
Waktu teruslah berputar, Sang pembantu pun meninggalkan ibel didalam kamarnya bersama sang buah hati atas kemauan ibel sendiri yang ingin menenangkan hatinya saat itu.
Suasana nampak sunyi, hanya ada suara ac yang menyala. Sang anak yang sudah tertidur pulas pun menjadi pemandangan indah tersendiri untuk ibel saat itu.
Tak terasa airmatanya pun menetes hingga mengenai tubuh sang anak, hatinya benar-benar hancur, raganya pun seakan hilang entah kemana.
Setiap Cacian dan Makian yang telah dilontarkan oleh thomas, menjadi bayang-bayang yang selalu masuk kedalam memori ingatannya.
Wanita itu terus dihantui rasa takut dan trauma atas perlakuan kasar suaminya yang seperti monster untuk dirinya.
Ia kembali teringat, dimana dirinya pernah menyesali adanya Alice dikehidupannya. Jika tidak ada Alice, mungkin ibel tidak akan hidup bersama pria berhati iblis itu.
“Apa yang harus kusesali? Sementara nasi sudah menjadi bubur, anak yang kukandung di luar nikah ini sudah menjadi bayi yang teramat cantik. Maafkan Mommy ya nak jika Mommy masih sering berfikir untuk meninggalkanmu agar Mommy bisa terbebas dari aib yang telah Mommy perbuat ini. Mommy memang salah, seharusnya Mommy 100% menerima kehadiranmu. Meskipun harus menjadi bahan omongan seluruh dunia. Mommy pun masih bersikap egois kepadamu sayang, Mommy belum berani mengumumkan identitasmu kesemua teman-teman Mommy, maafkan Mommy ya nak. Kamu harus mempunyai keluarga yang toxic seperti kami, tapi Mommy janji sama kamu sayang. Apapun yang terjadi kamu tetap akan ikut bersama Mommy, tidak apa jika kamu harus kehilangan sosok daddy mu ya nak, Mommy janji akan jadi ibu sekaligus ayah untukmu.” Batin ibel seraya menatap wajah sang anak.
Hampir dua tahun sejak kehamilannya terungkap, ibel harus menelan pil pahit kala dirinya harus diasingkan bersama thomas, belum lagi setelah pernikahannya dengan thomas ia bahkan tak pernah muncul lagi disosial media karena takut jika kehamilannya terungkap keseluruh teman-temannya.
Faktanya hingga saat ini hanya sahabatnya sajalah yang baru mengetahui kejadian yang sebenarnya, hal itu membuat semua teman maupun tetangganya mempertanyakan keberadaannya saat ini.
Ibel pun masih belum mampu untuk mengungkapkan fakta bahwa dirinya sudah memiliki anak, gadis yang dulunya sangat terkenal dimana-mana itu pun saat ini seperti menghilang dari dunianya sendiri. Hal itu yang membuatnya terkadang menjadi murung dengan tatapan kosongnya.
*Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya disamping anaknya seraya menatap langit langit kamarnya dengan tatapan kosongnya.
“Tuhan, apakah aku masih bisa berharap mempunyai masa depan yang lebih cerah lagi dibanding saat ini? Apa aku masih pantas bahagia setelah dosa yang telah kuperbuat? Apa kah aku masih layak mendapatkan keadilan dari semua ini? Tuhan, aku tau rencanamu pasti lebih indah dari apa yang ku bayangkan. Aku mohon, berikan aku kekuatan untuk menjalani semua ini.. sekali lagi aku mohon kepadamu, maafkanlah semua dosa-dosaku. Berikanlah aku jalan untuk keluar dari masalah yang ada pada diriku ini..” batin ibel dengan mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Kala itu, tubuhnya penuh lebam bekas kekerasan rumah tangga yang telah thomas lakukan padanya. Ingin rasanya ia bercerita, mengadu dan mengeluh kepada mamanya, karena hanya ada mama rina lah satu-satunya orang tua yang ia miliki saat ini. Namun, ia tau resikonya jika ia memberitahukan hal itu kepada sang mama, mama rina pasti akan bertindak tegas dan mengamuk bak macan kepada thomas dan keluarganya. Hal itu yang membuat ibel memilih untuk diam dan tidak bercerita kepada siapapun.
Waktu pun menunjukkan pukul delapan malam, seperti malam-malam biasanya ibu muda itu harus menikmati kesunyian malam itu hanya bersama sang buah hati yang belum bisa melakukan apa-apa.
Disaat dirinya ingin mencoba memejamkan matanya, tiba-tiba saja ponselnya pun berdering hingga membuat ibel pun sontak membuka matanya kembali.
Ia merabah kasurnya untuk mencari keberadaan ponselnya yang ia letakkan sembarang arah disampingnya tidur.
“Mama, ada apa ya? Tumben Telfon jam segini..” Gumam ibel seraya menatap layar ponselnya.
