
Beberapa hari kemudian,
“Bel, ini ada titipan dari ayah dan mamaku untuk kamu..” Ucap thomas seraya memberikan satu paperbag untuk sang istri.
“Apa ini, thom?!” Tanya ibel seraya mengambil paperbag tersebut.
“Ya buka saja..” Singkat thomas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Ibelpun membuka paperbag yang sudah berada ditangannya, matanya terbelalak ketika melihat beberapa pakaian baru yang ada didalam paperbag tersebut.
“Apa ini thom? Kenapa mama dan ayah belikan aku baju baju baru ini? Aku tidak memintanya loh padahal..” Sergah ibel dengan menganggkat beberapa baju tersebut.
“Perutmu kan sudah semakin membesar, jadi ayah dan mamaku sengaja belikan kamu baju baju oversize itu supaya ketika kita keluar dan bertemu teman lama kita atau bahkan teman teman ayah, kehamilanmu itu tidak akan ada yang tahu karena tertutup oleh baju yang oversize itu..” Jelas thomas kepada ibel.
“Hmm, gitu yah.” Singkat ibel dengan menghembuskan nafasnya pelan.
“Kamu keberatan?!” Tanya thomas dengan menaikkan satu alisnya.
“Enggak kok.” Sahut ibel seraya menggelengkan kepalanya.
“Ya baguslah kalo gak keberatan!” Ketus thomas saat itu juga.
“Nih, uang makan kita!” Imbuhnya kembali seraya memberikan sepuluh lembar uang berwarna merah kepada ibel.
“Untuk berapa hari ini, thom?” Tanya ibel yang menerima uang tersebut.
“Ya sehabis nya saja!” Singkat thomas dengan menaikkan kedua bahunya.
“Ini uang dari ayah atau dari kamu?” Tanya ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Dari ayah lah, kan aku belum kerja..” Sahut thomas dengan menaikkan kedua alisnya.
“Loh, jadi selama ini kamu keluar rumah itu bukan kerja?” Ungkap ibel yang saat itu juga membuat thomaspun terdiam sejenak dan salah tingkah atas ucapannya sendiri.
“E- ya kemarin aku bekerja, tapi setelah kita bertengkar itu akhirnya aku resign dari pekerjaanku! Itu juga karena salahmu, sudah membuat aku frustrasi dan akhirnya memilih resign saat itu.” Sangkal thomas yang harus berbohong dan malah memanipulasi ucapannya.
“Kenapa jadi menyalahkanku, thom?!” Lirih ibel dengan menaikkan satu alisnya.
“Ya memang itu karena mu..” Sahut thomas dengan memalingkan wajahnya sendiri.
“Aneh sekali deh kamu, ck” Lirih ibel dengan sinisnya.
“Beraninya kamu ngatain aku aneh!” Gertak thomas yang telah merubah ekspresi wajahnya menjadi kesal saat itu.
“Ya memang aneh, dengan tiba-tibanya kamu menyalahkan aku seperti itu..” Ujar ibel dengan menaikkan satu alisnya.
“Kamu yang aneh tau gak! Orang aku gak ngapa-ngapain malah dituduh selingkuh udah gitu segala drama bunuh diri lagi..” Sahut thomas yang malah mengungkit-ungkit cerita lama.
Ibelpun menganga mendengar ucapan sang suami, ia sontak menggelengkan kepalanya saat itu juga.
“Ternyata beginilah sifat aslimu ya thom, hebat! Aku gak nyangka loh, ternyata mulutmu melebihi monster. Kamu bahkan masih bisa menyangkal saat kamu bersalah, dan sekarang yang kamu lakukan adalah mengungkit kejadian yang bahkan itu terjadi karenamu sendiri thom!! Dan Stop saying Me drama!!” Ungkap ibel dengan perlahan namun pasti seraya menggelengkan kepalanya.
“Berani-beraninya kamu bicara seperti itu ibel!!!! Jalanggggg kau dasar!! Menuduh aku selingkuh segalaaaa seperti kamu punya buktinya saja!!!” Gertak thomas dengan tangan yang ia kepalkan.
“Aku memang ****** thom, lantas kenapa kamu mau menikah dengan ****** sepertiku? Yang bahkan sudah dihamili oleh lelaki brengsek!!!” Sahut ibel, menohok.
“PLAKKKKK!!!”
