TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC

TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC
Episode 101


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, ibel masih saja berdiam diri didalam kamarnya. Wanita itu bahkan sudah berhari-hari tidak menyentuh buah hatinya lagi, untunglah ada sang pembantu yang sigap mengurus Alice saat itu. Sementara thomas sendiri bersikap cuek terhadap sang istri, ia menganggap apa yang ibel lakukan saat ini sangatlah berlebihan. Thomas tak mengerti betapa hancurnya mental ibel saat itu.


“Hmm, entahlah. Hidupku rasanya sekarang hampa sekali, hanya Alice yang bisa membuatku semangat lagi. Tapi jika aku pulang kerumah, yang ada aku tambah pusing melihat ibel yang kondisinya seperti itu.” Gumam thomas dengan raut wajah yang nampak frustasi didalam ruangan kerjanya.


CEKLEK*


“Permisi, pak..” Ucap marco yang baru saja masuk kedalam ruangannya.


“Apa, marco?” Tanya thomas dengan nada lirihnya.


“Eum, tidak pak. Saya hanya ingin mengatakan bahwa banyak karyawan yang mulai minta resign dari perusahaan kita pak..” Pekik marco pada thomas.


Thomas pun menghela nafasnya secara kasar, “Biarlahh, jika ingin keluar dari kantor ini keluarlah saja! Aku tidak akan menahan mereka untuk tetap bekerja dikantor ini.” Sahut thomas dengan raut wajah pasrahnya.


“Pak saya mohon bangkitlah, jangan seperti ini terus. Bagaimana pun jangan sampai perusahaan keluarga bapak ini bangkrut begitu saja.” Mohon marco seketika.


“Lalu aku harus bagaimana,marco? Aku sudah buntu, jika kau mempunyai ide untuk meningkatkan perusahaan ini maka gerakan lah sekarang juga! Ingatlah, kau ini adalah ajudan pribadiku. Apapun idemu sudah pasti untuk ikut serta membangkitkan perusahaanku juga, seharusnya begitu. Iya kan?! Jika kau tau aku tidak sedang bersemangat dalam bekerja disitu lah harusnya peran kau yang menggantikanku. Just simple like that.” Ungkap thomas dengan mata sayu nya.


“Tapi pak, sudah beberapa bulan ini saya juga sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mempertahankan perusahaan bapak ini. Saya perlu anda untuk kembali memimpin perusahaan ini seperti dulu. Bangkitlah pak, untuk kemajuan hidup anda sendiri.. apa anda mau jika perusahaan ini harus bangkrut ditangan anda? Apa anda tidak memikirkan dampaknya? Jika ayah anda tau soal ini..” Sahut marco menohok hingga menyadarkan thomas saat itu juga.


Braghhhh!!!


Thomas pun menggebrakkan mejanya dengan pelan.


“Kau benar marco! Aku bisa mati jika perusahaan yang sudah dibangun ayah dengan susah payah ini harus bangkrut ditanganku begitu saja..” Ucap thomas dengan pandangan kosongnya.


Marco pun menatap thomas seraya menghela nafasnya secara pelan.

__ADS_1


“Baiklah, jika begitu. Mari kau bantu aku untuk kembali mengoptimalkan perusahaan ini. Aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh lagi!” Pekik thomas yang saat itu dianggukkan oleh marco.


“Siap, pak. Saya setuju dengan pendapat anda kali ini. Semangat!!” Sahut marco dengan wajah seriusnya.


“Oke.” Angguk thomas yang menatap marco dengan raut wajah seriusnya.


*Waktu pun terus berputar, Disisi lainnya..


Dikediaman rumah Alisha ibel, nampak wanita paruh baya sedang menggendong Alice seraya menunggu kedatangan mama rina.


“Yaallah nak, sayang.. sabar yaa semoga mama kamu cepat kembali seperti semula.” Gumamnya seraya mengelus lembut rambut Alice.


Beberapa menit kemudian, langkah seseorang pun terdengar masuk kedalam rumah tersebut.


“Mba Susi..” panggil mama rina saat itu juga.


“Bagaimana keadaan ibel? Dimana dia sekarang?” Tanya mama rina dengan menggebu-gebu.


“Non ibel masih dikamarnya, bu. Sudah berhari-hari nona tidak mau makan. Sungguh saya sangat menghawatirkan kondisinya bu.. saya tidak bisa apa-apa kecuali membantu mengurus nona muda Alice yang sejak kemarin diacuhkan oleh non ibel.” Ungkap Susi kepada mama rina.


“Astaga! Tuhan Yesus..” lirihnya dengan menghela nafasnya secara kasar.


