
Dua bulan kemudian\~
Setelah kembali menjalani aktivitasnya seperti biasanya, bisnis online yang ibel geluti itupun semakin berkembang. Ia pun sudah memiliki beberapa karyawan yang membantu nya. hari itu, ia juga secara diam-diam membeli rumah hasil jerih payahnya.
“Terimakasih banyak ya bu..” Ucap sang developer rumah seraya berjabat tangan dengan ibel.
“Saya yang berterimakasih, pak.” Sahut ibel yang dengan senyuman ramahnya.
Setelah sah memiliki rumah tersebut, ibel pun sengaja tidak memberitahukan suaminya tentang hal tersebut. Wanita itu lantas kembali pergi menuju toko bakery nya yang tak jauh dari area sekitar rumah yang ia beli. Dalam dua bulan terakhir, ibel telah membuka toko bakery hasil dari uang tabungannya selama berjualan online. Sang suami, thomas juga sedikit membantu memberikan modal untuk ibel saat itu.
“Puji Tuhan, terimakasih atas rejeki yang telah engkau berikan padaku ya Tuhan. Aku tidak menyangka bisa membeli rumah dari hasil usahaku sendiri. Ya meskipun tidak semegah rumah thomas tetapi rumah ini bisa menjadi investasi masa tuaku nanti..” Gerutu ibel dengan mata yang berbinar-binar.
“Waktu terasa sangat cepat, tidak terasa aku telah melalui masa masa sulit dihidupku dua tahun terakhir ini. rasanya baru kemarin aku mendapatkan masalah besar yang sulit aku pecahkan seorang diri. Tapi nyatanya, waktu adalah jawabannya. Semua ini terbayar dengan keberhasilanku dalam berbisnis. rasanya senang sekali bisa mendapatkan penghasilan sendiri tanpa ketergantungan suami lagi. Semua ini seperti mimpi, anakku yang dulu aku cemaskan tidak bisa normal seperti yang lainnya pun nyatanya sekarang sudah tumbuh pintar, sudah banyak kata yang bisa ia ucapkan. Dan sudah bisa berjalan meskipun belum lancar. Terimakasih Tuhan, aku pun yakin jika suamiku sudah berubah perlahan. Aku tidak menjumpainya lagi berselingkuh dengan siapapun.” Imbuhnya seraya mengerjapkan kedua matanya.
Raut wajah bahagia terpancar dari ibu muda satu anak itu, tak henti-hentinya ia bersyukur kepada tuhan dalam waktu tersebut.
*Beberapa puluh menit berlalu, ibel telah sampai ditoko bakery nya.
“Siangg, semuanya.. all Its good? Sorry ya saya datangnya kesiangan, soalnya tadi ada perlu dulu. Gimana apa ada kendala hari ini?” Seru ibel kepada seluruh karyawan tokonya.
“Siang bu ibel, semuanya baik-baik saja kok bu. Aman! Toko juga semakin ramai..” Sahut raras saat itu juga.
ibel datang ketokonya tepat di jam istirahat makan siang. Ia memang memberikan peraturan agar karyawannya selalu menutup tokonya di waktu tersebut, ia sengaja memberikan waktu istirahat, makan siang dan juga sholat bagi karyawannya yang beragama muslim. Wanita itu sangatlah humble kepada seluruh karyawannya, meskipun usianya hampir sama dengan seluruh karyawannya namun hal tersebut tak membuat ibel insecure karena hanya dirinya lah yang sudah memiliki anak. Justru, seluruh karyawannya banyak yang memuji ibel karena kesuksesannya diwaktu muda ini.
“Buu, makan buuu..” Teriak Toni, salah satu karyawannya juga.
“Iyah.. Iyah silahkan makan. Yang banyak ya supaya makin semangat kerjanya hehe..” sahut ibel dengan tawa kecilnya
“Siappp bukkk!” Teriak Toni kembali dengan melebarkan senyuman dipipinya.
Ibel pun melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. “Saya ke ruang kerja saya dulu ya.” Ucapnya yang saat itu dianggukkan oleh beberapa karyawannya.
Brughhh!!
Ibel pun mendudukkan dirinya di kursi kerjanya dan memulai mengerjakan pekerjaannya sebagai owner toko tersebut.
“God bless! Pemasukan sebanyak ini, sangat diluar dugaan ku. Terimakasih ya Tuhan..” ucapnya seraya menatap layar leptopnya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, ibel pun menghela nafasnya secara legah karena telah selesai mengerjakan tugasnya.
