TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC

TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC
Episode 58


__ADS_3

*Waktu pun terus berlalu, kini semuanya telah berkumpul didepan ruangan tindakan operasi. Ibel dan seluruh orang disana saling memanjatkan doanya masing-masing untuk kelancaran operasi Alice saat itu.


Sebagai seorang ibu, tentu saja ibel begitu menyayangi anaknya dalam kondisi apapun. Ibel berharap operasi yang dijalani sang anak akan berjalan dengan lancar sesuai harapannya, tak bisa dipungkiri lagi, saat itu wajahnya terlihat begitu pucat, tubuhnya pun terlihat bergetar dengan hebat.


Mama rina yang sudah berada disana pun terus memeluk tubuh sang anak agar merasakan ketenangan.


Sementara thomas sendiri malah sibuk memainkan ponselnya disaat yang lainnya justru menyatukan kedua tangannya masing-masing.


“Ekhem, thom. Sibuk banget deh lo kayaknya dari tadi mainan hp mulu.” Dehem Sarah yang duduk diantara thomas dan juga Vega.


Thomas pun sedikit terkejut saat Sarah menegurnya meski dengan nada lirihnya.


“Apaan sih lo! Bikin kaget aja, lo kan tau gue sekarang jadi CEO, ya otomatis kalo gue gak dikantor, kerjaan gue sama hp lah..” protes thomas yang juga dengan nada lirihnya.


“Iya gue tau kok lo seorang CEO muda sekarang, dan lo jadi orang sibuk sekarang! tapi lo liat sikon dong,thom! Istri lo tuh kasian dari tadi cemas in anak lo yang lagi dioperasi. Seenggaknya lo disini tuh kasih support lah buat dia meskipun lo kayaknya gak secemas itu sama anak lo sendiri.” Ketus Sarah kepada thomas.


Thomas pun sontak melirik ibel sekilas, lalu ia pun menelan salivanya dengan cepat.


“Lo gak usah sok tau ya sar! Gue ini daddy nya Alice, mana mungkin gue gak cemas sama anak gue sendiri! Dan soal ibel, lo gak liat kalo disampingnya udah ada mamanya? Jadi gue gak perlu lagi kasih supportnya! Faham!” Gertak thomas dengan tatapan menyeringai nya namun masih dengan nada lirihnya.


Ketika Sarah ingin menyahutnya kembali, Vega pun sontak memegang tangan Sarah untuk memberikannya kode agar Sarah tidak lagi meladeni thomas saat itu.


“Hmmm.” Sarah pun menghela nafasnya secara pelan.


“Percuma kamu bicara sama thomas, dia itu ego nya tinggi. Dan memang dia gak pernah suka dikasih nasehat sama orang. Jadi udah, biarkan saja, ya?!” Bisik Vega yang saat itu dianggukkan oleh Sarah.


Alex dan juga revano yang sadar akan hal tersebut pun langsung saling menyenggol satu sama lain.


“Kenapa tuh Sarah sama thomas?” Tanya revano kepada Alex.


“Gue kan disamping lo van! Jadi gue mana tau bego..” Sahut Alex dengan mengangkat kedua bahunya.


“Ahiya, salah orang gue..” singkat revano yang menggarukkan kepalanya meskipun tidak gatal tersebut.


*Hingga beberapa puluh menit kemudian\~


Suara panggilan untuk keluarga Alice pun terdengar,

__ADS_1


“Panggilan untuk keluarga pasien bayi Alice graciella Roberto dimohon untuk segera masuk keruangan perawat, sekarang..”


Ibel pun sontak bangkit dari tempat duduknya saat itu, “Ruang perawat? Sebelah mana?!” Tanya ibel kepada semua orang yang ada dihadapannya.


“Bel, sepertinya ruangannya yang itu deh. Disamping pintu operasi ini..” Sahut Sarah seraya menunjuk kearah ruangan perawat.


“Biar mama temanin yuk, nak.” Sergah mama rina yang menawarkan diri kepada sang anak.


“Gak usah, mah. Biar saja ibel sendiri yang kesana.” Tolak ibel seketika.


“Kamu duduk saja bel! Biarkan thomas yang akan kesumber suara tersebut! Apa gunanya ada dia disini..” Cela ayah Jacky menohok hingga thomas pun sontak menelan salivanya dengan cepat.


“Eum, baiklah. Biar aku saja yang kesana..” Timpal thomas yang dengan terpaksa menganggukkan kepalanya saat itu.


Thomas pun melangkahkan kakinya masuk keruangan yang telah diperintahkan tersebut,


“Maaf, bapak dengan keluarga pasien bayi Alice?!” Tanya salah satu perawat yang berada diruangan tersebut.