Kemudian, Ia pun langsung mengangkat Telfon masuk dari mama rina.
“Halo, mah?!” Sapa ibel dalam sambungan telfonnya.
Ibel pun sontak terdiam sejenak,
“Darimana mama tau?!” Batin ibel seketika.
“Halo! Apa kamu dengar mama bicara apa? Kenapa diam saja ibel!” Pekik mama rina kembali hingga ibel pun sontak tersadar dari lamunannya.
“Eum, mama tenang yah. Mama kenapa bisa tau hal ini? Siapa yang telah memberitahu mama? Padahal aku belum bercerita kepada siapapun kecuali—“ Sahut ibel dengan memutarkan bola matanya keatas.
“Iyah! Benar, memang pembantu mu yang telah memberitahukan hal ini kepada mama! Tak usah kaget apalagi hingga memarahi pembantu mu itu, mama justru berterimakasih kepadanya karena telah menceritakan apa yang telah terjadi padamu! Ibel, kali ini mama benar-benar marah dan kecewa. Bayangkan saja, selama 21 tahun mama membesarkanmu tidak pernah sedikitpun mama melakukan kekerasan kepadamu. Tapi dengan mudahnya orang yang baru hidup bersamamu malah seenaknya memukul mu hingga babak belur seperti itu. Sungguh mama tidak terima kali ini!” Tutur mama rina dengan nada yang sudah tersulut emosi.
__ADS_1
“Mah, mama tenang dulu yah. Maafkan ibel yang tidak menceritakan hal ini kepada mama, ibel tau pasti mama akan marah jika mengetahuinya.” Cela ibel dengan nada lirihnya.
“Jelas mama marahlah! Orang tua mana yang tidak marah jika tau anaknya diperlakukan tidak enak dengan orang lain!” Protes mama rina seketika.
“Mah, thomas bukan orang lain. Dia ayah dari Alice, cucu mama sendiri.” Lirih ibel.
“Mama tau dia ayah dari cucu mama, tapi jika kelakuannya seperti iblis apa masih pantas dia disebut manusia? Dia bahkan tidak sedikitpun layak menjadi ayah dari cucu mama, mama tegaskan kepadamu ibel segera urus surat cerai kalian berdua. Mama tidak sudi memiliki mantu seperti itu, mama tidak rela jika anak mama tersiksa batinnya setiap hari. Lebih baik kamu pulang! kembali kerumah ini bersama mama, biarpun nanti semua tetangga akan tau fakta sebenarnya tentang kamu. Tapi mama tidak perduli!” Tegas mama rina diseberang sana.
“Ibel tidak mau merepotkan mama, ibel tidak mau menjadi beban mama, untuk kali ini biarkan lah ibel mencari solusinya sendiri mah, ibel pasti bisa keluar dari zona ini bersama dengan Alice. Mama tidak perlu khawatir lagi ya, secepatnya ibel akan bisa lepas dari genggaman thomas. Ibel sudah memikirkannya mah, percaya yah?!” Pekik ibel dengan nada sendu nya.
“Tidak semudah itu kamu bisa berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun bel, mama masih hidup. Masih bisa membantu kesusahanmu, jadi mama harap kamu bisa fikirkan lagi mau bagaimana kehidupanmu selanjutnya..” Sahut mama rina kepada sang anak.
“Iyah mah, Terimakasih ya mah. sudah selalu ada di garda terdepan untuk ibel. Ibel sangat menyayangi mama. Maafkan ibel yang sudah banyak mengecewakan mama. Untuk saat ini Ibel hanya menginginkan doa mama saja untuk ibel dan juga Alice.” Ungkap ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Kasih sayang ibu akan selalu sepanjang masa, kamu pun akan merasakannya sendiri. Sebesar apapun kekecewaan seorang ibu, akan tetap sayang kepada anaknya. Mama harap kamu bisa segera keluar dari pernikahan yang tidak sehat itu, masih banyak laki-laki yang baik diluaran sana yang lebih menghargai kamu. Mama tidak mau jika kamu harus mati konyol ditangan thomas.” Sahut mama rina dengan lugas.
“Iyah,mah.” Singkat ibel seketika.
“Yasudah, mama matikan dulu telfonnya yah? Oiya Alice tidak apa-apa kan? Maafkan mama tidak bisa datang kerumahmu secara langsung karena mama sibuk dengan pekerjaan mama.” Pamit mama rina kepada ibel.
“Iyah,mah. Alice tidak apa-apa kok mah, dia sudah tertidur sekarang. Mama sehat-sehat disana yah, kalo mau dimatikan telfonnya gak papa kok mah..” Sahut ibel yang disetujui oleh mama rina.
“Oh, syukurlah.” Lirih mama rina yang langsung memutuskan sambungan telfonnya.
__ADS_1
PIP*