TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC

TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC
Episode 81


__ADS_3

Waktu pun terus bergulir, setelah menitipkan sang anak kepada pembantunya, bersama dengan marco kini ibel pun bergegas menuju kerumah sakit dimana suaminya berada.


“Marco, bagaimana keadaan thomas? Apakah ada luka parah di tubuhnya? Aku sangat mencemaskannya..” Tanya ibel yang duduk di kursi tengah mobil yang dikendarai oleh marco.


“Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang, sebaiknya nanti ibu lihat sendiri keadaan bapak.” Sahut sang ajudan dengan raut wajah yang sulit diartikan.


“Sebentar! Bukankah tugasmu selalu menemani kemanapun thomas pergi? Lalu kenapa kamu baik-baik saja sedangkan suamiku mengalami kecelakaan? Aku tak mengerti dengan semua ini,marco.” Tanya ibel kembali yang masih dengan raut wajah paniknya.


“Bu, pak thomas pergi sendiri. Beliau menolak untuk saya temani, sudah beberapa bulan ini saya hanya ditugaskan untuk menemaninya saat dikantor saja, selebihnya saya tidak boleh ikut campur lagi urusannya diluar.” Ungkap marco dengan lugas.


Ibel pun sontak mengerutkan kedua alisnya, ibu muda itu sebenarnya sudah lama mempunyai firasat yang tidak baik yang dilakukan suaminya diluar rumahnya. Namun, ia hanya bisa menyimpannya didalam batinnya saja.


“Marco, sebenarnya ada hal yang ingin ku tanyakan sejak lama kepadamu. Tapi, aku takut kamu berpihak pada suamiku, karena kamu adalah ajudan pribadinya.” Ungkap ibel kepada marco yang saat itu duduk dikemudi mobil tersebut.


Marco pun terdiam sejenak,


“Pasti bu ibel mau menanyakan soal perselingkuhan thomas dengan perempuan itu.” Batin marco seketika.


“Silahkan bu, jika ada yang mau ditanyakan kepada saya. Inshaallah saya tidak akan dipihak manapun untuk kebenaran.” Jawab marco yang memiliki sifat jujur dan juga tegas.


“Apakah kamu tau selama ini thomas jarang sekali pulang kerumah?” Tanya ibel kepada marco.


“Saya tidak tahu bu, karena jika saya menawarkan diri untuk mengantar pak thomas pulang, beliau selalu menolaknya. Maka dari itu, tugas saya seperti dibatasi hanya untuk dikantor saja. Padahal pak Jacky sudah menugaskan saya untuk terus mengawal pak thomas kemanapun beliau pergi.” Jawab marco yang sekilas melirik ibel dari kaca tengah mobil yang ia kendarai.


“Yang saya tau, kamu adalah ajudan pribadi suami saya. Artinya peran kamu sangatlah dekat dengannya. Hubungan saya dan suami saya sangat jauh dari kata harmonis, semakin hari thomas semakin tidak memperdulikan aku dan juga anaknya, firasatku mengatakan dia memiliki wanita simpanan dibelakangku. Aku hanya ingin memastikan saja kepadamu,marco. Apakah kamu tau soal hal itu?” Tanya ibel dengan tatapan kosongnya.


Marco pun menghela nafasnya secara pelan, sebagai orang lain tentunya marco tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga bosnya tersebut, namun karena ia memiliki hati yang sangat tulus dan jujur, marco pun akhirnya menceritakan apa yang ia ketahui selama bekerja dikantor bersama thomas.


“Mohon maaf bu sebelumnya, seharusnya saya tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga ibu dan juga pak thomas, tetapi karena ibu sudah bertanya kepada saya, mau tidak mau saya akan menjawabnya dengan apa yang saya ketahui.” Pekik marco yang tetap fokus menyetir kendaraannya.

__ADS_1


“Jadi, sebenarnya saya sendiri pun awalnya tidak tahu apa-apa tentang pak thomas. Kami bekerja layaknya bos dan juga ajudan, mungkin ibu sendiri tau, jika hanya sayalah yang dekat dengan ibu sekeluarga. Hingga pada beberapa bulan yang lalu, pak thomas seperti membatasi ruang gerak saya dengannya. Meski awalnya saya keberatan, karena saya tidak menjalani apa yang di tugaskan oleh pak Jacky namun saya juga tidak bisa menolak karena itu kemauan pak thomas sendiri. Lalu baru saja beberapa hari yang lalu, saya sempat memergoki beliau sedang bermesraan dengan salah satu karyawan dikantor. Saya pun kaget, saya fikir karena hal itulah beliau selalu menolak untuk saya temani kemanapun.” Imbuh marco yang menjelaskan secara detail.


Ibel pun sontak terdiam, hatinya langsung seperti sedang teriris-iris oleh pisau yang sangat tajam. Ingin rasanya ia menjatuhkan air mata yang sudah mengembun didalam kelopak matanya, namun ia menahannya agar air mata itu tidak jatuh untuk laki-laki yang tidak pantas ia tangisi.


