
Malampun tiba, kini keduanya tengah bersiap siap pergi ke dokter kandungan untuk mengecek perkembangan sang buah hati didalam perutnya tersebut.
“Udah siap belum, bel?!” Tanya thomas yang sedari tadi menunggu ibel berdandan.
“Sebentar lagi thom, 5 menit.” Sahut ibel dengan terburu buru.
“Telat nanti kita bel, kamu lama banget..” Ucap thomas dengan raut wajah kesalnya.
“Iyah-Iyah ini udah akuuu sayang..” Sergah ibel yang bangkit dari meja riasnya.
“Ayok! Lets go..” Ajak ibel pada thomas saat itu juga.
“Hmm.” Dengus thomas seraya menghembuskan nafasnya kasar.
Merekapun melangkahkan kakinya beriringan menuju mobil yang sudah terparkir dihalaman rumahnya tersebut.
“Apa ayah dan mamamu akan ikut, thom?” Tanya ibel pada thomas.
“Tidak bel, mereka ada urusan sendiri. Jadi ayah menyuruhku agar kita berangkat chek up sendiri kerumah sakit. Gapapa kan?!” Sahut thomas dengan menaikkan satu alisnya.
“Gak papa dong sayang, memang seharusnya kita pergi sendiri. Ini kan anak kita bukan anak orang tuamu Ck” Celoteh ibel dengan tawa ringannya.
“Hmm, yasudah kamu masuk dulu kedalam mobil.” Perintah thomas yang mentitah tubuh ibel untuk memasuki mobilnya saat itu.
“Iyah.” Angguk ibel yang kemudian masuk kedalam mobilnya.
Thomaspun bergegas menyalakan mesin mobilnya, dan melajukan kendaraaannya dengan kecepatan sedang meninggalkan pekarangan rumahnya.
Bvroommmmmm\~\~
“Aku deg-degan banget deh thom, mau liat bayi kita..” Ucap ibel didalam perjalanan tersebut seraya mengelus lembut perutnya.
Thomaspun hanya menyunggingkan senyuman tipisnya membuat Ibelpun menghembuskan nafasnya secara pelan.
“Kamu gak ada rasa excited atau apa gitu,thom? Ini pertama kalinya kita chek up bayi yang ada di perutku loh..” Tanya ibel dengan raut wajah dinginnya.
“Iya, akupun senang..” Sahut thomas dengan raut wajah datarnya seraya menyunggingkan senyuman tipisnya.
“Udah gitu doang ya?!” Tanya ibel kembali dengan memalingkan wajahnya kearah kaca mobil tersebut.
“Kamu tuh kenapa si! Udah mulai aneh tau gak, udah mulai gak asik, apa-apa dikit marah, curiga,cemburu! Pusing aku lama-lama ngadepin kamu..” Gertak thomas yang mulai mengeraskan rahangnya.
“Harusnya kamu fikir dong, kenapa aku jadi sesensitif ini. Lagipula yang aku tau ibu hamil memang seperti ini, jadi harusnya kamu lebih banyak bersabar dan jangan pernah memancing emosiku..” Sahut ibel dengan mendongakkan kepalanya.
“Terserah lah, apapun alasannya. Aku pusing” Lirih thomas yang fokus menatap kedepan.
__ADS_1
“Bukannya ngasih perhatian lebih, ini malah gak mau terima dengan kondisi moodswing gue yang lagi hamil gini. Dasar!” Batinnya dengan raut wajah kesalnya.
Cittttt.
*Setelah menempuh beberapa kilometer perjalanan, kini merekapun tiba dirumah sakit yang dituju.
Keduanya pun turun dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya beriringan menuju Poli kandungan, tempat dimana ibel akan diperiksa.
Saat itu, Thomas melangkahkan kakinya dengan cepat hingga membuat Ibelpun tertinggal dibelakangnya.
“Dasar manusia tidak punya nalar fikiran! Gandeng kek istrinya yang lagi hamil.. ini malah jalan duluan! Ngeselin banget sih..” Batin ibel yang menatap thomas dari belakang.
*Saat telah memasuki rumah sakit tersebut, keduanya pun mendudukkan dirinya masing masing diruang tunggu Poli kandungan.
“Neng, suaminya mana?!” Tegur salah satu perempuan paruh baya yang sedang hamil juga.
“Eum, itu buk suami saya yang pake kemeja warna navy..” tunjuk ibel dengan polosnya.
“Loh, kok duduknya jauh jauhan sih?!” Tanya wanita itu kembali dengan raut wajah herannya.
“Ahaha, Iyah bu. Soalnya kalo duduk bareng suka gak denger kalo ada panggilan.. hehe makanya lebih baik jauhan biar pas nama saya dipanggil suster, kita berdua fokus.” Jawab ibel dengan menggarukkan kepalanya yang tak gatal.
