
Setibanya di Baby shop, mereka bertiga pun menikmati kebersamaan yang jarang kali terjadi selama ini.
“Alice butuh ini gak?” Tanya thomas kepada sang istri seraya menunjukkan barang yang ada di etalase toko bayi tersebut.
“Eum, butuh cuma gak yang terlalu kaya yang kebutuhan pokok gitu deh kayaknya.” Jawab ibel dengan memutarkan bola matanya keatas.
“Yaudah.” Singkat thomas yang langsung memasukkan barang tersebut ke ranjang belanjanya.
“Loh, kok dibeli?” Tanya ibel dengan raut wajah polosnya.
“Butuh kan? Kalo butuh, meskipun gak dipakai setiap hari pun harus punya..” Jawab thomas dengan santai.
“Hmm, yasudahlah.” Dehem ibel dengan raut wajah pasrahnya seraya mengikuti thomas yang berjalan lebih dulu bersama sang anak yang berada di stroller nya.
Waktu pun terus berputar, thomas membelanjakan barang-barang primer mau pun sekunder untuk sang putri hingga dua troli penuh sekaligus. Membuat ibel pun tak habis fikir dengan sikap suaminya tersebut.
“Thomas, apa ini gak berlebihan untuk Alice. Bahkan banyak barang di troli ini yang saat ini belum Alice butuhkan.” Protes ibel kepada sang suami.
“Tidak ada kata berlebihan untuk membelanjakan anak sendiri, lagi pula Alice ini anak dari Seorang ceo muda kaya raya. Percuma kan aku terpandang kaya sedangkan anakku tidak punya apa-apa. Jadi tenang saja, Hal ini samasekali tidak berlebihan bagiku.” Ucap thomas dengan sekilas melirik kearah sang istri.
“Hmm, Yasudah lah terserah kamu saja.” Dehem ibel kembali dengan raut wajah pasrahnya.
“Ayo kekasir, kita bayar semua ini..” Ajak thomas yang saat itu dianggukkan oleh ibel.
“Iyah.” Singkat ibel
Mereka pun melangkahkan kakinya beriringan menuju kasir.
“Alice suka kan? Sekarang sayang sama daddy gak? Daddy baik loh sudah belikan semua ini sama kamu, harusnya kamu makin sayang dong sama daddy..” Celoteh thomas kepada sang putri.
Ibel yang melihatnya pun sontak tersenyum tipis. Wanita itu sebenarnya sangat bahagia kala dirinya bisa menikmati kebersamaan tersebut, namun ia tetap teringat dengan sang suami yang telah berselingkuh dibelakangnya. Hal itu membuat ibel pun sontak kaku dan tak bisa menunjukkan senyuman lebarnya lagi.
“Nih bel, kamu pegang. Dan kamu yang bayar semua ini..” Pekik thomas seraya menyodorkan black card nya pada sang istri.
“Yaampun bahkan thomas sekarang sudah punya black card, lalu kenapa selama ini dia tega memberiku jatah uang bulanan yang tidak seberapa nilainya.” Batin ibel seraya menerima uluran black card tersebut.
Setibanya didepan kasir, ibel pun membayarkan semua belanjaan tersebut dengan black card yang ia pegang.
“Berapa mba, totalnya?” Tanya ibel kepada sang kasir.
“Totalnya jadi sepuluh juta dua ratus lima puluh ya bu. Mau bayar pakai cash atau debit?” Sahut sang pelayan kasir kepada ibel.
“HAH?” Ibel pun sontak tercengang mendengar nilai total yang harus ia bayarkan saat itu.
__ADS_1
“Kenapa melamun,bel? Bayar..” tegur thomas seketika.
“Ahiya mba, ini saya pakai kartu ini. Bisa kan ya?” Ucap ibel yang langsung tersadar dari lamunannya dan memberikan black card yang ia pegang kepada sang kasir.
“Sangat bisa bu..” Sahut sang kasir yang langsung menerbitkan senyuman ramahnya.
“Ah baiklah, kalo begitu.” Lirih ibel dengan menghela nafasnya secara pelan.
Setelah membayar belanjaannya, mereka berdua pun melangkahkan kakinya beriringan untuk kembali kedalam mobilnya yang berada tepat didepan Baby shop tersebut.
“Kesusahan gak bawa troli-trolinya? Biar aku saja sini yang membawa belanjaan itu, kamu dorong stroller Alice saja dan langsung masuk duluan saja kedalam mobil.” Pekik thomas kepada sang istri.
Ibel pun menganggukkan kepalanya secara pelan, tak mau banyak berbasa-basi ia pun langsung bergegas mendorong stroller sang anak dengan langkah cepatnya agar cepat sampai dimobil nya.
“Syukurlah kalo dia peka, ayo dek.” Gumam ibel seraya mendorong stroller sang anak.