“Huhhh, akhirnya.”
“Kok tiba-tiba kangen sama anak wedok ya ckck, lagi ngapain Alice ya? Arghhh Telfon mba Susi aja deh..” gumamnya seraya tersenyum manis.
Ibel pun bergegas meraih ponselnya yang ada dihadapannya, ia langsung menghubungi sang pembantu saat itu juga.
TUT!!
TUT!!
Tak lama kemudian, sang pembantu pun terhubung dalam sambungan telfonnya tersebut.
“Haloo..” Sapa ibel dalam sambungan telfonnya.
“Halo, nonn ibel?!” Sahut Susi diseberang sana.
“Mbaa, Alice gimana hari ini? Apa dia rewel? Ibel kangen hehe..” Tanya ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Alice anteng kok non, ini seharian lagi mainan sama mba Susi diruang belajarnya..” Jawab Susi kepada ibel.
“Boleh non.. boleh”
Ibel pun merubah panggilan biasanya menjadi vidio calling.
“Halooo! Woahhhh anak Mommy lagi ngapain itu sayangg..” Seru ibel ketika melihat sang buah hati dilayar ponselnya.
“Mommyyyyyy….” Panggil Alice diseberang sana.
“Iyah sayang, kenapa? Mommy lagi kerja dulu ya, Alice mau minta apa? Sebentar lagi Mommy pulang kerumah ya nak. Alice jangan rewel dirumah sama mba Susi yah..” Sahut ibel dengan penuh semangat.
“Mommy aiskrimmmmm\~\~” celoteh Alice yang semakin lucu dihadapan layar ponselnya.
“Oh iya nak, es krim. Alice mau es krim ya? Nanti Mommy bawakan yang besar ya es krimnya untuk Alice..” Sahut ibel kepada sang anak.
“Alice udah makan belum itu?” Tanya ibel kembali.
__ADS_1
“Sudaaah..” jawab Alice yang kembali fokus bermain.
“Wah pinter anak Mommy, Yaudah deh kalo begitu Mommy matikan dulu telfonnya yah. Satu jam lagi Mommy pulang kerumah ya sayang ya..” pamit ibel saat itu juga.
“Hati-hati ya non pulangnya..” pesan sang pembantu yang saat itu dianggukkan oleh ibel.
“Yaudah mbak, kalo gitu ibel tutup ya telfonnya.” Pamit ibel kembali kepada sang pembantu.
“Iyah non.”
PIP!!
Setelah merasa legah melihat sang anak yang anteng dirumahnya, ibel pun menghela nafasnya secara pelan.
“Hmm, pinter memang Alice.” Dehem ibel saat itu juga.
“Leptop nganggur, kerjaan udah selesai, ngontrol anak dirumah juga udah, sekarang mau ngapain lagi ya? Eumm..” gerutu ibel yang menatap layar leptopnya dengan seriusnya.
Ia pun kembali berinisiatif untuk membuka sadap an ponsel sang suami dileptop miliknya. Sudah beberapa bulan lamanya ibel tidak pernah lagi mengontrol isi ponsel sang suami karena perlakuan thomas yang tidak membuatnya curiga sama sekali.
“Masih nyangkut gak ya isi sadap an thomas disini..” gumamnya seraya mengotak Atik leptop miliknya.
“Arghhh! Ternyata masih nyangkut..” imbuhnya kembali.
Ibel pun membuka dan membaca satu persatu pesan yang masuk,
Deghhhh!!
Ibel pun kembali terdiam dan terbelalak ketika menemukan pesan yang menurutnya mencurigakan.
“Pak feli client CH?”
“Siapa ini? Kenapa chat antar keduanya seperti ada yang menjanggal? Apa mungkin thomas punya hubungan dengan pak feli ini? Loh, brarti thomas homo dong? Apaan sih! Gak beres deh.. gue catet ajadeh nomornya diponsel gue!” Gerutunya dengam raut wajah mencurigainya.
Setelah selesai mencatat nomor tersebut, ibel pun berniat untuk mencari tahu siapa orang dibalik kontak yang bernama pak feli tersebut. Tak lupa ia meminta bantuan marco untuk terus memantau sang suami dikantornya.
“Pada dasarnya thomas ini punya penyakit selingkuh, hal itu tidak akan sembuh begitu saja. Jadi mari kita pantau terus dan lihat apa yang suamiku lakukan lagi dibelakangku..” batin ibel dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
**