“Mohon maaf ibu, saya fikir ibu ibel juga sama-sama melakukan perselingkuhan dengan pria yang baru saja keluar dari rumah ibu tadi.” Ungkap marco seraya sedikit menundukkan kepalanya.


Ibel pun tersenyum dengan tipis,


“Marco, saya bukan tipe perempuan yang seperti itu. Meskipun saya disakiti sampai terjungkal-jungkal sekalipun, saya tidak akan membalas perbuatannya dengan cara saya melakukan hal yang sama dengannya. Tidak! Orang yang kamu kira selingkuhan saya itu adalah teman saya dan juga thomas ketika kuliah, dia kerumah karena ada hal penting yang dia sampaikan kepada saya.” Sahut ibel saat itu juga.


“Maaf ya bu, saya sempat berfikir buruk tentang ibu.” Ucap marco dengan raut wajah yang sulit diartikan.


“Tidak apa-apa marco, saya memakluminya. Oiya soal hal ini tolong kamu jangan sampai ceritakan kesiapapun yah, termasuk ke ayah mertua saya. Saya hanya takut beliau akan terkena serangan jantung jika mengetahui kelakuan thomas yang semakin brutal.” Sahut ibel yang saat itu dianggukkan oleh marco.


“Iyah,bu. Baik”


“Eum, marco? Apa saya boleh tau siapakah wanita yang selama ini menjadi selingkuhan thomas?” Tanya ibel dengan menggigit bibir bawahnya.


“Kamu punya kontaknya? Atau sosial medianya?” Tanya ibel dengan menggebu-gebu.


“Mohon maaf bu, saya tidak punya.” Jawab marco kembali.


“Yahh, sayang sekali. Lantas bagaimana aku bisa menemui perempuan itu jika aku tak punya kontaknya.” Gerutu ibel dengan memanyunkan bibirnya.


“Mungkin ibu akan menemuinya beberapa menit lagi.” Jawab marco hingga membuat ibel pun tercengang mendengarnya.


“J-jadi maksud mu? Perempuan itu ada bersama thomas saat ini?!” Tanya ibel yang langsung meremas jari jemarinya sendiri seraya menatap kedepan dengan tatapan kosongnya.


Marco pun hanya diam saja hingga beberapa menit berlalu, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit tempat thomas dilarikan.

__ADS_1


CIT*


“Mari, bu. Silahkan” ucap marco seraya membukakan pintu mobil tengahnya.


Ibel pun akhirnya turun dari mobil tersebut, ia perlahan melangkahkan kakinya mengikuti marco yang berjalan didepannya.


Hatinya kian semakin cemas kala dirinya sudah menginjakkan kakinya diarea rumah sakit tersebut.


Marco pun menghentikan langkahnya tepat didepan ruang operasi.


“Kenapa kamu berhenti disini,marco? Apa thomas ada didalam ruangan ini? Bukankah orang yang akan melakukan tindak operasi harus melalui persetujuan keluarganya dulu? Aku bahkan baru sampai disini,marco! Jelaskan kepadaku, apa kamu yang telah menyetujui tindak operasinya?” Tanya ibel kepada marco.


“Tenang dulu bu, bukan saya orangnya yang telah menyetujui operasi ini. Saya bahkan baru diberitahukan bahwa pak thomas akan dioperasi karena kecelakaan parah yang menimpa nya.” Jawab marco dengan mengerjapkan kedua matanya dihadapan ibel.


“Lalu siapa? Apakah ayah?” Tanya ibel kembali.


“Sepertinya pak Jacky belum mengetahui hal ini,buk. Karena saya belum memberitahukannya soal ini.” Sahut marco.


Ibel pun sontak berlari menuju ruang para perawat, ia pun menanyakan hal tersebut kepada salah satu perawat yang jaga saat itu.


“Suster, apakah pasien atas nama thomas Imanuella Roberto dirawat dirumah sakit ini?” Tanya ibel dengan perasaan yang tak menentu.


“Sebentar, apakah pasien yang baru saja mengalami kecelakaan itu bu?” Sahut sang perawat seraya menatap layar komputernya.


“Iyah, benar. Bagaimana kondisinya saat ini? Diruangan mana dia berada?” Tanya ibel menggebu-gebu.


“Maaf sebelumnya, ibu siapanya pasien yah?” Tanya sang perawat.


“Saya istrinya.” Jawab ibel dengan lantang.

__ADS_1


“Loh, bukankah istrinya itu orang yang bersamanya saat kecelakaan itu? Dia bahkan sudah menandatangani tindak operasi yang saat ini tengah dilakukan oleh pak thomas.” Jawab sang perawat dengan raut wajah bingungnya.


“APA?!” Lirih ibel yang saat itu hampir saja tumbang namun dengan sigapnya marco pun menangkap tubuhnya yang mungil itu.


__ADS_2