Mama rina pun langsung melangkahkan kakinya naik ke tangga rumah tersebut dan masuk kekamar sang anak saat itu juga.


CEKLEK*


Mama rina pun membulatkan kedua matanya dengan sempurna ketika melihat anaknya terbaring diatas kasur dengan raut wajah yang sangat pias dan juga pucat.

__ADS_1


“Ibel..” lirihnya seraya menghampiri ibel.


“Mah, Maafin ibel yaa. Pasti mama datang kesini karena mama mau bilang ke ibel, semua orang termasuk tetangga kita semuanya sudah tau kondisi ibel yang sebenarnya. Ibel sudah membuat mama malu, Maafin ibel mah. Semua yang selama ini dirahasiakan sekarang terbongkar juga akhirnya..” Ungkap ibel dengan raut wajah ketakutannya saat melihat mama rina datang menemuinya.


“Tidak sayang, mama kesini bukan untuk menyalahkanmu. Mama justru mau melihat kondisimu sekarang, kenapa kamu sampai pucat sekali seperti ini. Kamu pasti mogok makan kan karena kepikiran masalah ini?” Sahut mama rina yang merasa iba melihat sang putri.


“Enggak ko mah, ibel gak papa. Ibel justru kepikiran mama, takut mama setres karena banyaknya gunjingan orang tentang aku. Mama pasti malu karena aku sudah merusak nama baik mama. Sekali lagi ibel minta maaf ya mah.” Ucap ibel dengan mata yang berkaca-kaca.


“Kamu anak mama,bel. Dan kamu tau mama kamu ini bukan orang yang lemah. Mama sungguh tidak apa-apa meskipun banyak yang menggunjing mama. Mama kesini karena mama tau, kamulah yang seharusnya mama urus sejak masalah ini datang. Karena mama tau, kamu yang lemah! Mentalmu pasti tidak akan sanggup menerima semua ini.. itulah mengapa dari awal mama pun menyetujui pernikahanmu yang digelar secara diam-diam ini, mama fikir hal itu akan membuatmu merasa tenang karena tidak akan ada yang mengetahui kehamilanmu. Tapi ternyata mama salah, mama lupa jika bangkai tetaplah bangkai. Mau ditutup secara rapatpun pasti akan tercium juga baunya. Sama halnya dengan apa yang kamu alami saat ini.”


“Mama tidak menyalahkan apa yang sudah kamu perbuat, yang lalu biarlah berlalu. Tapi dengan kejadian ini, mama harap kamu bisa ambil hikmahnya. Tidak usah kamu terpuruk seperti ini. Buktikan bahwa kamu baik-baik saja, ini memang sudah menjadi resiko atas perbuatanmu, bel. Kamu harus hadapi, lalui sesulit apapun itu.” Imbuh mama rina kepada ibel dengan raut wajah seriusnya.


Ibel pun hanya terdiam, matanya seakan kosong. Wanita itu tetap saja terbebani dengan masalah yang sedang ia hadapi. Selain merasa kehilangan banyak teman, ia pun merasa begitu hina dimata semua orang.


“Apa yang sudah thomas lakukan untukmu? Apakah dia membelamu didepan publik?!” Tanya mama rina seketika.


Ibel pun tetap terdiam dan malah menundukkan pandangannya kebawah.


“Hmmm, sepertinya mama tau bagaimana caranya agar kamu bisa kembali menjalani aktivitasmu dengan tenang.” Dehem mama rina dengan melengoskan pandangannya.


Mama rina pun langsung meraih ponselnya yang ada didalam tasnya, lalu ia pun memainkan ponselnya untuk waktu yang cukup lama.


“Bel, mama gak bisa lama-lama disini. Mama hanya ingin melihat kondisimu saja. Mama sudah banyak bicara kepadamu, semoga kamu mau menyaring semua ucapan mama barusan. Dan yang paling penting, kamu sebagai seorang ibu jangan sampai lepas tanggung jawab seperti ini. Seberat apapun masalahmu, anak tetap harus kamu urus bel! Untung saja kamu punya pembantu, kalo tidak? Sepertinya Alice tidak terurus sama-sekali. Mama harap kamu bisa berfikir lebih pintar lagi! Meskipun sekolahmu tidak sampai tamat, setidaknya kamu punya bekal berpendidikan..” Pesan mama rina menohok.


Lagi lagi ibel pun terdiam merenungi apa yang diucapkan oleh mama rina, wanita itu sebenarnya hanya perlu support dari sang suami. Naasnya thomas lebih memilih cuek dan tidak mensupportnya sama sekali. Hal itu yang membuat kondisi mental ibel semakin terpuruk.


**

__ADS_1


__ADS_2