TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC

TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC
Episode 94


__ADS_3

Sementara di dalam perjalanan, ibel terlihat beberapa kali mengusap air mata yang terus mengalir dipipinya.


“Sssshhh\~\~”


Marco yang melirik kearah kaca tengah itu pun ikut terenyuh hatinya, ia merasa iba terhadap apa yang telah ibel dapatkan.


“Hmmm.” Dengus marco seraya menghela nafasnya secara pelan.


“Marco..” Lirih ibel dengan tatapan kosongnya.


“Iyah bu..” Sahut marco yang menatap ke kaca tengah dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Aku ini sejelek apa?” Tanya ibel dengan raut wajah datarnya.


“M-maksud ibu?” Sahut marco dengan mengeryitkan keningnya.


“Iyah, tolong katakan yang sejujurnya. Aku ini sejelek apa? Kenapa suamiku sampai terus berselingkuh dibelakangku..” Tanya ibel kembali.


“Maaf bu, kalo boleh saya jujur. justru ibu ini sangatlah cantik.” Puji marco yang keceplosan.


“Kamu bohong marco, kalo saya cantik. Lalu kenapa thomas selalu mencari wanita lain dibelakangku.” Pekik ibel dengan raut wajah datarnya.


“Kalo itu menurut saya bukan salah ibu. Tapi karena pak thomas memang sudah mempunyai penyakit berselingkuh. Saya sebagai laki-laki, jelas tahu. Orang yang sudah mempunyai penyakit berselingkuh itu tidak akan sembuh begitu saja, selingkuh bagi mereka merupakan sebuah candu tersendiri bu.” Sahut marco dengan bijaksana.


“Lalu kalo sudah begini, aku harus bagaimana? Aku mempertahankannya demi Alice, tapi jika terus begini mana mungkin aku masih menjadikan alasan itu sebagai pertahananku lagi.” Ucap ibel dengan tatapan kosongnya kembali.


“Kalo boleh saya memberi saran, sebaiknya ibu ibel meminta petunjuk saja pada Tuhan. Karena sebaik-baiknya jalan adalah arahan dari Tuhan..” Sahut marco dengan suara khasnya.


“Kamu benar marco, aku memang harus lebih meminta dan berserah diri pada Tuhan..” lirih ibel seraya menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Perjalanan pun mulai hening, ibel memangku sang anak seraya menatap kaca jendela mobilnya dengan tatapan kosongnya. Sementara marco sendiri kembali fokus pada setirnya saat itu juga.


CIT!


Beberapa meter kemudian, tiba-tiba marco sengaja memberhentikan mobilnya didepan toko hingga membuat ibel pun mengeryitkan keningnya.


“Kenapa berhenti disini,marco? Apa kamu ingin membeli sesuatu?” Tanya ibel kepada marco.


“Iyah bu, saya izin sebentar ya bu.” Pamit marco yang saat itu dianggukkan oleh ibel.


“Hmm, baiklah.”


Setelah beberapa menit menunggu marco, pria itu pun akhirnya melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam mobil.


“Eum, bu. Ini saya belikan es krim untuk ibu. Kata orang es krim itu bisa membuat mood seseorang kembali happy. Makanya saya belikan ibu es krim” pekik marco seraya menyodorkan plastik yang ia bawa ditangannya.


Ibel pun mematung sejenak, ia tak menyangka masih ada seseorang yang perhatian kepadanya.


“Bu..” panggil marco kembali.

__ADS_1


“A-Ahiya marco, terimakasih banyak ya marco. Saya ambil es krimnya.” Sahut ibel yang tersadar dari lamunannya seraya meraih plastik yang diberikan oleh marco.


“Baik bu kalo begitu saya lanjut perjalanannya ya bu..” pekik marco yang saat itu dianggukkan oleh ibel.


“Iyah.” Singkat ibel dengan raut wajah yang sedikit canggung.


Bvroommm\~


Mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah kediaman ibel yang jaraknya sudah tak jauh lagi.


“Di makan bu es krimnya.” Ucap marco seraya menyetir mobilnya.


“Eum, Iyah. Nanti saja dirumah.” Jawab ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.


*Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun tiba di kediaman rumah ibel.


CIT!


Marco pun turun terlebih dulu untuk membukakan pintu mobil tengah yang diduduki oleh ibel dan juga putri kecilnya.


“Silahkan bu, pelan-pelan.” Ucap marco seraya membantu ibel dan juga sang anak untuk turun dari mobil tersebut.


“Makasih banyak ya marco, semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu padaku.” Pekik ibel dengan raut wajah sendu nya.


“Amin bu, kalo begitu saya pamit langsung pergi ya bu.” Pamit marco kepada ibel.


“E-tunggu bu..” Cela marco ketika ibel sudah melangkahkan kakinya.