__ADS_1
“Badjingannnn!!! Kamu bilang aku lelaki brengsekkkkk!!!” Teriak thomas yang saat itu menampar keras pipi ibel hingga Ibelpun mengeluarkan air matanya.
“Tampar saja lagi thom, bila aku mati ditanganmu pun aku rela.. asalkan kamu merasa puas telah menyakitiku.” Ucap ibel seraya memegangi pipinya sendiri.
“Makanya jaga mulutmu sebelum berbicara! Jangan seenaknya saja kamu menuduh orang.. syukur syukur aku nikahin kamu daripada aku gak mengakui bahwa di perutmu itu adalah anak aku!” Sahut thomas dengan lirikan sinisnya.
“Jahat kamu thom, jahat! Jika aku tau sifat aslimu seperti ini, aku tidak akan sudi menjalin hubungan asmara denganmu!!” Teriak ibel dengan raut wajah frustasinya.
“Yasudah kalo begitu cerai saja sekarang! Sudah tau sifatku seperti ini kan? Menyesal kamu? Hah?!” Ujar thomas dengan santainya.
“Lelaki brengsekkkkk!!!! Badjingannn!!!” Ketus ibel yang saat itu juga sontak berlari menuju kamarnya.
*BRAKKK!!!*
Ibelpun menutup pintu kamarnya dengan kencang.
Gadis itu menangis dengan kencangnya didalam kamar, hatinya begitu hancur saat mendengar ucapan ucapan thomas yang telah menyakiti hatinya itu.
Iapun sangat menyesali perkenalan nya dengan pria berparas tampan namun ternyata berhati iblis itu,
Di tengah kondisinya yang tengah hamil besar, iapun tak bisa berbuat apaapa kecuali bersabar menghadapi ini semua.
“Gue rela kehilangan masa depan gue, teman teman gue dan bahkan dunia gue demi lo! Tapi ternyata yang gue perjuangkan malah lelaki brengsek! Kenapa gue bodoh banget sih!!!” Gerutunya dengan raut wajah frustasinya.
Gadis itupun merasa dirinya tak berguna lagi sebagai makhluk hidup. Namun ia tak ingin mencoba bunuh diri lagi seperti kemarin..
“Nak. Maafkan mama ya, mama telah salah memilih ayah untukmu..” Lirih ibel seraya mengelus lembut perutnya sendiri dengan airmata yang terus membasahi pipinya.
TING\~
Sebuah pesan pun muncul dilayar ponsel ibel, membuat gadis itupun sontak melirik ponselnya tersebut.
TO: Me
“Bel, lo dimana sih sebenernya? Kenapa gak pernah kasih kabar gue lagi? Gue punya salah apa sama lo bel? Sampe lo ngejauh gini.. gue kangen sama lo bel. Kalo gue ada salah sama lo Maafin ya, tapi jangan tinggalin gue tanpa kabar gini dong. Please”
Pov: Ayya adalah sahabat ibel sedari kecil. Ibel bahkan tak memberitahukan alasannya harus menghilang kepadanya itu apa. Karena ibel merasa belum siap jika teman temannya harus tau bahwa dirinya sedang hamil.
“Ayya, gue juga kangen banget sama lo ya. Pengen banget rasanya gue ceritain ini semua ke elo terus nangis dipelukan lo! Tapi sorry, bukan sekarang waktunya lo tau ya.. gue belum siap ngasih taunya.” Batinnya ketika membaca pesan dari sang sahabat.
“Sshhhh\~ Shhh\~ kenapa nasib gue seburuk ini.. gue kangen sama temen temen gue, tapi mana mungkin gue muncul dihadapan mereka dengan kondisi perut gue yang besar kaya gini, yang ada nanti malah gue dijadiin bahan omongan sana sini karena gue hamil duluan.” Gumamnya kembali yang saat itu menangis sesenggukan.
Iapun melempar ponselnya kesembarang arah dikasurnya, lalu ia sendiripun merebahkan tubuhnya diatas kasur tersebut seraya menatapi langit langit yang ada dikamarnya.
Matanya pun perlahan sayup-sayup, wajahnya yang cantik itu terlihat sangat pucat dan tenaganya pun mulai habis saat itu..
Tak lama kemudian, iapun tertidur dikasurnya dengan posisi yang seperti jarum jam dinding.
CEKLEKKK.
