
Tring\~
Ibel pun sontak menengok panggilan masuk dalam ponselnya tersebut,
“Siapa nih, ada nomer baru yang nelfon.” Gumam ibel ketika melihat panggilan masuk pada layar ponselnya.
Klik.
“Ya, halo? Siapa yah?” Tanya ibel dalam sambungan telfonnya.
“Halo, apakah benar ini dengan orang tua pasien bayi Alice graciella Roberto?! Saya dokter rey, dari spesialis bedah saraf rs carelous. Ingin memberitahukan kepada keluarga atas nama bayi Alice agar segera menandatangani jadwal operasi Pasien.” Tutur sang dokter dalam sambungan Telfon tersebut.
“Oh, maaf. Iya dok, saya ibu dari pasien bayi Alice graciella Roberto. Secepatnya saya akan menandatangani surat persetujuan jadwal operasi anak saya dok.” Sahut ibel dengan mata berbinar-binar.
“Baiklah, kalo begitu. Terimakasih banyak atas waktunya ibu, saya tutup dulu telfonnya ya.” Pamit sang dokter kepada Alice.
“Iyah, dok.” Singkat ibel yang langsung diputuskan oleh sang dokter sambungan telfonnya tersebut.
PIP*
“Syukurlah, akhirnya jadwal operasi Alice sudah keluar juga. Tinggal menandatanganinya saja lalu Alice bisa segera dioperasi.” Gumam ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan seraya menatapi wajah sang anak dalam gendongannya saat itu juga.
“Sini non, biar Alice nya sama mbak Susi aja..” Usul sang pembantu kepada ibel.
“Iyah, mbak.” Singkat ibel seraya memberikan tubuh mungil anaknya kepada pembantunya tersebut.
“Mbak Susi, sebentar lagi akan ada tamu yang datang.” Pekik ibel kepada pembantunya.
“Wahh, siapa tuh non tamunya?!” Tanya mbak Susi seraya menimang Alice penuh kelembutan.
“Mamah saya mbak.. hehe” Jawab ibel yang menyengir bak kuda.
Sebelumnya mama rina sudah lebih dulu memberitahukan ibel bahwa dirinya akan datang hari itu untuk menengok cucu pertama kesayangannya. Hal itu membuat ibel pun sontak bahagia mendengar kabar baik tersebut dan merasa tidak sabar menunggu kedatangan sang ibunda.
“Wahhhh, grandma nya Alice mau datang yaaa.” Celoteh mbak Susi kepada Alice saat itu juga.
“Iyah,mbak. Aku yang senang, karena mama hanya bisa datang kesini jika punya waktu luang saja. Terlebih jarak rumah kami berjauhan seperti ini..” Ungkap ibel kepada mbak Susi.
“Saya faham dengan apa yang dirasakan non ibel, karena saya juga hidup sendiri dan jauh dari anak-anak saya. Ya yang pasti kalo ingin berkumpul bersama itu rasanya senang sekali. Sama kaya non ibel..” Sahut mbak Susi kepada majikannya.
“Iyah, mbak.” Singkat ibel seraya menganggukkan kepalanya secara pelan.
“Tuan thomas, tidak berangkat bekerja ya non? Mbak Susi belum melihat tuan turun kebawah dari pagi..” Tanya mbak Susi kepada ibel
“Iyah, mbak. Tuan thomas memang tidak bekerja hari ini, dia masih drop seperti malam tadi. Kemungkinan karena kelelahan bekerja..” Sahut ibel saat itu juga.
“Yaallah, kasihan sekali tuan thomas. Kalo begitu biar mbak Susi buatkan bubur dan minuman jahe ya non? Supaya tubuh tuan thomas agak enakan.” Sergah mbak Susi dengan sigap.
__ADS_1
“Boleh, mbak. Yasudah sini Alice biar sama saya lagi.” Sahut ibel yang saat itu mengambil sang anak kembali dari gendongan sang pembantu.
“Non ibel kenapa gak bilang dari pagi kalo tuan thomas sakit, mbak Susi kan gak tau kalo tuan thomas masih sakit seperti semalam, kalo non ibel bilang kan mbak Susi sudah buatkan dari pagi tadi Non..” Tutur sang pembantu kepada majikannya tersebut.
“Gak papa mbak, ibel juga lupa bilang sama mbak Susi. Tapi tadi pagi sudah ibel buatkan sandwich dan juga susu kok..” Sahut ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Oalah, syukurlah kalo tuan sudah sarapan. Mbak Susi jadi gak enak sama non ibel dan juga tuan thomas. Sekali lagi mbak Susi minta maaf ya non, kalo begitu mbak Susi mau ke dapur dulu buatkan bubur dan juga jahenya. Permisi..” Pamit mbak Susi saat itu juga.
Setelah sang pembantu hilang dari pandangannya, suara bel rumah tersebut pun terdengar begitu jelas.
TING TONG\~\~
“Arghh, itu pasti grandmaa dekkk. Ayo kita bukakan pintunya!” Celoteh ibel seraya menggendong sang anak.
Ibel pun melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya seraya menggendong sang anak.
CEKLEKK*
“Taraaaaaa! Grandmaaa datanggg, apa kabar cucu kesayangan grandma yang paling cantik? Ucukucuk sini gendong grandma yukkk..” Seru mama rina dengan begitu hebohnya.
“Mah, ayok masuk dulu. Cuci tangannya dulu baru gendong Alice..” Ujar ibel seraya mencium tangan sang ibu.
“Hmm, Yasudah deh mama nurut. Sebentar ya sayang grandma cuci tangan dulu baru gendong kamu..” Dehem mama rina kepada ibel lalu beralih menatap sang cucu dengan tatapan penuh kebahagiaan.
