamu.
"Orang tua kamu kerja apa sayang?"Tanya ibu Niko,menatap Sasa dengan tersenyum.
"Orang tua saya sedang tidak bekerja mah,keluarga Sasa di tipu orang sehingga barang-barang kami semua di sita."Ungkap Sasa dengan jujur,dia menceritakan kondisi keluarganya.
"Lantas,kamu sekarang tinggal dimana?"Tanya sang ibu,dia merasa iba dengan keluarga calon menantunya.
"Kami tinggal di rumah sahabat saya mah,karena rumahnya tidak ada yang menghuni dan Sasa juga kerja di NJ Group untuk menghidupi keluarga Sasa."Jawab Sasa,begitu terbuka dan tanpa menutupi apa yang terjadi dengan keluarganya.
"Suruh ayah kamu,melamar bekerja di perusahaan ayahnya Niko."Perintah ibu Niko,karena khawatir dengan calon besannya.
"Terima kasih mah."Balas Sasa terharu dan langsung meneteskan air matanya.
Ibu Niko yang melihat Sasa menangis langsung menghampiri dan memeluknya,Niko melihat ibunya yang memeluk Sasa dengan wajah kebingungan.
Niko menghampiri Sasa dan ibunya,dia ingin tau apa yang terjadi dengan mereka.Hingga Sasa menangis di pelukan ibunya,dia khawatir dengan Sasa.
"Kenapa kalian bersedih?"Tanya Niko,melihat ke arah ibu dan pacarnya.
"Kamu jaga Sasa baik-baik ya Niko."Perintah sang ibu,menatap tegas anaknya.
"Iya mah,tanpa mamah minta aku akan menjaganya dengan baik."Jawab Niko,karena tanpa di suruh juga dirinya akan menjaga Sasa dengan baik.
"Nanti Ayah Sasa,akan bekerja di perusahaan kita."Ucap sang ibu.
"Memangnya,ayah Sasa tidak bekerja?"Tanya Niko,karena bingung dengan ucapan ibunya.
"Iya tidak bekerja,keluarga Sasa di tipu orang."Balas sang ibu,membuat anaknya shock saat mendengarnya.
"Kenapa kamu tidak cerita terhadap aku Sa?"Tanya Niko,merasa marah saat mendengar dari ibunya.
"Gimana aku mau cerita,kamu saja tidak menanyakannya."Balas Sasa,karena tidak mau di salahkan oleh Niko.
"Iya salahku,karena aku tidak menanyakannya terhadap kamu Sa."Ujar Niko merasa bersalah,karena memarahi Sasa.
"Tidak apa-apa."Jawab Sasa tersenyum,karena tidak ingin berlarut-larut membalasnya.
"Sudah,ayo kita makan."Ajak sang ibu,karena sudah memasak untuk menyambut kedatangan Sasa ke rumahnya.
Mereka berjalan ke arah meja makan dan hidangan sudah tertata rapi,mereka langsung duduk di meja makan.Ibu Niko memberikan semua lauk terhadap Sasa,hingga piring Sasa penuh dengan makanan.
"Ini siapa yang jadi anaknya sih."Protes Niko,karena Ibunya begitu perhatian pada Sasa.
"Tidak usah cemburu,ibu senang Sasa kesini."Balas sang ibu,begitu perhatian kepada Sasa.
"Aku di jadikan anak tiri."Ujar Niko,dia pura-pura sedih.
Sang ayah yang mendengarnya langsung menyentil jidat Niko,karena anaknya berbicara sembarangan.
"Sakit ayah."Protes Niko,karena tidak terima menerima sentilan dari ayahnya.
"Rasain kamu,suruh siapa iri terhadap Sasa."Ucap sang ibu senang,karena melihat anaknya terkena sentilan suaminya.
"Cepat makan,ayah sangat lapar."Ujar sang ayah dan langsung menyuapkan makanan pada mulutnya.
Mereka makan tanpa bersuara,karena sama-sama menikmati hidangan yang di buat ibu Niko.
"Enak mah."Ucap Sasa,begitu kagum dengan masakan buatan ibu Niko.
"Nambah lagi sayang,biar kamu kenyang."Balas ibu Niko,karena senang masakannya di sukai Sasa.
Setelah selesai makan,Niko mengajak Sasa pulang.Karena dia tidak enak dengan orang tua Sasa,apalagi pasti mereka menunggu putrinya pulang.
"Hati-hati nyetirnya sayang."Ucap sang ibu,perhatian terhadap anaknya.
"Ok mah."Balas Niko,karena dia pasti berhati-hati saat mengendarai mobil.
"Salam buat orang tua kamu ya Sa."Ujar ibu Niko,menitipkan salam terhadap Sasa.
"Baik mah,nanti Sasa sampaikan salam mamah kepada orang tua Sasa.Kalau begitu Sasa pamit mah."Pamit Sasa,begitu sopan terhadap orang tua Niko.
"Hati-hati di jalan kalian."Ucap sang ayah,memberikan perhatian kecil terhadap mereka.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam mobil dan Niko langsung melajukan mobilnya.Mereka langsung meninggalkan halaman rumah Niko dan berjalan ke arah rumah Sasa.