“Oh iya-iya saya faham, hehe memang begitu kalo pasangan baru mba, kalo udah berduaan suka budeg tiba-tiba ya hehe.. saya juga gitu dulu sama suami saya.” Ucap perempuan tersebut dengan tertawa kepada ibel.
“Pasien Atas nama, ibu Alisha ibel?!” Panggil sang suster hingga membuat Ibelpun sontak bergegas masuk kedalam Poli ruangan tersebut meninggalkan wanita paruh baya tersebut.
“Iyah neng..” angguk perempuan tersebut dengan wajah bahagianya.
“Pasangan muda jaman sekarang ternyata kaya kita juga ya pak, hehe..” celoteh perempuan paruh baya itu kepada suaminya.
Sementara thomas dan juga ibel sudah berada didalam ruangan, mereka duduk tepat dihadapan sang dokter saat itu..
“Jadi usia kandungannya saat ini sudah berapa bulan bu?” Tanya sang dokter kepada ibel.
“Eum, sudah enam bulan lebih sedikit dok..” Sahut ibel dengan raut wajah polosnya.
“Baik, apakah sudah pernah kontrol sebelumnya? Dan apakah sudah punya buku pink khusus ibu hamil?!” Tanya sang dokter kembali
Ibelpun menggelengkan kepalanya dengan pelan, “Saya baru pertama kalinya kontrol kehamilan saya dok..” Lirih ibel dengan menundukkan kepalanya.
“Oh begitu, baiklah saya faham. Saya akan buatkan buku pink ya untuk ibu, tapi sebelum itu saya perlu periksa ibu dulu ya..” Sergah sang dokter dengan begitu ramahnya.
“Iyah,dok. Baik” sahut ibel dengan menganggukkan kepalanya.
“Mari ibu ibel rebahan disini..” perintah suster yang ada didalam ruangan tersebut.
__ADS_1
“Pak Suaminya juga gak papa sini temenin istrinya..” imbuhnya kembali yang beralih menatap thomas
Mereka berduapun akhirnya melangkahkan kakinya bersamaan menuju ketempat tidur sesuai perintah sang suster dan dokter diruangan tersebut.
“Permisi, saya mulai periksa ya bu..” Izin sang dokter dengan begitu ramahnya.
“Iyah dok.” Angguk ibel dengan polosnya.
“Jenis kelaminnya mau dikasih tau gak ini?!” Tanya sang dokter saat itu juga.
“Boleh dok, perempuan atau lakilaki ya?!” Sahut ibel dengan begitu antusiasnya.
“Ini jenis kelaminnya perempuan ya bapak/ibu.. selamat yaaa!” Jawab sang dokter dengan mengembangkan senyuman manis di wajahnya.
“Serius dok? Jadi saya punya anak perempuan?!” Ucap thomas yang mulai menerbitkan senyumannya.
“Betul sekali bapak thomas, bapak akan punya anak perempuan..” sahut sang dokter kembali.
“Serius gak itu dok? Takutnya kaya saya dulu waktu di kandungan mama pas diusg kata dokternya perempuan, tapi yang keluar malah saya. Gimana ceritanya itu dok Ck” Kelakar thomas hingga membuat semua orang diruangan tersebut pun tertawa renyahnya.
“Inshaallah ini bayinya perempuan ko pak, gak ada tititnya soalnya, tuh ya bisa kalian lihat sendiri dilayar..” sergah sang dokter yang saat itu thomas dan juga Ibelpun begitu memperhatikan setiap detail sang bayi didalam layar usg tersebut.
*Setelah selesai diperiksa, keduanya pun diberikan vitamin penguat kandungannya oleh sang dokter.
“Diminum secara rutin ya bu ibel, biar tambah kuat janinnya. Dan yang pasti supaya sehat! Oiya satu lagi jangan lupa konsumsi susu hamilnya juga ya..” perintah sang dokter kepada ibel.
“Baik, bu dokter. Kalo gitu saya pamit pulang dulu ya, sebelumnya terimakasih banyak bu dok.” Sahut ibel seraya berpamitan kepada sang dokter.
“Terimakasih banyak ya dok..” Timpal thomas.
“Sama-sama, sehat sehat ibu dan calon bayinya ya..” pesan sang dokter kepada keduanya.
Merekapun keluar dari ruangan tersebut, dan melangkahkan kakinya beriringan untuk pulang kerumahnya.
“Mau langsung pulang atau mau mampir makan dulu?!” Tanya thomas kepada ibel.
“Terserah kamu aja deh, aku ikut aja..” Sahut ibel dengan menyunggingkan senyuman manisnya.
“Yaudah, makan dulu aja ya. Kamu kan belum makan makan juga..” Ucap thomas yang saat itu dianggukkan oleh ibel.
Bvrommmmmmm\~\~
Mobil yang mereka kendarai itupun akhirnya melaju meninggalkan rumah sakit tersebut.
“Yesss! Punya anak cewe..” seru thomas didalam perjalanannya tersebut.
__ADS_1
***