“Ya, saya daddynya.. ada apa ya sus?!” Angguk thomas saat itu juga.


“Anak bapak sudah keluar dari ruangan operasi pak, alhamdulilah operasinya berjalan dengan lancar, tapi saat ini keadaannya masih belum sadar ya pak, karena masih dalam efek bius. Kemungkinan sekitar 30 menitan lagi sadar pak, dan sekarang bapak boleh menemui anak bapak ya, boleh juga untuk digantikan diapers nya sekalian..” Ungkap sang perawat dengan ramahnya.


“Mari ikut saya pak, tapi sebelumnya mohon maaf. Bapak harus memakai baju ini dulu ya.” Pinta sang perawat seraya memberikan pakaian khas orang yang akan memasuki ruangan steril setelah operasi.


Thomas pun menganggukkan kepalanya, lalu ia pun memakai pakaian tersebut dan mengikuti langkah perawat tersebut menuju sang anak berada.


“Ini Alice ya pak, mohon jangan berisik, disarankan untuk sekalian mengganti diapersnya ya pak, soalnya terkena darah popoknya.” Ucap sang perawat yang telah menghantarkan thomas kepada anaknya.


“Terimakasih,sus.” Angguk thomas saat itu juga.


“Sama-sama, kalo begitu saya tinggal dulu ya pak.” Pamit sang perawat yang saat itu kembali dianggukkan oleh thomas.


Setelah perawat tersebut hilang dari pandangannya, thomas pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Ia sontak beberapa kali memotret keadaan anaknya untuk ia kirim ke istrinya yang berada diluar ruangan tersebut.


CEKREK*


*gambar telah terkirim*

__ADS_1


Setelah mengirim foto alice, thomas pun kembali menyimpan ponselnya kedalam saku celananya.


“Hmm, bagaimana caranya mengganti popoknya ya?! Aku mana tau soal mengurus bayi..” gumam thomas seraya menatap keadaan sang anak yang dimana kepala serta perutnya masih ada perban bekas operasi serta tubuh yang masih ada bekas bekas darahnya.


“Kalo aku meminta bantuan ibel, yang ada nanti semuanya tau kalo aku tidak pernah ikut campur mengurus alice.” Imbuhnya kembali saat dirinya ingin menghubungi sang istri untuk membantunya.


“Arghhhh! Masih bayi saja sudah banyak merepotkanku! Bagaimana jika sudah besar nanti, pasti lebih banyak lagi beban yang aku pikul. Sialannn..” Batin thomas dengan menatap sang anak penuh dengan kesal.


Disaat kebingungan seperti itu, suara panggilan masuk pun terdengar dari ponselnya.


TRING\~\~


“Syit! Ngapain Siska vidio call gue, udah gue bilang kalo gue gak ngabarin jangan pernah ngabarin gue duluan!!” Gerutu thomas saat melihat Siska lah yang menelfonnya.


Dengan sigap thomas pun langsung memutuskan panggilan tersebut.


“Permisi, pak. Bagaimana apakah sudah diganti popok Dedeknya?” Tegur salah satu perawat kepada thomas yang terlihat kebingungan sejak tadi.


“Hehe, belum sus. Sejujurnya saya gak tau caranya mengganti popok anak saya.” Ringis thomas seraya menggarukkan kepalanya.


“Oalah pak hehe, kenapa gak bilang sejak tadi. Apakah mau dipanggilkan ibunya saja?!” Usul sang perawat hingga membuat thomas pun sontak terbelalak.


“Eh enggak usah sus, ibunya kasian. Nanti malah nangis-nangis disini, katanya gak boleh berisik sus.” Elak thomas seketika.


“Eum, Iyah sih pak. Pasti ibunya hatinya lembut sekali ya pak sampe gak tega melihat anaknya sendiri seperti ini.” Ucap perawat tersebut.


“Kayaknya semua ibu didunia ini pasti akan sama seperti itu sus.” Sahut thomas dengan raut wajah datarnya.


“Iyah pak, saya gak tau soalnya saya belum punya anak. Hehe..Eum kalo begitu biarkan saya saja ya pak yang mengganti popok dedenya..” Sergah perawat tersebut kepada thomas.


“Ah, ide bagus itu sus. Boleh-boleh sus!” Sahut thomas dengan mengembangkan senyumannya.


*Hingga beberapa menit berlalu,


“Nah, sudah..” Seru sang perawat yang telah membersihkan tubuh dan juga mengganti popok Alice.


“Terimakasih ya sus..” ucap thomas kepada sang perawat.

__ADS_1


“Sama-sama pak, kalo begitu saya tinggal dulu ya. Bapak bisa tunggu dedeknya sampai sadar dulu.” Pamit sang perawat yang saat itu dianggukkan oleh thomas.


__ADS_2