Ibel pun membalikkan tubuhnya kembali, “Ada apa marco?” Tanya ibel dengan mengeryitkan keningnya.


“Bu, tolong jangan sampai berbuat hal yang nekat ya bu. Ingat masih ada Alice yang sangat membutuhkan ibu..” Pesan marco yang menundukkan kepalanya dihadapan ibel.


“Hmm.” Dengus ibel yang tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumahnya.


Marco pun mengerjapkan kedua matanya dan bergegas masuk kedalam mobilnya untuk segera pergi dari rumah tersebut.


Bvroommmmm\~


Sementara ibel melangkahkan kakinya masuk seraya menggendong Alice dengan tatapan kosongnya.


“Yaallah nonnn ibel, apa yang sudah terjadi dengan non ibel? Kenapa wajah non ibel penuh dengan luka seperti itu..” Seru Susi dengan mata yang terbelalak lebar.


Kali itu pertanyaan Susi pun tak mampu membuat ibel untuk menjawab, wanita itu lebih memilih terus melangkahkan kakinya dengan raut wajah piasnya menaiki tangga untuk menuju kamarnya.


“Yaallah non ibel kenapa itu Yaallah..” gerutu Susi dengan raut wajah paniknya.


Susi yang merasa panik itu pun langsung bergegas mengambil ponsel miliknya.


“Aku harus kabarin bu rina sekarang juga!” Gumam Susi yang saat itu mencoba menghubungi mama rina.

__ADS_1


TUT!!


Tak menunggu waktu yang lama, panggilannya pun sontak terhubung dengan mama rina.


“Halo..” Sapa mama rina diseberang sana.


“Ha-halo bu..” Jawab Susi dengan nada gemetar nya.


“Ada apa mbak? Kenapa suaramu seperti ketakutan seperti itu?” Tanya mama rina yang mulai merasa panik.


“A-anu bu rina, non ibel..” Ucap Susi dengan terbata-bata.


“Ada apa dengan ibel, mba Susi? Tolong bicara dengan jelas, jangan membuat saya panik seperti ini?” Tanya mama rina dengan suara yang menggebu-gebu.


“A-anu bu, non ibel baru saja pulang entah dari mana saya pun gak tau. Namun kondisi nya setelah pulang kerumah nampak berantakan sekali bu. Wajahnya penuh luka babak belur, saya cemas sekali bu. Tapi non ibel tidak mau bercerita sedikitpun dan langsung masuk kedalam kamar dengan tatapan kosongnya.” Ungkap Susi kepada mama rina.


“APA?!”


“Ada apa lagi dengan anak itu, lalu bagaimana dengan Alice? Apa kah dia nampak sama kondisinya dengan ibunya?” Tanya mama rina dengan mulut berkomat-kamit.


“Tidak bu, si neng geulis terlihat baik-baik saja.” Jawab Susi dengan lugas.


“Baiklah, kamu terus pantau kondisinya ya mbak. Jangan sampai lengah, karena saya takut ibel berbuat hal yang tidak-tidak. Tunggu saya sampai datang kesana!” Pesan mama rina pada Susi.


“Baik, bu rina. Saya mengerti.” Angguk Susi hingga mama rina pun sontak memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak.


PIP*


“Yaallah, non ibel. Ada apa lagi sih non sebenernya. Mbak Susi benar-benar cemas..” Gerutu Susi yang saat itu bergegas naik kelantai atas.


Sesampainya didepan kamar ibel, Susi pun berdiri dengan raut wajah yang sulit diartikan. Sesekali telinganya sengaja ia dekatkan ke pintu kamar ibel agar mendengar suara ibel didalam sana.


“Apa sebaiknya aku panggil saja non ibel ya?” Gumam Susi dengan kedua mata yang berputar keatas.


“No—arghhhh! Tidak sopan tau Susi! Siapa tau non ibel memang sedang tidak mau diganggu siapapun, aku yakin pasti beberapa menit lagi non ibel akan menceritakan semuanya..” gerutunya kembali.


“Tapi kalo aku tetap disini, aku takut jika didalam sana non ibel berbuat hal yang aneh-aneh seperti apa yang diucapkan bu rina tadi.” Pikir susi dengan raut wajah bingungnya.


Beberapa menit berkomat-kamit seorang diri, susi pun akhirnya memberanikan diri untuk memanggil ibel seraya membuka gagang pintu kamar ibel dengan perlahan.


“Assalamualaikum, nonnn ibelll….” Panggil susi dengan memegang gagang pintu kamar ibel.


“Mohon maaf Yaallah bukan susi gak sopan, tapi ini demi jaminan keselamatan seseorang.” Batinnya seketika.


CEKLEK*


“Nonnn..” Panggilnya kembali.


**

__ADS_1


__ADS_2