Thomaspun melangkahkan kakinya perlahan masuk kedalam kamarnya tersebut, lalu iapun melihat ibel yang sudah tertidur dengan pulasnya
Entah mengapa perasaan iba dihatinya pun tiba-tiba muncul saat melihat ibel sedang tidur dengan raut wajah yang terlihat pucat dan letih.
Pria itupun mendekatkan dirinya ke tubuh ibel yang tertidur dikasur dengan posisi yang entah berantah. Ia sontak memindahkan posisi tubuh ibel dengan benar.
Tangannya pun mulai mengelus lembut wajah sang istri dengan rasa penyesalannya.
__ADS_1
“Maaf ya..” Batinnya seraya menatap wajah ibel dengan tatapan yang penuh arti.
Thomas paling tidak bisa mengucapkan kata maaf kepada seseorang secara terang terangan. Ia akan meminta maaf kepada seseorang dengan cara memperlakukannya dengan baik secara Tiba-tiba.
Perilaku thomas yang susah ditebak itulah yang membuat ibel terus menarik ulur hatinya sendiri sampai saat ini..
*Tak lama kemudian, Thomaspun bangkit dan melangkahkan kakinya meninggalkan ibel yang tengah tertidur pulas sendirian.
Iapun menuju dapur dirumahnya untuk membuatkan masakan yang spesial untuk sang istri.
“Ada bahan makanan apa ya dikulkas.” Gumam thomas yang kemudian membuka lemari esnya tersebut.
“Yah anjir kosong, cuma ada selada lagi..” imbuhnya kembali saat melihat isi lemari esnya yang kosong.
Pria itupun sontak bergegas meraih kunci mobilnya yang menggantung didekat sofa tv nya, lalu iapun melangkahkan kakinya keluar rumah menuju mobilnya.
“Beli roti ajadeh gue, bikin sandwich siang siang gak ada salahnya kali ya..” gumamnya ketika ingin memasuki mobilnya.
Brughhhhh!!!
Thomaspun menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedangnya meninggalkan pekarangan rumahnya menuju supermarket terdekat dari rumahnya tersebut.
Bvroommmmmm\~\~
Saat didalam perjalanannya tersebut, beberapa notifikasi pun muncul dilayar ponselnya.
Iapun sontak melihat pesan yang masuk tersebut ternyata dari teman temannya yang mengajaknya berkumpul disebuah cafe, namun hal tersebut rupanya tak dihiraukan oleh thomas. Ia malah melempar ponselnya itu ke bangku samping kemudinya tanpa membalas pesan yang masuk tersebut.
CITTTT\~
Thomaspun memarkirkan mobilnya tepat didepan supermarket tersebut. Lalu iapun turun dari mobilnya dan bergegas melangkahkan kakinya masuk kedalam supermarket tersebut.
“Nah, kalo pakenya keju ini pasti lebih enak nih.” Gerutunya ketika sedang memilih bahan makanan yang ada dihadapannya.
Thomas memang pandai dalam hal memasak, tak heran jika dirinya sangat mengerti soal bahan bahan makanan apa saja yang akan dibutuhkannya dirumahnya.
“Mbak, saya mau bayar pake debit. Bisa kan?!” Ucap thomas pada sang kasir saat ingin membayar semua belanjaannya.
“Bisa, mas.” Sahut sang kasir dengan ramahnya.
“Totalnya jadi 1,250,000 ya pak, boleh dibantu pin nya.” Ucap sang kasir seraya memberikan alat pembayaran kepada thomas.
“Okey mba, Done ya.” Sahut thomas yang telah mengetikkan pin kartunya tersebut.
*Setelah selesai membayar semua bahan belanjaannya, iapun kembali pulang kerumahnya.
“Mas, kok belanjanya sendirian. Udah punya istri belum?!” Tegur wanita paruh baya saat thomas ingin memasuki mobilnya.
“Hehe, Iyah bu. Istrinya masih dalam rencana Tuhan.” Sahut thomas yang langsung masuk kedalam mobilnya.
Bvroommmmmm\~
Pria itupun menyalakan musik didalam mobilnya dengan kencang seraya menikmati perjalanan yang hanya beberapa menit tersebut.
CIT\~
Iapun memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, lalu iapun turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya seraya menenteng beberapa kantung plastik belanjaannya.
__ADS_1
“Okey, Lets cooking!” Celotehnya dengan semangat didapur rumahnya tersebut.