Setibanya dimobil nya, ia pun menggendong alice lalu memasukkan stroller sang anak kedalam bagasi mobilnya.
Brughhhhh!
“Ehhhh, kenapa ditutup lagi sih bel bagasinya. Kan aku mau naro belanjaannya juga.” Teriak thomas dari kejauhan.
Ibel pun berpura-pura tak mendengarnya, ia memilih untuk langsung masuk kedalam mobil bersama sang putri.
Beberapa menit kemudian, thomas pun telah selesai memasukkan barang-barang belanjaannya kedalam bagasi mobilnya. Lalu ia pun masuk kedalam mobilnya.
“Huhhhh, capek juga yah. Lain kali kalo mau belanja seperti ini ajak saja mbak Susi atau mang ujang. Supaya ada yang bawakan barang belanjaannya.” Keluh thomas seraya mengusap kasar wajahnya.
Ibel pun sontak menahan tawanya, “kenapa harus mang ujang? Kenapa tidak pak Joko?” Tanya ibel dengan tidak menatap wajah sang suami.
“Mang ujang kan sopir pribadi keluargaku, cocok jika kuberi tugas seperti ini. Kalo pak Joko kan Security rumah, kalo kita pergi mengajaknya, lantas siapa yang mau menjaga rumah kita? Yang ada habis nanti kemalingan..” Jawab thomas pada argumennya.
“Ahaha iya juga yah, tumben sekali kamu pintar.” Tawa ibel seketika.
“Daridulu pun aku sudah pintar, cuma kamu saja yang tidak pernah menyadarinya.” Jawab thomas hingga membuat ibel pun sontak tertawa ringan.
“Ahaha terserah kamu sajalah.”
Thomas pun memakai seatbelt nya, kemudian ia pun menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang meninggalkan area tersebut.
Brvrooommmm\~\~
Didalam perjalanan tersebut, mereka pun bercanda tawa bersama. thomas selalu mencairkan suasana agar sang istri bisa tersenyum bahagia dan melupakan kesalahan yang telah thomas buat.
__ADS_1
CIT*
Tak terasa mereka pun tiba dirumahnya, mobil yang mereka kendarai itu pun berhenti tepat dilobi nya.
“Yuk turun..” Ajak thomas yang saat itu dianggukkan sang istri.
Keduanya pun turun dari mobil tersebut,
“Eittt! Ko kamu ikut masuk sih? Itu barang belanjaannya gak di bawain turun?!” Tegur ibel kepada sang suami yang saat itu ikut berjalan disampingnya.
“Ahhh, biar saja. Nanti suruh mbak Susi saja yang bawain masuk kerumah..” Ucap thomas yang malah merangkul sang istri masuk kedalam rumahnya.
Ibel pun hanya sekilas melirik sang suami dengan lirikan yang sulit diartikan.
“Ehhhh, si eneng geulisss sudah pulanggg yah. Aduhh mbak Susi jadi iri ngeliat orang tua neng Alice harmonis seperti itu..” Tegur sang pembantu seraya meledek ibel.
“Biasa aja kali mbak, Memangnya baru pertama kali liat kami harmonis seperti ini?!” Tanya thomas dengan tatapan mautnya.
“Eum, maaf tuan. Bukan seperti itu maksudnya.” Sahut sang pembantu dengan menundukkan kepalanya.
“Ah sudahlah! Kamu itu..” cela ibel seraya mengusap kasar mulut sang suami.
“Mbak Susi, tolong nanti barang belanjaan yang masih ada dibagasi mobil dimasukkan kedalam kamar nya Alice yang masih kosong yah.” Imbuh ibel yang beralih menatap sang pembantu.
“Siappp non!” Sahut sang pembantu dengan memberikan hormatnya kepada ibel.
“Yasudah kalo begitu kami mau keatas dulu ya mbak.” Pamit ibel yang saat itu dianggukkan oleh sang pembantu.
Thomas dan juga ibel pun melangkahkan kakinya bersamaan menaiki tangga rumahnya menuju kamarnya.
“Bel, Alice ditidurin gih..” Bisik thomas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Kenapa memangnya?!” Tanya ibel dengan raut wajah kakunya.
“Ekhem, memangnya kamu gak pengen yah? Sudah lama kan kita gak anuuu\~\~” Dehem thomas hingga membuat ibel pun bergidik ngeri saat mendengarnya.
“Dih apaan sih! Engga mau! Awas, jauh-jauh..” tolak ibel yang langsung berlarian masuk kedalam kamarnya.
Thomas yang melihatnya pun langsung mengejar sang istri dengan senyuman menyeringainya.
“Buat ibel senyum emang paling gampang.” Batin thomas saat itu juga.
**
__ADS_1