*Waktu pun terus berputar, kini mama rina tengah bermain bersama cucunya diruangan bermain yang berada dilantai bawah rumah tersebut.
“Terimakasih mbak Susi.” Sahut mama rina yang menyunggingkan senyumannya.
“Sama-sama nyonya.”
“Oiya, non ibel itu bubur dan juga minuman jahe nya sudah jadi. Mau diantarkan mbak Susi keatas atau mau dibawa non ibel saja?!” Ucap mbak Susi yang beralih menatap ibel.
“Eum, biar nanti ibel saja mbak yang membawanya keatas.” Sahut ibel yang saat itu dianggukkan oleh sang pembantu.
“Loh, bubur dan juga minuman jahenya untuk siapa? Apa kamu sedang sakit, nak?!” Tanya mama rina seketika.
“Enggak kok mah, bukan ibel yang sakit. Tapi thomas..” Sahut ibel saat itu juga.
“Thomas? Sakit? Tumben sekali manusia besi itu sakit, Eum- brarti thomas sekarang ada dirumah?! Kenapa kamu tidak memberitahu mama, bel?” Tanya mama rina dengan menggebu-gebu.
“Untuk apa mah? Memangnya mama ini dokter yang bisa menyembuhkan orang sakit.” Sahut ibel kepada mama rina.
“Ya bukan begitu juga, bel. Setidaknya kalo tadi mama tahu thomas ada dirumah dan sakit, mama pasti bawakan makanan atau buah atau apa gitu untuknya..” Ungkap mama rina kepada sang anak.
“Hmm, gak perlu mah. Gak akan dimakan juga sama thomas, memangnya mama ingin melihat kondisinya sekarang?!” Tanya ibel kepada mama rina.
“Boleh, yuk.” Singkat mama rina seraya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Sebentar, biar aku ambil bubur dan juga minuman jahenya dulu mah.” Cela ibel yang saat itu dianggukkan oleh mama rina.
*Beberapa menit kemudian, ibel telah melangkahkan kakinya seraya membawa nampan berisikan bubur dan juga jahe yang saat itu disusul oleh mama rina yang menggendong Alice tepat dibelakang ibel.
CEKLEKKKK*
Ibel pun membuka gagang pintu kamarnya dengan perlahan,
“Ayo mah, sepertinya thomas sedang tidur.” Ajak ibel yang menoleh kearah mama rina dibelakangnya.
Ibel pun meletakkan nampan yang ia bawa tepat diatas nakas lemarinya. Lalu gadis itu melangkahkan kakinya menghampiri tubuh sang suami yang masih tertidur. Hampir setengah hari setelah mereka berdebat pagi tadi, ibel meninggalkannya sendirian dikamar tersebut.
“Apa kamu sudah membawanya periksa, bel?!” Tanya mama rina yang menatap wajah thomas yang terlihat pucat.
“Belum, mah.” Sahut ibel seraya menggelengkan kepalanya.
“Astaga, mah! Badannya tambah panas sekali, pantas saja gak bersuara sedikit pun, padahal biasanya dia cerewet kalo ibel dan Alice dibawah pasti dia selalu teriak teriak..” Ungkap ibel yang saat itu memegang kening suaminya tersebut.
“Haduh bel, lagian kamu kenapa malah dibawah sih! Sudah tau suamimu sakit, harusnya kamu temanin suamimu dikamar! Lekas hubungi dokter pribadinya. Kalo sudah demam tinggi seperti ini jangan dibiarkan begitu saja!” Omel mama rina kepada ibel.
“Maafin aku ya sayang, kalo kamu sakit seperti ini. Aku pun jadi iba kepadamu, meskipun aku dibuat kesal terus sama kamu..” Celoteh ibel seraya memeluk tubuh sang suami.
Ibel pun bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi dokter pribadi suaminya tersebut.
“Thom, ini mama..” lirih mama rina didekat tubuh thomas.
“Mah, sejak kapan mama datang kesini?” Sahut thomas yang perlahan membuka kedua matanya.
“Baru beberapa menit yang lalu kok, kamu kenapa bisa sakit seperti ini thom? Apa kah ayah dan juga ibumu sudah tau jika kamu sedang sakit?!” Tanya mama rina kepada sang menantu.
“Belum mah.” Singkat thomas dengan raut wajah pucatnya.
Ibel pun kembali menghampiri keduanya setelah selesai menghubungi dokter pribadinya.
“Mah, sudah. Jangan ditanya terus thomasnya! Kalo orang sedang sakit pasti malas untuk mengeluarkan suaranya mah..” Cela ibel saat itu juga.
“Hmm, iya-iya deh.” Dehem mama rina dengan pasrah.
“Gimana dokternya bel?!” Tanya mama rina kepada ibel.
“Baru bisa datang kesini sore ini mah, kemungkinan pukul 4 sore hari ini. dokternya sedang dinas dirumah sakit..” Jawab ibel yang saat itu dianggukkan oleh mama rina.
“Yasudah gak papa, yang penting nanti dokternya datang.” Ujar mama rina.
“Sayang, makan bubur yuk. Aku suapin mau?” Ucap ibel dengan lembutnya kepada sang suami.
“Enggak, aku tidak ingin makan apapun, bel. Mulutku terasa pahit.” Tolak thomas dengan raut wajah pucatnya.
__ADS_1
“Harus dipaksa meskipun sedikit yang penting perutmu keisi, yaaa?!” Pekik ibel kembali hingga membuat thomas pun lagi-lagi pasrah menuruti kemauannya.